Backpacking Medan (2) : Pulau Samosir


Keesokan harinya, kami berencana untuk berkeliling pulau samosir.  Di pagi yang sejuk itu gw dan ruri berenang dulu di depan kamar.  Memang, kamar yang kami sewa menghadap ke danau, dan pemandangan serta suasananya sangat nyaman  untuk berlama lama stay disana. Dinginnya air danau membuat gw ga berani lama-lama berenang. Selesai berenang langsung mandi dan persiapan. 











Sebelum berkeliling kita cari makan dulu, banyak penjual warung muslim disana. Kamipun memilih makan di warung muslim jawa. Masakan yang dijual kayak di warteg, dan harganya cukup murah, saya makan nasi, mie dan telur goreng hanya 7ribu rupiah. Selesai makan kami mencari rental motor dan sepeda. Karena kami bertiga, dan sayang duit kalo sewa motor dua, akhirnya diputuskan untuk menyewa satu motor dan satu sepeda saja, dengan perjanjian yang membawa sepeda bergantian. Harga sewa motor di pulau samosir bervariasi, tetapi rata-rata menawarkan harga 80ribu untuk satu motor (bensin sudah termasuk) dan 30ribu untuk satu sepeda.  Tapi kami menawar 100ribu untuk 1 sepeda dan 1 motor. 






Alam dan pemandangan di pulau samosir memang sangat indah nan permai. Di sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan bukit dengan hamparan sawah dan tanaman hijau di kanan-kiri. Memang jalan dari hostel kami menginap di daerah ..... masih jelek sekali, tapi mendekati jalan utama pulau samosir jalan sudah lumayan bagus dan mulus. Karena capek bersepeda terus, gw punya ide untuk mem-fussionII-kan sepeda dan motor. Gw akhirnya yang pake sepeda sampe akhir perjalanan karna yang lain gak bisa bawa speda dengan cara fussion ini. Sebenernya cukup simpel, tinggal menempelkan kaki dan memegang motor pake tangan, gw bisa mengikuti motor tanpa capek mengayuh sepeda. Tapi cara ini cukup bahaya karna jalan di samosir yang kecil dan banyak kendaraan roda 4 yang melintas , jadi kalo kita ketemu mobil kita harus melepaskan fussion sementara waktu.  
Berikut foto-foto selama berkeliling pulau samosir:





















Backpacking Medan (1)

Selesai sudah trip ke medan kali ini. Sesuai dengan janji, gw pengen berbagi cerita tentang trip kita kali ini. Trip ini adalah trip dadakan, gara-gara promo BIG airasia last minutes, yang dibooking  cuma 1 minggu sebelum hari keberangkatan. Ceritanya adalah gw dapet promo 64ribu PP ke medan, dan gw ngajak 2 temen yaitu Hilmi dan Ruri buat trip kali ini.

Cerita dimulai dari hari senin sore, kita berangkat ke bandung dulu karna tiket yang kita dapet adalah airasia jurusan kampungrambutan-bandung bandung-medan. Karna ceritanya adalah backpacker, kita nggak naik travel atau bus Depok-bandung yang agak mahal, kita mencoba ngecer bus, naik angkot ke kampung rambutan dulu lalu disambung bus ekonomi AC jurusan sukabumi dan turun di cileunyi. Total biaya kalo naik travel 60ribu, naik MGI depok-bandung 45ribu, tapi kalo ngecer kayak kita, total cuma angkot ke kampung rambutan 3ribu, bus jurusan sukabumi 25ribu, angkot cileunyi ke ITB 7ribu, jadi total cuma habis 35ribu dah sampe ITB. 


Tempat menginap kami malam itu adalah kos abangnya Ruri. Pagi-pagi kita udah bangun jam 4, lalu mandi, dan sudah siap berangkat pukul 4.30. Naik taksi ke bandara hussein dari ITB ternyata sangat-sangat dekat, dan karna nggak pake argo, kita nego harga 25ribu. Bandara hussein sastranegara ternyata sangat-sangat kecil, lebih kecil daripada yang gw bayangkan. Mungkin ini bandara terkecil yg pernah gw pake buat depart. Pesawat Airasia QZ7986 BDO-MES sudah siap di apron, karna memang bandara ini adalah salah satu HUB airasia dan pesawat-pesawatnya pada RON / bermalam disitu. Pesawat take off tepat waktu, pukul 5.35 dan mendarat di medan juga tepat waktu pula, 7.55. 

