Kamis, 22 Juni 2017

SAYONARA DI PAPUA NEW GUINEA

Hanya ada 5 provinsi di Indonesia yang berbatasan darat langsung dengan negara tetangga, Kalbar, Kaltim, Kaltara, NTT, dan Papua. Kebetulan Jayapura berada sangat dekat dengan perbatasan, hanya 1,5 jam naik mobil dari kota. Dalam 3 tahun di Jayapura, setidaknya saya sudah 5x ke batas di Skow. Kebanyakan tugas kantor, selain juga karna mengantar teman yang penasaran menginjakkan kaki di Papua New Guinea (PNG).

Menyambut minggu terakhir di Jayapura, saya pengen untuk pergi masuk ke PNG. Selama ini saya secara de jure sudah pernah pergi ke PNG, yaitu masuk beberapa langkah ke tanah perbatasan milik PNG. Namun secara de facto belum, karena belum ke kota terdekat. Istilahnya baru memegang kulit duren, belum belah durennya.




Di PNG, terdapat kota bernama Vanimo yang berjarak 1,5 jam dari batas Skow. Ketika rencana saya untuk pergi sana saya sampaikan ke teman-teman di kantor, ternyata mereka juga pengen ikutan. Saya tahu untuk pergi ke PNG kemungkinan besar adalah Once in a lifetime. Kalau tidak sekarang, kapan lagi.





Akhirnya sabtu 17 Juni kemarin saya bersama dengan 13 teman pergi ke Vanimo. Harus berbanyak biar sharing biayanya murah karena sesampai di wilayah PNG harus sewa minibus seharga 500 kina untuk pulang pergi. FYI 1 kina PNG harganya 4.300-an rupiah.



Untuk dapat masuk ke wilayah PNG seharusnya kita urus visa dulu ke konjen PNG di Jayapura yang berlokasi di Entrop. Gratis. Tapi ya harus ngurus. Sementara kami baru punya rencana pergi ke PNG di hari jumatnya untuk berangkat sabtu. Karena kami punya kenalan di badan perbatasan, kami tidak perlu ngurus visa. Bahkan tidak perlu paspor karena perbatasan skow masih menganut 2 sistem, sistem paspor dan sistem tradisional. Bila menggunakan paspor, untuk masuk PNG ya harus punya visa valid, nantinya akan dapat stempel seperti kalau kita ke luar negeri biasanya. Sementara bila pakai cara tradisional kita hanya diberikan semacam surat jalan. Aku lupa namanya, SUPL atau SPLU atau apa lah itu. Di batas Skow, ada pasar perbatasan yang buka pada hari senin, kamis, dan sabtu. 99% pengunjung pasar adalah warga negara PNG yang beli, bahkan kulakan, barang-barang produk Indonesia. Pedagangnya orang Indonesia. Warga PNG tersebut biasanya masuk hanya berbekal kertas saja yang diotorisasi imigrasi PNG, dan diperbolehkan masuk ke wilayah Indonesia khususnya di pasar itu saja. Masuk Jayapura juga sepertinya bisa.



Setelah dapat surat jalan dari imigrasi, kami masuk ke wilayah PNG tanpa paspor. Di situ ada terminal mini, dimana banyak minibus kapasitas 15 orang (setipe mobil2 travel di Indonesia) yang ngetem menunggu penumpang. Disini kita bisa pilih, mau naik ketengan dengan bayar 10 kina one way, atau sewa semobil seharga 250 kina oneway. Karena pas ber15 (ditambah guide kenalan dari kantor), kami berangkat.

Berbeda dengan jalan dari Jayapura ke batas skow yang lebar dan mulus, jalan ke Vanimo lebih kecil dengan aspal setengah hot mixed. Kami melewati beberapa sungai kecil yang kebanyakan jembatannya hanya berupa jembatan darurat. Bahkan ada beberapa sungai yang tidak ada jempatannya, sehingga mobil harus melewati arus sungai.


