Yuk kita ramaikan masjid !


Fenomena yang sering kita jumpai sekarang adalah sepinya masjid-masjid di sekitar kita. Apabila kita perhatikan betapa banyak masjid yang indah dan besar, tetapi jamaah sholatnya sangat sedikit. Kebanyakan masjid hanya diisi oleh segelintir orang yang sudah tua, dimanakah para pemudahnya ? . Padahal apabila kita cermati lebih lanjut, perintah sholat berjamaah di masjid bagi laki-laki adalah sunah muakad, bahkan beberapa orang menganggap suatu kewajiban. Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya tidak mempunyai seorang penuntun yang mengantarkanku ke masjid”. Lalu ia meminta Rasulullah untuk memberi keringanan baginya untuk shalat di rumahnya maka Rasulullah memberikannya keringanan. Ketika Ibnu Ummi Maktum hendak kembali, Rasulullah memanggilnya lalu berkata: “Apakah Engkau mendengar panggilan (adzan) untuk shalat?” ia menjawab “benar”, maka Rasulullah bersabda: “Penuhilah panggilan tersebut.”.
Dikisahkan pasca meletusnya perang Mesir-Israel tahun 1973 ada seorang tentara Mesir yang mengajak berbicara tentara Yahudi yang paham bahasa Arab. Tentara Mesir itu berkata, “Demi Allah, kami akan memerangi dan mengalahkan kalian sampai ada di antara kalian yang bersembunyi di balik pohon dan batu, kemudian pohon dan batu itu mengatakan,’hai hamba Allah, hai Muslim, ini ada Yahudi di belakangku, ke mari dan bunuhlah dia’”. Tentara Yahudi menjawab,”Semua itu tidak akan terjadi sebelum shalat subuh kalian sama dengan shalat Jumat.”
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin memerangi bangsa Yahudi, sampai-sampai orang Yahudi berlindung di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon tadi akan berbicara: Wahai orang Islam, hai hamba Allah! Di belakangku ada orang-orang Yahudi. Kemarilah! Bunuhlah dia! Kecuali pohon Ghorqod, sebab ia itu sungguh pohonnya Yahudi.” (HR. Ahmad)
Bagaimana pandangan rabi Yahudi tentang sabda Nabi Muhammad SAW tersebut? Dia menjawab, “Ya, aku percaya apa yang dikatakan Muhammad. Tapi jangan takut, hal itu masih lama”. Lalu ditanya lagi: Kapankah waktu itu akan datang? Sang rabi tersebut menjawab, “Hal itu baru akan terjadi ketika jumlah umat Islam yang datang ke masjid pada waktu sholat Subuh. akan sama jumlahnya dengan yang datang pada sholat Jumat.”

Ada sebuah kejadian menarik yang saya alami selama berada di Bontang Kalimantan Timur beberapa waktu yang lalu. Rumah teman saya, Irsyad, berada di perumahan BTN yang dekat dengan PC PKT. Irsyad menceritakan kepada saya bahwa kalau di tempatnya sholat maghrib dan subuhnya jamaahnya banyak. Saya tidak percaya dengan cerita tersebut sampai saya membuktikan dengan kepala saya sendiri. Adalah masjid Al-Furqon, masjid yang berada di dekat rumah Irsyad. Masjid tersebut bukannya satu-satunya di daerah tersebut karena dalam radius 2 km terdapat 2 masjid raya yang lebih besar juga. Akan tetapi, dekatnya jarak antar masjid tersebut tidak mengurangi jumlah jamaah di masjid ini. Selama 4 hari saya menginap di rumah Irsyad, saya mendapati kejadian yang bagi saya luar biasa. Setiap selesai adzan maghrib berkumandang, semua orang di sekitar masjid berbondong-bondong datang ke masjid, baik jalan kaki maupun menggunakan sepeda motor. Halaman masjid yang luas tidak cukup menampung jamaahnya, sehingga banyak motor yang diparkir di pinggir jalan.
Sholat maghrib di masjid tersebut diikuti oleh 8 shaf jamaah, dan satu shaf paling tidak bisa memuat 40 jamaah. Sehingga total jamaah yang ikut sholat maghrib berjamaah tidak kurang dari 300 orang. Begitu pula dengan sholat Isya, walaupun jamaahnya berkurang sedikit, tetapi sholat isya berjamaah tidak kurang dari 6 shaf, bahkan sering 7 shaf.
Waktu pertama kali sholat maghrib dan isya di masjid itu, saya masih bisa memakluminya karena itu adalah masjid kompleks perumahan yang orangnya banyak. Akan tetapi yang keterlaluan adalah ketika keesokan harinya saya sholat subuh berjamaah saya menemukan bahwa jamaahnya hampir sama dengan sholat isya, yaitu paling tidak 6 shaf atau sebanyak 240an orang. Subhanallah, begitu mengakarnya budaya sholat berjamaah di kompleks tersebut sampai mereka terbiasa bangun pagi-pagi.  Yang lebih saya kagumi, masjid itu tidak hanya makmur sholat berjamaahnya, tetapi masjid tersebut juga dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan islami. Tiap akhir pekan selalu ada kajian, tiap hari ada TPA (saya kurang tau  apakah tiap hari atau hanya hari sabtu minggu), tiap minggu ada kajian selepas sholat maghrib sambil menunggu sholat isya dimana jamaah sholat maghrib semuanya mengikuti, dan lain sebagainya. Saya mendambakan keadaan ini terjadi di semua daerah di Indonesia. Di dalam hati kecil saya berdoa semoga kelak ketika sudah berkeluarga saya bisa mendapatkan tempat tinggal dan lingkungan yang seperti ini. Saya mengingatkan kepada diri saya sendiri, dan juga teman-teman, yuk kita bareng-bareng ramaikan masjid kita !!!

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon