Sabtu, 18 Februari 2012

Sebuah cerita dari Borneo


Sebelumnya tidak pernah terlintas dipikiran saya untuk jalan-jalan ke Kalimantan. Di pulau tersebut  memang tidak terlalu terkenal dengan wisatanya. Yang ada di benak saya waktu mendengar pulau Kalimantan adalah 3 kata, yaitu hutan, tambang, dan mahal. Kalau tidak karena iming-iming tiket promo citilink, maka niscaya saya tidak akan mengunjungi pulau borneo tersebut, kecuali kalau kelak ada urusan kerja. Tetapi semua berubah ketika pada tanggal 2 November 2011 ketika saya iseng membuka web citilink dan menemukan bahwa sedang ada promo 69ribu all destination. Waktu itu tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi teman saya yang tinggal di Bontang Kalimantan Timur untuk memberitahu adanya tiket promo super murah tersebut  untuk pulang liburan semester dan juga saya akan ikut serta menyusul ke sana, alih-alih silaturahmi :D. Singkat cerita, saya dan teman saya telah memesan tiket citilink tujuan Balikpapan seharga 158ribu rupiah pulang pergi.
Waktu pun terus berlalu, masa liburan semester telah dimulai, dan sebelum ke Bontang, saya melakukan backpacking 21 hari ke Thailand, Singapore, dan Malaysia terlebih dahulu. Dan waktu keberangkatan ke Bontang pun tiba. Rabu 8 Februari 2012, saya berangkat dari kos menuju pasar minggu pukul setengah lima pagi untuk naik bis Damri bandara. Saya harus berangkat sepagi mungkin karena pesawat take off jam 7.00 WIB dan kalau kesiangan takut kejebak macet di Jakarta.  Waktu yang dibutuhkan Bus dari pasar minggu ke bandara hanya 45 menit karena Jakarta pagi itu masih sangat lenggang.
Pesawat citilink bertipe Airbus A320, sebuah pesawat yang sangat familiar bagi saya karena kebiasaan saya menggunakan AirAsia yang juga menggunakan pesawat tipe A320 juga. Akhirnya setelah sekian banyak naik pesawat, saya bisa duduk di kursi yang kalau di AirAsia bernama kursi Hot Seat, yaitu kursi di depan sendiri. Saya duduk di seat 1A, yah, kursi paling depan sendiri, berhadap-hadapan dengan pramugari citilink yang cantik-cantik :d. Waktu yang dibutuhkan dari Jakarta menuju Balikpapan adalah sekitar 2jam, dan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat karena Balikpapan menggunakan WITA.

Rencana awalnya sih saya akan keliling Balikpapan dulu dan menginap di rumah kenalan dari couchsurfing. Akan tetapi sehari sebelum keberangkatan sewaktu saya sms dia mengabari kalau ternyata dia sedang berada di hutan menemani temannya yang dari luar negeri. Akhirnya saya putuskan hanya mampir saja di Balikpapan dan hari itu juga langsung menuju bontang. Sebenarnya, cara gampang menuju Bontang adalah menggunakan travel yang banyak tersedia di depan bandara, tetapi karena jiwa muda saya yang menggelora, saya memilih menggunakan Bus, “ngecer” dari Balikpapan ke Samarinda dulu, baru dilanjutkan ke Bontang. Jarak bandara ke terminal bus Balikpapan cukup jauh dan saya menggunakan ojek 20ribu. Bus ke Samarinda adanya non-AC dan seharga 21ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu 2,5 Jam. Setiba di terminal Samarinda pukul 13.00 WITA, saya makan dulu karena lapar, dari pagi belum makan apa apa.  Ternyata benar kata orang-orang bahwa di Kalimantan tuh apa-apa mahal. Saya Cuma makan soto ayam aja harganya 10ribu.
Selesai makan, saya bertanya ke penjualnya bagaimana cara menuju ke Bontang. Ternyata bus ke bontang tidak “ngetem” di terminal tersebut, tetapi di terminal Lempake yang berjarak 20km. Saya ke sana menggunakan angkot yang disana dinamakan Taksi. Di dalam perjalanan, saya ingat cerita teman bahwa ada kawasan Islamic Centre di Samarinda yang konon katanya lebih besar daripada Istiqlal dan merupakan masjid terbesar se-Asia Tenggara. Karena penasaran, ketika di tengah perjalanan melihat masjid besar tersebut, saya langsung turun dan bayar angkot 3ribu.