 

Dikanan-kiri jalan, saya juga melihat lapak khas papua, yaitu penjual pinang. Sambil lihat sekitar saya berfikir, ini negara PNG jauh lebih miskin dari Indonesia, atau Provinsi Papua pada khuusnya. Sumber utama pendapatan negara PNG adalah minyak dan emas, yang saat ini sudah mulai menurun. Sektor lain ? Tak ada yang bisa diandalkan. Saya berandai-andai bagaimana jika Papua merdeka, apa bisa makmur ? Mungkin kemakmuran PNG akan bisa jadi cerminan Papua bila memutuskan pisah dari Indonesia.


Perlu waktu 1 jam untuk sampai ke Vanimo. Menjelang Vanimo kami melewati perusahaan kayu dengan kayu gelondongan yang besar sekali. Kayu-kayu ini yang akan diekspor ke luar, mentah, tanpa di olah. Banyak orang indonesia yang bekerja di perusahaan2 kayu di PNG.
Kota Vanimo jauuh lebih kecil dibandingkan yang ada di bayangan saya sebelumnya. Kotanya tidak ada apa-apanya bila dibanding Jayapura. Sangat kecil. Terlihat infrastruktur kota yang sejalan dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.



Kami sebenarnya sudah tahu kalau di Vanimo tidak ada tempat wisata yang bagus.Kami kesini hanya mengobati rasa penasaran saja, dan untuk pengalaman once in a lifetime. Tujuan wisata pertama adalah ke Supermarket. Sayangnya kami datang hari sabtu, dimana seluruh supermarket di PNG hanya buka setengah hari di hari sabtu dan minggu. Sementara kami sampai Vanimo jam 12.00 siang. Untungnya masih ada 1 supermarket yang masih buka. Kami segera masuk.
Jangan bayangkan supermarket disini mirip dengan hypermart, atau indomaret. Supermarket disini lebih mirip gedung gudang. Pertama masuk langsung melihat banyak sekali sekuriti. Wajar, tingkat kriminalitas PNG masih relatif tinggi dengan jaminan keamanan yang rendah. Kepemilikan senjata api sangat gampang, bahkan banyak senjata ilegal bertebaran. Sementara pemilik supermarket kebanyakan adalah orang Malaysia atau China. Ada sih orang indonesia, salah satunya kenalan saya Pak Husni yang punya supermarket di Vanimo.


Barang-barang yang dijual di supermarket kebanyakan adalah impor dari malaysia, indonesia, china, sedikit australia, dan lebih sedikit lagi dari produk nasional mereka sendiri. Harganya? Mahal bos. Harga indomie 1 kina, which is 4.300 rupiah. Saya lihat harga-harga lainnya juga relatif lebih tinggi dibandingkan harga di Jayapura. Padahal harga jayapura masih lebih tinggi dibandingkan harga di Jawa. Wajar saja kalau pasar perbatasan di Skow ramai pembeli dari PNG, karna harga murah.
Selesai melihat-lihat supermarket, kami pergi ke pantai. Pantainya tidak begitu bagus, kotor. Padahal katanya ini pantai andalan Vanimo. Masih lebih bagus pantai2 di Jayapura. Kami hanya berfoto sekitar 15 menit di situ. Lalu lanjut ke sebuah bukit yang tidak begitu tinggi untuk melihat view kota Vanimo keseluruhan. Betul dugaanku, Vanimo sangat keciiil. Selesai poto-poto, kami kira masih ada tempat wisata lain, ternyata sudah habis. Ya mau tidak mau kami pulang. Total kami berada di Vanimo hanya 1 jam saja.





Kesimpulan akhir, kalau bertujuan untuk berwisata dan berharap banyak spot wisata yang ditemukan di Vanimo, maka kamu akan kecewa. Tapi kalau tujuannya hanya untuk punya pengalaman sekali seumur hidup pernah pergi ke PNG, tidak ada salahnya mencoba berkunjung ke Vanimo, kota kecil di dekat perbatasan RI-PNG.


