Pulang Kampung naik motor, 23 Desember 2009

Rabu, 23 Desember 2009 adalah hari terakhir ujian akhir semester. Hari itu yang diujikan adalah Statistika Ekonomi, mata kuliah yang paling aku takuti di semester 1 ini. Lain dengan hari-hari sebelumnya dimana pikiran selalu terbebani dengan ujian yang akan dihadapi, hari itu aku benar-benar merasakan lega dan rasanya seperti sudah habis beban yang aku tanggung, walau masih ada ujian StatEk jam 13.00. Bau durian di rumah seakan-akan sampai di hidung.
Jam 11.00 aku siap2 dan packing segala yang aku butuhkan untuk pulang. Sengaja memang aku bawa hanya sedikit barang agar muat dalam satu tas OSNku yang kecil. Jam 12.00 setelah sholat di mushalla lorong, aku siap berangkat. Dengan membaca Basmallah dan doa keluar rumah, aku tinggalkan kamar asramaku setelah memastikan semuanya siap ditinggalkan dalam jangka waktu sebulan.
Ujian Statek selesai jam 15.30. Walaupun merasa bisa ngerjain, aku tetap ngrasa takut dengan nilai akhirku, yang harapanku hanya dapat B+ aja udah seneng. Walaupun begitu, aku tetep semangat dan gembira karena akan segera pulang ke Jogja. Segera menuju MuFe (Mushalla FE) dan kuambil air wudhu. Tak lama kemudian adzan segera berkumandang. Singkat cerita, selesai sholat dan dzikir secukupnya, aku pamitan pada temen2 yang ditemui di MuFe, dan segera menuju terminal Depok.
Sesampai di terminal, karena perut udah memanggil minta diisi, maka kuputuskan beli bakso satu mangkok dulu. Harga 5000 per mangkok, cukup murah untuk ukuran kota hinterlar Jakarta seperti Depok. Masuk ke bis MGI jurusan Depok-Bandung dengan harga 45ribu. Perjalanannya sangat membosankan karena ada si komo lewat,walaupun udah lewat tol. Perjalanan depok-bandung yang normalnya hanya 2,5 jam lewat tol cipularang, molor jadi 4 jam (berangkat jam 5 sore dan sampai jam 9 malem).
Sampai di bandung dijemput Lukman (A.K.A Toha a.k.a. Om Girang ), teman satu SMA yang sekarang kuliah di FTTP ITB. Diajak makan nasi goring solo yang porsinya Suupper Banyak. Sampai di kontrakan, langsung tidur. Jam 1 terbangun, lupa belum sholat isya(hehe…payah).
Jam 5 bangun, shubuh, trus makan nasi goring sisa kemarin malem. Nganterin Tikam ke tempate Nabil. Selesai itu, langsung mandi dan siap2 memulai perjalanan agak panjang ke cilacap. Jam 8.30 sudah siap berangkat. Setelah melaksanakan ritual , yaitu poto poto, kami berangkat. Seperti apa yang telah diprediksi, jalanan macet. Akan tetapi si komo Cuma lewat di jalan2 sekitaran bandung aja. Keluar bandung jalan udah sepi dan lenggang. Kami mampir di sumedang dulu untuk sarapan karena toha belum sarapan. Melanjutkan perjalanan lagi dengan speed 80-100 km/jam, kami sampai di daerah tasik jam 11an.
Sepanjang perjalanan, karena hanya sebagai pembonceng, aku merasakan rasa kantuk menghinggapi. Akan tetapi rasa itu hilang karena pemandangan yang menakjubkan (halah, alay mode:on ). Tapi sungguh ketika itu pemandangannya bener2 indah, kalau nggak salah saat itu kami sampai di daerah antara Tasik dan Majenang. Teringat akan firman Allah
      Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Sungguh betapa banyak nikmat Allah yang telah aku lupakan dan selalu merasa kurang atas apa yang telah diberikan-Nya.
Jam 13.00 mampir di sebuah Pom bensin di daerah Majenang untuk istirahat dan sholat. Singkat cerita karena disingkat, kami sampai di rumah Lukman jam 15.30. Selesai istirahat bentar, makan, dan sholat, Lukman ngajak main ke teluk Penyu. Malamnya jam 7 sudah tertidur sebelum kami sempat sholat isya. Jam 11an terbangun, langsung mbangunin lukman dan kita sholat isya di tengah malam.
Paginya, jam 9.30 kami siap berangkat meneruskan perjalanan ke jogja. Karena hari jumat, jam 11.30 kami berhenti di sekitaran Buntu, untuk sholat jumat. Setelah selesai dan kami melanjutkan perjalanan. Awan mendung sepertinya selalu mengikuti kami sampai puncaknya di timur kebumen hujan deras mengguyur membasahi kami. Walaupun begitu, perjalanan tetap dilanjutkan walau harus mengurangi kecepatan menjadi 70km/jam.
Sore jam 15.30 kami tiba di rumah neneknya Lukman. Habis itu lukman nganterin aku pulang , dan selesai sudah cerita mengenai perjalanan Jakarta-jogja via Motor Supra-X 125 ..

Pemuda, Lamaranmu Aku Tolak !

Aku dapet cerita ini dari facebook...
Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah.
Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.
Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.
Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut'
sang perempuan muda, dari sisinya.

"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang setengah baya.
"Iya, Pak," jawab sang muda.

"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? " tanya sang setengah baya
sambil menunjuk si perempuan.
"Ya Pak, sangat mengenalnya, " jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
"Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak
bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model
seperti itu!" balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal
sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu."
"Lamaranmu kutolak. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung' kan, aku
takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya,
keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang
lelaki muda. Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."
"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.
"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di
Kampus," jawab sang muda, percaya diri.
"Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?"

"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat."
"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok
mau ngatur keluargamu?"

Sang perempuan membisik lagi, membantu, "Ayah, dia pinter lho."
"Kamu lulusan mana?"
"Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus
terbaik di Indonesia lho Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM
ini tho? Menganggap saya bodoh kan?"

"Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya
saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak."
"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?"

Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."
"Jadi kamu sudah bekerja?"
"Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera
jualan produk saya Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu."

"Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak
terlalu laku."
"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,
kalau kerja saja nggak becus begitu?"

Bisikan kembali, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."
"Rencananya maharmu apa?"
"Seperangkat alat shalat Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf."

"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan
uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."

Bisikan, "Dia jago IT lho Pak"
"Kamu bisa apa itu, internet?"
"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak
saya nge-net."
"Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan
anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."

"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak."
"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,
Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu."

Bisikan, "Tapi Ayah..."
"Kamu kesini tadi naik apa?"
"Mobil Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya
Riya'. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik."

"Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"
"Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini
namanya payah. Memangnya anakku supir?"

Bisikan, "Ayahh.."
"Kamu merasa ganteng ya?"
"Nggak Pak. Biasa saja kok"
"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini."

"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"

Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan
soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang
muda yang sudah menyerah pasrah.

"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh
juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.
Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula."

Sang setengah baya tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu
cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja
pun, aku masih tertatih."
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

Gimana? bagus kan ceritanya ?