 


Puas melihat-lihat Islamic Centre samarinda, saya bergegas naik angkot ke terminal Lempake. Untuk menuju terminal tersebut saya harus ganti angkot di pasar pagi. Sampai di Lempake, sudah ada bus jurusan Bontang yang sedang “ngetem” di depan terminal. Menunggu bus berangkat sekitar 1 jam, dengan ongkos 20ribu rupiah. Di dalam perjalanan, saya ngobrol dengan ibu-ibu yang duduk  di samping saya. Awalnya ngobrol dengan bahasa Indonesia, tetapi lama kelamaan ibunya tahu kalau saya berasal dari Jawa. Diajak lah ngomong pake bahasa jawa, dan ternyata eh ternyata, ibu tersebut berasal dari Bantul Jogja dan punya rumah di Tempel Sleman, dekat rumah saya. Wah ternyata dunia begitu sempitnya yaah. Oh ya, jalan Samarinda-Bontang tidak sebaik  Samarinda-Balikpapan, selain jalannya Cuma 1 lajur kecil, banyak lubang-lubang di tengah jalan. Tidak terasa  perjalanan 3 jam menuju Bontang udah dilalui, sesampai di Bontang pukul 19.00 WITA langsung sms teman dan dijemput di terminal. Ternyata rumah teman saya yang bernama Irsyad tidak jauh dari PC Pupuk Kaltim. Malam itu saya masih sempat jalan-jalan di sekitar rumah Irsyad.
Bontang adalah kota kecil yang hidup dan besar dari dua perusahaan besar, yaitu PT Pupuk Kaltim dan PT Badak. Untuk mengelilingi kota ini dari ujung ke ujung memakan waktu tidak lebih dari 1 jam. Dan saya awalnya berpikir bahwa di Bontang ada beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi, tapi ternyata hampir tidak ada tempat yang menarik di Bontang. Selama 4 hari disana, saya mengunjungi beberapa tempat yang mungkin bagi sebagian orang sangat tidak menarik, antara lain :
1. Bontang Kuala
Bontang Kuala sebenarnya adalah sebuah kecamatan. Akan tetapi yang menarik disini adalah adanya kampung bontang kuala yang semua wilayahnya berada di atas rawa-rawa pinggir laut. Jadi karena disana pinggir lautnya tidak berupa pasir atau tanah, tetapi berupa rawa yang lembek dan kalau malam air laut pasang, jadi semua warganya membangun rumah, aula, jalan, dan masjid diatas rawa tersebut menggunakan kayu sebagai alas dan pasaknya. Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak pohon yang ditebang untuk membangun perkampungan warga tersebut karena semuanya terbuat dari kayu.