Jayapura, 22 Juni 2017
h-2 sebelum pindah
Read More

Rabu, 21 Juni 2017

FROM GARUDA PLATINUM TO KAI PLATINUM

Tak terasa 3 tahun telah berlalu. Dulu saya sama sekali tidak menyangka akan sebetah ini tinggal di Jayapura. Kalau teman-teman membaca tulisanku di FB dalam beberapa bulan ini, saya selalu menyiratkan keinginan untuk pindah. Sekarang keinginan itu sudah dikabulkan, saya mendapat SK mutasi. Tapi sungguh saya merasa terlalu cepat meninggalkan Papua. Dari 4 orang PCPM seangkatan, saya yang harus mengangkat kaki paling cepat dari Jayapura. Sementara yang lain masih dapat kesempatan sampai Oktober.
Setidaknya ada 3 alasan kenapa saya harus bersedih. Pertama, berpisah dengan teman-teman di kantor yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Mungkin perasaan sebagai pendatang yang jauh dari rumah membuat rasa kekeluargaan di kantor sangat erat. Saya paham cara kerja si A, tahu kekurangan si B, mengerti kemauan si C, dst.
Alasan kedua, karena saya pindah ke Tegal yang tidak mempunyai bandara. Sebagai penyuka aviation dan pilot wannabe, bekerja di Jayapura merupakan sebuah anugerah tersendiri. Tugas yang mengharuskan pergi ke kota lain baik di Papua maupun luar Papua menyebabkan saya sering bepergian menggunakan pesawat. Kemanapun pakai pesawat. Hanya 3 kabupaten yang bisa dijangkau menggunakan mobil dari Jayapura. Sisanya tentu saja pesawat.

Seringnya naik pesawat membuat saya mendapatkan miles lumayan banyak. Alhamdulillah 3 tahun ini, garuda miles saya bisalah untuk redeem poin untuk liburan ke Jepang, Berdua, pakai First Class. Saat ini belum tak pake, karna nggak seru naik first class hanya sendirian hhe


 

Sayangnya, perolehan miles ku sepertinya akan berhenti disini. Tegal tidak punya bandara. Bandara terdekat, Semarang, harus ditempuh darat dulu. 5 jam naik bus atau 2,5 jam naik kereta. Kalaupun saya nantinya harus melakukan perjalanan dinas atau mudik, semua harus naik darat. Ke Jakarta ? naik kereta pun hanya 6 jam. Ke Jogja ? Tak ada kereta, hanya bisa naik bus. Sebagai KPw kelas dua, BI Tegal tidak punya wilayah kerja yang seluas Papua. Nanti saya tugas luar kota kemana-mana pasti naiknya kereta. Sepertinya tahun ini saya tidak bisa mempertahankan gelar sebagai Elite Plus member.

Alasan terakhir kenapa saya harus bersedih adalah, karena gaji turun. Huhuhu. Walaupun apa-apa di Jayapura mahal, masih lumayan terkompensasi dengan tunjangan kota dan seringnya tugas luar kota. Namun dengan pindah ke Tegal, gaji saya pasti turun, dan sepertinya turunnya lumayan signifikan.

Tapi dari semua kesedihan itu saya patut bersyukur. Walaupun masih 9 jam perjalanan naik bus ke Jogja, bagaimanapun Tegal sudah berada di Jawa. Mohon maaf kepada para penduduk pulau Jawa, saya numpang untuk menyesaki pulau Jawa yang sudah sangat padat. Kemanapun nanti akan melangkahkan kaki, saya cinta Jawa karena saya orang jawa, berbahasa jawa, besar di jawa, keluarga jawa, berbudaya jawa, berlogat jawa, dan maunya beristri orang jawa :D.

Jayapura, 21 Juni 2017
~menghitung hari kepindahan~
Read More

Selasa, 20 Juni 2017

SELAMAT JALAN PAPUA, SAMPAI JUMPA DI LAIN KESEMPATAN

Terimakasih atas kebersamaannya dalam 3 tahun terakhir ini. Sangat senang sekali diberi kesempatan menjadi bagian dari keluarga besar KPw BI Provinsi Papua. Dulu saya masuk Jayapura dengan tangisan, sekarang tidak menyangka keluar Papua juga dengan tangisan. Mohon maaf bila ada kawan yang pernah tersakiti atau tersinggung selama saya di Jayapura. Mohon doa restu untuk menempuh hidup baru di Tegal.

Aiiih, Jayapura memang akan indah pada waktunya....










Read More

Kamis, 01 Juni 2017

DAN JAYAPURA ITU AKHIRNYA MENAMPAKKAN KEINDAHANNYA.....



Tidak terasa sudah 2 Tahun 10 Bulan saya telah tinggal di kota Jayapura. Walaupun di medsos sering mengeluh dan tersirat ingin pindah dari kota ini, sebenarnya saya enjoy disini. Awalnya saya memang merasa tidak ada yang spesial di Ibukota Provinsi Papua ini, namun dalam minggu-minggu ini baru saya sadari bahwa Jayapura, dan Papua sangat spesial di hati saya. Senja di Jayapura yang biasanya terlihat mendung, akhir-akhir ini terasa sangat indah luar biasa.

Banyak hal yang tidak saya sadari bahwa Papua adalah gift dari Tuhan. Waktu pertama datang saya sering mengeluh dan menanyakan nasib. Kenapa ditempatkan di Papua. Apa salah saya. Tapi ternyata memang Allah menyimpan kado buat saya. Petaka di awal, gembira di akhir. Seiring berjalannya waktu saya merasa bersyukur ditempatkan disini. Setidaknya karena kerja di Jayapura, saya pernah ke sebagian besar daerah di Papua, walaupun belum pernah ke daerah pegunungan kecuali Wamena dan Yahukimo. Mungkin saya tidak akan pernah lagi mendapat kesempatan untuk berkunjung kesana lagi bila bukan karena tugas kantor.

Semua yang berawal pasti akan ada akhirnya. Saya telah mengalami awal di kota yang pernah bernama Sukarnopura ini. Dan saya harus menerima kenyataan bahwa masa berakhir telah tiba. Rumor-rumor di grup angkatan bahwa akan ada mutasi besar-besaran akhirnya terwujud.

Dua hari yang lalu kepastian itu datang kepadaku. Aku dapat SK mutasi. Ya, harus hijrah dari Jayapura. Menuju tempat tujuan baru. Menuju hidup baru. Secepat-cepatnya, karena SK saya bilang bahwa harus pindah paling cepat 1 Juni, hari ini, dan paling lambat awal Juli. Arrhhgg...

Akhirnya perkataan orang-orang dapat saya buktikan, bahwa Jayapura itu akan indah pada waktunya. Tiba-tiba saya merasa sedih. Walaupun memang saya pengen pindah,tapi saya harus mengakui bahwa sebagian hati ini masih tertinggal di Jayapura......





Jayapura, 1 Juni 2017
Read More

Selasa, 02 Mei 2017

RAJA AMPAT, LAGI ?

Untuk kedua kalinya dalam 4 bulan, kembali mengunjungi tempat ini. Dengan spot yang sama, tour guide yang sama, dan homestay yang sama. Apa raja ampat worth untuk dikunjungi kedua kalinya? Jawabannya tergantung, tergantung spot yang dikunjungi, tergantung bisa diving atau nggak, dan paling utama tergantung sama siapanya. Overall, trip ke raja ampat kali ini dalam rangka gathering kantor saya merasa de ja vu.




Read More

Sabtu, 22 April 2017

POS PERBATASAN, THANKS JOKOWI

Hari ini nganter teman ke perbatasan. Sudah beberapa kali saya ke sini, terakhir 8 bulan yang lalu tapi pos perbatasan yang baru belum selesai dibangun. Kali ini saya ke sana sudah selesai dan siap diresmikan.

Sekali-kali saya pengen ngucapin #terimakasihJokowi


Read More

Kamis, 20 April 2017

ABAHKU SAYANG, ABAHKU MALANG

 





























Mungkin kalian terlalu sibuk dengan permasalahan di Jakarta. Saling klaim mana yang bersih dan anti koruptor. Mana yang bisa bangun Jakarta dengan baik dan cepat. Mana yang program-programnya bisa direalisasikan bukan janji semata. Mana yang dapat memimpin dengan hati. Mana yang berang labrak birokrasi. Mana yang dapat bekerja dengan efektif dan das des set set set.

Tapi pernahkah kalian tahu bahwa di Surabaya sana, saat ini seorang yang dulunya sangat benci dengan korupsi, sangat tidak suka dengan birokrasi yang lelet, yang sangat ingin membawa Indonesia menjadi negara maju, yang walau cuma lulus SMA tapi mempunyai ide dan pengetahuan seluas samudra, sedang dikriminalisasi sedemikian kejamnya?

Walau saya bukan warga Jakarta, ijinkan saya mengucapkan selamat untuk Pak Anis dan Sandiaga Uno. Saya ucapkan pula terimakasih untuk pak Ahok-Djarot atas kerja kerasnya selama ini. Tapi saya masih harus berdoa, untuk kesehatan dan kemudahan, serta keadilan bagi abah saya tercinta Dahlan Iskan yang akan dibacakan putusan pengadilan dalam kasus PT PWU. Semoga besok keadilan dapat ditegakkan setinggi-tingginya.

#saveDahlanIskan #alfatihah

Read More

Jumat, 14 April 2017

LABUAN BAJO

Ketika kalian merasa bosan dan kekurangan ide di kantor, travelinglah... Buka mata, hati, dan telinga untuk melihat kebesaran-Nya

Tapi jangan lupa bawa laptop sapa tau bosmu telpon minta kerjaan deadline !! Xixixixi....

Sesampai di puncak, terkadang kita perlu menengok ke belakang untuk dapat mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita, sementara teman banyak yang sedang meniti jalan menuju puncak





Read More

Minggu, 09 April 2017

TAWAR NANGKA MAMA PAPUA


 
 

Jarang ada yang tahu kalau selain mahal biaya hidup untuk makan minum, tinggal di Papua juga akan merasakan mahalnya harga buah-buahan. Sebagai seorang fruit lover, saya cukup tersiksa dengan keadaan ini. Sejak kepindahan ke Papua hampir 3 tahun yang lalu, mahalnya buah-buahan menjadikan asupan gizi nabatiku berkurang drastis, sementara hanya ada asupan karbohidrat dari nasi. Hasilnya adalah perut saya yang membuncit seperti sekarang :D.

Kenapa harga buah-buahan di Papua mahal? Salah satunya adalah karena harus didatangkan dari daerah luar Papua. Namun itu sebenarnya bukan alasan karena buah-buahan produksi lokal pun harganya mahal gila. Contohnya adalah durian. Saya sangat suka durian melebihi buah apapun di dunia ini. Tapi harganya luar biasa mahal. Di beberapa daerah penghasil durian seperti manokwari atau biak, memang pas musim durian harganya bisa hanya Rp5ribu sebuah, namun di luar daerah itu harga mahal gilaak.

Musim durian taun ini adalah yang terparah karena di kedua daerah tersebut pohon durian sama sekali tidak berbuah. Entah kenapa. Tapi yang pasti harga buah ini menjadi mahal sekali. Harga durian di Jayapura pada musim durian akhir taun kemarin adalah Rp80ribu. Bukan 80ribu per buah, tapi 80ribu per KILO. Ya, harganya 80ribu per KILO. Tentu dengan rasionalitasku tidak akan membeli durian di Jayapura. Alhasil saya tidak pernah makan durian pada musim durian terakhir kemarin di Jayapura. Tapi alhamdulillah saja karena lagi sering pulang ke Jogja, saya beli duriannya di Jogja, hheheh..

Di antara sekian banyak buah lokal yang mahal, ada 2 jenis buah yang harganya murah. Seringkali harga buah Jeruk di Jayapura murah sekali, mencapai Rp5ribu per kilo, dan stabil di harga 15-20rbu per kilo. Selain itu harga pisang juga lumayan murah, sekitar 10-20ribu per sisir.

Namun untuk buah lokal lainnya, walaupun produksinya lokal namun harga mahal. Contohnya nangka. Harga nangka di Jawa setahuku murah, selain karna orangnya "nriman" dengan harga pasaran, pohon nangka juga banyak. Tapi di Papua yang tanahnya super subur, harga nangka mahal minta ampun. Apalagi kalau yang jual mama-mama papua, harganya lebih mahal lagi.

Beberapa waktu yang lalu saya beli buah nangka di mama-mama papua dekat rumah. Saya tahu kalau beli disana harga relatif mahal. Saya coba bertanya " Mama pu nangka ini berapa harganya ee ?" saya bertanya.