 
 

Bandara polonia sendiri adalah bandara yang cukup luas dengan puluhan penerbangan setiap hari, tapi permasalahannya adalah tempatnya yang berada di tengah kota sehingga tidak ideal untuk perkembangan bandara kedepannya.  Keluar dari bandara, kami menuju istana maimun. Karna jaraknya yang tidak jauh, hanya 2KM, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja sambil melihat-lihat kota medan. 15 menit jalan kaki, kami sampai di depan istana maimun. Sebelum masuk kita nge-teh dulu diwarung depan situ, dan harganya pun menakjubkan, 5ribu rupiah hanya untuk segelas es teh manis. Hha. 
 


Masuk ke istana maimun dipungut tiket 5ribu rupiah, dan setelah melihat lihat didalamnyan ternyata isinya nggak menarik sama sekali buat gw. Kenapa ? karna koleksi yang dipajang cuma dikit sekali, cuma 1 ruangan saja, dan nggak ada penjelasan sama sekali tentang barang koleksi yang dipajang. Kesan yang gw dapet cuma benda bersejarah trus dipajang dan dikasih nama, tanpa ada upaya untuk menjelaskan kepada pengunjung tentang history barang tersebut. Kalo nggak karna istana ini berada di medan dan gw baru pertamakalinya di medan, gw nggak bakal ngunjungin istana ini.











Selesai dari istana maimun, kita berpikir untuk ke parapat naik kereta (turun di tebing tinggi). Lalu kami naik becak motor ke stasiun kereta, sampe sana ternyata kereta ke tebing tinggi baru jalan pukul 14.00 dan waktu itu baru pukul 10.00. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bus saja, lalu kamipun naik angkot ke terminal  amplas. Dari terminal amplas kami naik bus “sejahtera” dengan ongkos 25ribu.

 
Sebelum berangkat kita makan dulu di terminal, dan benar kata orang kalo makanan disitu mahal-mahal, untuk soto medan yang rasanya nggak spesial, harga 15ribu. Untung aja cuma minum airputih, kalo minum es teh bisa bisa harga 5ribu juga. Pukul 12.00 bus berangkat. Perjalanan melewati kota tebing tinggi dan pematang siantar. Jalan yang dilalui cukup mulus tapi dibeberapa bagian jalan bergelombang karna aspal rusak. Mendekati parapat, pemandangan di kanan-kiri melewati hutan karet. Semakin dekat ke parapat pemandangan semakin indah dan menakjubkan. 

Pukul 16.30 kami sampai di parapat. Langsung ke pelabuhan balaraja tapi ternyata ferry yang akan menyeberang ke pulau samosir baru berangkat pukul 18.00 (ferry terakhir). Akhirnya kami cari tempat buat sholat dulu karna belum sholat dzuhur dan ashar. Sangat sulit mencari musholla disitu, dan setelah berjalan agak jauh kami menemukan mushola, tapi sayang sekali musholanya tutup dan dikunci rapat (bahkan untuk masuk ke selasarnya aja nggak bisa). Kamipun numpang sholat di rumah sebelah mushola. 


Ferry berangkat pukul 6 sore. Karna ferry ini ferry terakhir, yang naik cukup banyak dan kebanyakan adalah bule-bule backpacker yang kere . Ongkos ferry murah, cuma 7ribu rupiah. Penyeberangan memakan waktu 40menitan, dan nanti ferry akan mengantar kita sampai ke pier dekat hostel yang akan kita inapi. Karna bingung, kamipun turun bareng sebagian besar bule-bule di carolina hotel. Tanya ke bagian front office, katanya tinggal kamar yang 90ribu, dan ditambah extra bed 50ribu karna kami bertiga. Akhirnya kami mencari hostel lain, nemu hostel disebelahnya dengan harga 90ribu buat bertiga dan kita nginep disitu 2 malam. Malam itu kamipun tidur dengan nyenyak, sesekali terbangun karna tempat tidur yang keras. ~