Kalau malam, air laut pasang, menjadikan pemandangan yang cukup erotis dan menarik. Suasana itu semakin menarik karena banyak warung-warung makan di pinggir pantai sehingga bisa menikmati suasana pantai di malam hari sambil makan makan. Sebenarnya kalau datang kesana dengan seorang pujaan hati menjadi sangat romantis, diterpa semilir angina laut dan diterangi sinar rembulan :LOL:.Akan tetapi sayang sekali karena saya datang kesana bersama Irsyad, bukan bersama pujaan hati saya, hhehehe.
2. Kompleks Pupuk Kaltim
Kompleks PT Pupuk Kaltim sangat luas, punya stadion di dalamnya, perumahan pegawai (PC), danau kecil, taman bermain, rumah sakit, golf, hotel, fasilitas olahraga, dan lain-lain. Tidak ada yang menarik disini.
3. Berbas Pantai
Awal ceritanya, karena mau cari pantai yang benar-benar “pantai” yang mempunyai pasir, saya dan Irsyad memutuskan untuk keliling kota bontang. Irsyad sendiri walaupun besar di Bontang, tetapi orangnya tidak suka jalan-jalan jadi kotanya sendiri saja tidak paham daerah-daerahnya. Begitu melihat ada tulisan papan petunjuk ke Berbas Pantai, saya ingin kesana. Sesampainya disana, bukan pantai berpasir yang dijumpai, ternyata hanya perkampungan diatas rawa, dan yang lebih parah lagi ternyata daerah itu adalah red light area, karena dimana-mana terdapat rumah karaoke dan para pekerjanya.
4. Restoran Singapura

Pengen poto bersama patung singa merlion yang tersohor itu ? Nggak usah jauh-jauh ke Singapore kalau cuma itu, karena di Bontang saja kalian bisa poto dengan patung merlion KW 3.. :d. Patung merlion tersebut terletak di restaurant Singapura.  

Ternyata di Bontang kebanyakan penduduknya adalah orang jawa juga. Tiga kali saya membeli sesuatu disana, tiga kali juga dijawab dengan bahasa jawa oleh penjualnya. Sewaktu di masjid juga kebanyakan jamaah ngobrol dengan jamaah lain memakai bahasa jawa. Pada suatu kesempatan, selepas sholat isya saya membeli nasi goring di depan rumah Irsyad. Begitu mau membayar, saya mengeluarkan uang 10ribu, eh ternyata harganya 12ribu. Waaah, mahiiil amiir…  Oh ya, mengenai masjid, ada cerita menarik yang sudah saya tulis di blog ini, yaitu disini.

Pada hari ketiga di Bontang, teman saya, Icu, datang dari Jakarta ke Bontang untuk suatu urusan. Kita sepakat bertemu dan jalan-jalan bareng dan membeli oleh oleh di daerah Berbas. Sebelum pulang ke Jakarta, saya menyempatkan untuk membeli buah yang hanya ditemui di pulau Kalimantan saja, yaitu buah Leh dan Cempedak. Mungkin di pulau lain ada juga buah tersebut tetapi sangat jarang. Buah cempedak lebih mirip dengan buah nangka tetapi dengan rasa dan bau yang menyerupai duren. Rasa dagingnya yang enak dan harganya yang tidak mahal, hanya 5ribu rupiah saja. Buah yang satunya adalah buah Leh, sangat mirip dengan buah Durian, tetapi bedanya adalah duri di kulit buahnya tidak terlalu tajam seperti duren. Selain itu, warna dagingnya tidak kuning, melainkan orange. Rasanya hampir mendekati duren, dan tetap terasa nikmat walaupun masih enakan buah duren.

Hari minggu malam, tibalah saatnya berpisah dengan keluarga Irsyad yang sangat baik kepada saya selama 4 hari nginap dirumahnya. Malam itu pukul 11 p.m. saya dan irsyad berangkat menuju Balikpapan menggunakan travel. Dan  travelnya serasa nyewa mobil sendiri karena satu mobil cuma berisi 3 orang saja, yaitu saya, Irsyad, dan Icu. Perjalanan sekitar 5 jam dan tiba di Bandara Sepinggan Balikpapan pukul 4.00 dini hari. Pesawat pulang memakai citilink lagi, pukul 10.30 take off. Sampai di Soetta langsung menuju depok dan sampai di Kos dengan selamat pukul 14.00. Alhamdulillah perjalanan kali ini sudah selesai, nantikan jalan-jalan saya berikutnya…


EmoticonEmoticon