Mama menjawab " Yang ini harganya 75ribu" sambil menunjuk nangka ukuran 1/2 potong ukuran agak besar, dan berkata lagi "Kalo yang ini harga 50ribu" si mama menunjuk ukuran yang agak kecil ukuran 1/4 potong.
"Baah, mahal sekali mama eee. Masa ini semangka harganya sama dengan sekantong pinang. Sa beli nangka yang ini, tapi harga 40ribu ee ?" saya coba tawar nangka yang tadinya ditawarin 75ribu.
"Tidak bisa adek, ini nangka tunggu besarnya lamaa sampe," kata si mama tidak mau ditawar.
Saya tanya lagi" Ini nangka manis kah ma?". "Ya tentu manis lah adek, ini nangka masak di pohon, sa petik tadi pagi".
Saya coba rasa satu biji, dan memang enak dan manis nangkanya. Kelihatan masak di pohon.
"Memangnya mama pu pohon dimana?" saya kepo.
"Ini adek liat di belakang ada pohon nangka" si mama sambil nunjuk pohon belakang.
"Baah, ini pohon siapa ma ? Mama pu rumah di sini kah?"
"Aah tidak, sa pu rumah di bawah sana, tapi saya su jualan disini su lama sekali. Jadi ini pohon su seperti pohon mama sendiri".
Saya langsung tepuk jidat dengar jawaban itu.
"Hadooh mama ngawur sekali. Ini pohon nangka bukan punya mama, sudah saya beli yang ini 50ribu saja ee? Kasih ya? Kalo tidak saya tra jadi, sa bawa uang hanya 50ribu saja" saya coba tawar lagi sambil ngeluarin uang yang memang cuma bawa 50ribu.
"He adek, ko tanam nangka saja sendiri, tunggu sampee tua. Ko tra bawa tanah dari jawa sana to. Ni nangka masak di tanah kita sendiri. Ya sudah ko bawa pulang ini nangka 60ribu saja" si mama masih hanya menurunkan harga 15ribu dari tawaran semula.
Saya pun balas " Ya sudah mama, sa hanya bawa uang 50ribu, tra jadi saja ya" saya sambil balik kanan menuju motor.

Motor sudah mau saya nyalakan ketika terdengar " Heii adek ya sudah, 50ribu boleh laaah, ini su sore mama mo pulang". Yes akhirnya dapatlah nangka setelah perjuangan tawar menawar yang tidak mudah. Mbok ya dari tadi ngomongnya.

DPS, 9 April 2017
Read More

Jumat, 24 Maret 2017

2 TAHUN LALU....


Dalam 3 bulan terakhir alhamdulillah saya diberi kesempatan 5x untuk pulang ke Jogja, baik dalam rangka tugas kantor atau karna tugas pribadi. Biasanya pulang ke Jogja pas ada dinas ke Jakarta. Namun kali ini saya pulang ke Jogja pakai tiket sendiri, dan alhamdulillah dapat tiket dengan hanya membayar 50ribu rupiah saja. Bukan tiket error, tapi karena redeem point. Hanya 10.000 poin saja, ditambah uang 50ribu rupiah. Thanks for FlyingBlue..

Karena kalau redeem tiket langsung ke Jogja membutuhkan poin 2x lipat, saya pilih hanya sampai surabaya saja, lalu lanjut naik bus malam 8 jam. Capek ? tentu saja, tapi demi menghemat pengeluaran ya dengan senang hati saya jalani.

Sambil menunggu di lounge, saya jadi ingat, hari ini, 2 tahun lalu, 24 Maret 2015 adalah hari dimana teman seperjuangan saya, Aperiden Akbar, a.k.a Deden, meninggal dunia karena kecelakaan. Saya pernah menulis betapa luar biasanya pribadi Alm. Deden ini satu bulan yang lalu, silakan buka timeline FB saya jika belum membacanya. Namun saya belum pernah menceritakan kronologis lengkapnya kecuali kepada beberapa teman dekat. Bila membaca di surat kematian yang dikeluarkan polisi, Alm. Deden mengalami kecelakaan tunggal. Bila membaca keterangan official yang dikeluarkan oleh DSDM BI, beliau meninggal dalam tugas kedinasan. Tapi mungkin saya yang paling tahu behind the scene pra dan pasca kejadian tersebut. Cerita ini saya tulis agar dapat menjadi pengingat bagi saya bahwa lahir, mati, jodoh, dan rezeki itu di tangan Allah azza wa jalla. Saya tidak akan pernah melupakan hari itu.
~~~~~~~~~
Sore itu saya masih berkutat pada pekerjaan. Adanya tugas kantor untuk berangkat ke Wamena keesokan harinya dalam rangka kajian pembukaan Kas Titipan yang membuat saya bersemangat. Itulah kesempatan pertama saya untuk mengunjungi Wamena, kota eksotis di pegunungan tengah. Kata orang, belum lah sah mengklaim pernah mengunjungi Papua kalau belum pergi ke Wamena. Di kota ini lah setiap tahun diselenggarakan festival internasional Lembah Baliyem, yang menarik banyak sekali wisatawan terutama wisatawan mancanegara. Sayangnya saya ke Wamena bukan pas waktu festival lembah baliyem berlangsung. Karena mendadak, saya harus mempersiapkan semua hal, sendirian. Saat itu baru 4 bulan diangkat pegawai sehingga semua masih terasa baru bagi saya dan belum bisa bekerja cepat.

Siang sebelumnya, Deden bercerita kalau mau ke bandara keesokan harinya untuk menjemput konsultan UMKM. Namun karena semua driver kantor sudah dipakai kegiatan lain, Deden tidak mendapatkan mobil dan driver. Sudah diingkatkan oleh pimpinan bahwa tidak perlu dijemput karena sudah ada penjemputan dari pihak hotel, namun seperti biasa, Deden ngeyel. Akhirnya Deden disepakati akan ikut jemput ke bandara dengan numpang mobil yang akan mengantar saya ke bandara.

Walaupun masih disibukkan dengan persiapan dinas, saya punya ide untuk nonton bioskop. Kalau tidak salah filmnya adalah Insurgent. Saya hubungi 4 kawan lainnya. Mereka mau. Tapi karena ternyata sampai menjelang maghrib pekerjaan belum selesai, saya bilang ke yang lain kalau malam itu batal nonton. Yang lain setuju karna kerjaan jg banyak yg belum selesai. Namun Deden, yang biasanya kerja sampai larut malam, ngotot untuk tetap nonton malam itu dan menghasut yang lain. Saya menolak dengan alasan besok saya akan dinas ke Wamena flight pagi jam 7 dimana harus berangkat dari rumah maksimal jam 5.30. Namun akhirnya dengan hasutan Deden kami berlima jadi nonton film juga tapi ambil jam tayang paling malam, jam 21.30. Sebelum nonton, Deden mengajak kami makan malam dulu di Solaria. Karena pekerjaan belum selesai, saya skip makan malam dan janjian langsung ketemu di dalam bioskop. Malam itu kami baru selesai nonton film pukul 23.30 dan langsung pulang ke rumah karena tiga orang diantara kami harus pergi ke bandara pukul 05.30.
~~~~~~
Alarm berbunyi pukul 5.00. Saya mau pergi ke masjid tapi sudah kesiangan. Biasanya, saya membangunkan rekan bila mau pergi dinas pagi hari untuk memastikan dia sudah bangun. Maklum, sebagai teman seperjuangan yang sama-sama masih single, biasanya tidur malam bangun siang. Tapi entah kenapa pagi itu saya tidak membangunkan Deden, karena dia biasanya bangun pagi agar subuhnya tidak kesiangan. Selesai subuh dan mandi pukul 5.30, driver kantor sudah membunyikan klaksonnya di depan rumah. Pagi itu saya berangkat dinas bersama dengan Nadhil yang hendak ke Makassar, Mas Yudi ke Jakarta, dan juga Deden yang mau jemput tamunya.
Saya ketok rumah Deden untuk mengajak segera masuk ke mobil karena waktu sudah mepet. Diketok beberapa kali baru dia keluar dengan muka kucel, “Riel, kalian duluan saja, aku baru bangun ini, belum sholat dan belum mandi”. Deden memang sering panggil saya dengan nama Ariel, mungkin karena dulu pernah saya ceritain sewaktu kecil ada orang yg bilang aku mirip ariel peterpan. Wkwkwkwk. Saya balas jawaban deden “Nggak papa den, kita tungguin kok, tapi cepet ya mandi dan solatnya”. “Enggak riel, kalian duluan saja entar telat pesawatnya, aku gampang lah nanti”.

Akhirnya saya dan nadhil ke rumah sebelah dulu untuk jemput mas Yudi. Setelah itu balik lagi ke rumah Deden. Saya panggil dan ketok lagi rumahnya, tapi dia tidak balas. Saya masuk, Deden sedang mandi. “Den, ayo aku tunggu yoo, santai saja bro ni masih jam 5.45”. Deden bales “Enggaaak riel, kalian duluan, serius, aku marah lo kalo kalian nunggu, nanti kalian telat Cuma karna nunggu aku, aku nanti gampang lah ke bandaranya”. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat duluan.

Sampai di bandara kami memang sudah last minutes, pintu check in sudah mau ditutup. Setelah menunggu di ruang keberangkatan selama beberapa menit, panggilan boarding terdengar. Saya yang paling pertama naik pesawat menuju ke Wamena, sementara nadhil dan mas yudi masih nunggu pesawat ke biak. Pintu pesawat sudah hampir ditutup dan saya pegang HP untuk di airplane-mode kan. Hampir jari saya tekan tombol off ketika tiba-tiba mas Sandy protokol telepon saya, “Mas Enggar posisi dimana ?”. Saya jawab “Saya sudah di pesawat mas, ini dah mau pushback pesawatnya”. Mas sandy langsung bilang “Mas, jangan berangkat, langsung balik ke kantor mas, hari ini semua dinas dibatalkan”. “Kenapa mas?”tanya saya yang masih belum tahu alasannya. “Deden kecelakaan mas tadi menuju ke bandara”. Saya belum paham, dan dikira Cuma kecelakaan jatuh biasa. Dengan terpaksa saya balik kanan dan bilang ke mugari kalau nggak jadi terbang.

Sampai di pintu kedatangan, saya disambut mas Yudi dan nadhil dengan wajah muram. Saya bertanya ke nadhil “Deden kenapa ? Kecelakaan dimana ? Nggak apa-apa kan?”. Mas Sandy tanpa ditanyapun menjawab “Mas, deden meninggal”. Saya masih menganggap itu guyon “Meninggal gimana ? kan Cuma kecelakaan kecil, to?”. “Iya mas, Deden tadi jatuh dari motor pas mau ke bandara”. Pikiranku melayang entah kemana, bingung, dan dengan sendirinya air mata ini keluar dengan deras. Bagaimana bisa tadi, 1 jam sebelumnya, saya baru saja ngomong dan bertemu dengan deden, tiba-tiba mendenger Deden meninggalkan kami selamanya. Dengan setengah tidak percaya saya buka HP ternyata di grup angkatan PCPM sudah ramai info menyebar. Saya ditelepon mas bedur ketua angkatan, semakin menjadi-jadi lah tangis saya. Saya, nadhil dan mas yudi langsung menuju ke rumah sakit tempat almarhum Deden coba diselamatkan. Sesampainya beberapa teman kantor sudah berada di sana. Kami diperlihatkan jenazah beliau. Ahh benar, akhirnya saya percaya kalau teman seperjuangan di Papua itu, teman yang selalu menghibur saya ketika bersedih karena ditempatkan di Papua, teman yang selalu semangat diajak jalan-jalan keliling Papua itu telah tiada.

Mungkin kalau pagi itu saya lebih bersabar menungu Deden selesai mandi, ceritanya akan lain. Mungkin Deden masih dengan semangat menemaniku jalan-jalan keliling Papua kalau saja saya lebih keras kepala tidak mengiyakan permintaannya untuk berangkat duluan. Terkadang saya menyalahkan diri sendiri kenapa waktu itu tidak membangunkan Deden dulu ketika bangun tidur pagi itu. Namun, pada akhirnya saya harus percaya pada takdir Allah, karena kematian tidak akan datang lebih cepat atau lebih lambat, karena telah ditulis sebelum kita dilahirkan. Selamat jalan kawanku...

Jayapura, 24 Maret 2017

Read More