CARA TELEPON RUMAH / PSTN MURAH TELKOMSEL


Sebenarnya ini adalah cara lama, dan saya yakin banyak teman-teman yang sudah mengetahuinya bagaimana cara untuk mendapatkan tarif murah buat telepon ke nomor rumah atau yang namanya PSTN. Namun walaupun sudah banyak orang yang tau tapi saya yakin tetap masih banyak juga yang belum tahu caranya.

Telepon ke nomor rumah ? Siapa juga yang sekarang punya telepon rumah ? Iya, memamng sudah jarang yang sekarang telepon-teleponan pakai telepon rumah. Namun apabila kamu sering telepon ke call centre bank, telepon ke kantor klien, atau telepon ke call centre maskapai penerbangan, maka trik ini sangat membantu sekali untuk menghemat pulsa. 

Caranya adalah dengan mengirimkan sms beisi "PSTN" (Tanpa tanda petik) dan dikirim ke nomor 8999. Tarif sekali sms adalah Rp 1.000 dan akan mendapatkan bonus pulsa Rp 20.000 yang bisa digunakan untuk telepon ke semua nomor PSTN dan Fleksi. Jadi tarif telepon ke PSTN tetap normal, namun akan memotong bonus pulsa yang Rp 20.000 itu, bukan memotong pulsa utama. Bagaimana jika akan menelpon lama dan sepertinya biayanya lebih dari Rp 20.000 ? Gampang, sms saya "PSTN" ke 8999 berulang, misal pengen bonus Rp 60.000 ya smsnya 3x, nanti pulsa utama kepotong Rp 3.000.

Cara ini sangat membantu saya yang sering berhubungan dengan relasi yang memakai nomor fixed line, atau telepon ke Air Asia karena ada komplain dari customer saya tentang tiket yang dibelinya. Atau sering juga saya telepon ke call centre bank untuk tanya-tanya mengenai kartu kredit yang bermasalah ataupun untuk mengisengi mbak-mbak CSnya :lol.
JAP- 8/10/2014 @05.53

DI KW 19

Sudah lebih dari 8 bulan lamanya saya setiap hari memakai kemeja putih polos dengan celana hitam. Teman-teman saya yang lain banyak yang mengeluh dengan kewajiban memakai setelan itu setiap hari selama 9 bulan. Namun tidak bagi saya. Saya bangga memakai pakaian kemeja putih polos dan celana hitam.

Kalau melihat kemeja putih polos dan celana hitam, kalian langsung mengasosiasikan dengan pejabat siapa ? Jokowi ? Salah, Jokowi baru sering memakai baju itu semenjak jadi gubernur DKI. Ya, siapa lagi kalau bukan Dahlan Iskan. Abah, panggilanku dan teman-teman sesama pengagum kepada pak dahlan, memang hampir selalu di setiap acara memakai dua setelan itu, atasan putih bawah hitam. Kalaupun abah tidak memakai atasan putih, itu biasanya ada alasannya. Seperti yang dilakukan hari kamis lalu, abah memakai batik di acara peresmian gedung terminal pelabuhan di surabaya. Itu karena hari itu hari batik. Batiknya pun kelihatan kedodoran, aku yakin itu batik hasil meminjam supir ato bawahannya.

Biasanya abah memakai setelan itu dengan sepatu kets. Abah memang tidak bisa hidup dengan sepatu kulit. Seperti yang beliau akui baru-baru ini, satu-satunya penyesalannya selama menjadi menteri adalah masalah Merpati dan yang kedua adalah ketidakbisaannya memakai sepatu kulit.

Saya kebetulan mempunyai sepatu DI-19 (Demi Indonesia 19) yang didapat dari teman-teman dahlanis jogja 6 bulan yang lalu. Sewaktu di Jakarta, sepatu itu jarang sekali saya pakai. Bukan karena tidak nyaman, namun karena sayang kalau-kalau sepatunya rusak karena dipakai. Namun semenjak di Jayapura, sepatu DI 19 itu setiap hari saya pakai untuk berangkat ke kantor, walaupun setiba di kantor saya ganti pakai sepatu kuli. Hal ini karena setiap hari saya berjalan 1,5 km dari Kos ke Kantor melalui jalan terjal yang penuh dengan batu-batu kerikil.

Memakai sepatu DI-19 itu nyaman sekali. Bukan karena saya ngefans sama Pak Dahlan lalu saya bilang sepatu itu enak dipakai, namun benar-benar enak dipakai. Kalau tidak percaya silakan coba sendiri. Dua bulan saya pakai tiap hari, sepatu ini masih baik-baik saja, tidak ada yang namanya sol robek atau sepatu kemasukan air. Pernah beberapa kali berangkat kantor dalam hujan deras, sepatu ini melindungiku dari air hujan sehingga kaki tetap kering sesampai di kantor.

Saya sudah memakai kemeja putih, celana hitam, sepatu kets DI 19. Lalu kapan ya saya bisa bernasib sama dengan Dahlan Iskan, mempunyai perusahaan sendiri, bisa bepergian seenak hati, mempunyai semangat kerja seperti abah ? Hmmm... Semoga segera...

JAP, 7-10-2014 @ 08.30

Funny Fact About Jayapura (4) : Jangan Kurban Kambing di Jayapura !

Sebelumnya, happy ied mubarak, semoga amalan qurban kita diterima oleh Allah SWT. Selamat bersate-sate ria ! ngomongin sate, gw apes banget nih idul adha kali ini. Walaupun berkurban, tapi nggak bisa ikut tradisi nyate-nyate. Seperti kebanyakan orang, gw selalu nyate di idul qurban, dari sejak kecil sampai jaman kuliah, selalu saja ada tradisi nyatee.. Namun tahun ini tidak bisa, karena keadaan yang tidak memungkinkan.

Ada yang menarik di Jayapura. Ternyata di sini harga qurban kambing jauh lebih mahal daripada harga qurban sapi (bertujuh). Untuk qurban satu ekor sapi dibagi bertujuh, hanya iuran 1,9juta – 2,2 juta per orangnya. Namun kalau mau qurban satu ekor kambing, harganya 3 juta – 3,5juta untuk kambing ukuran standar yang di Jakarta mungkin harga kambingnya hanya sekitar 1,7jutaan. Ntah kenapa harga disini lebih mahal.

Permasalahan daging disini kompleks sekali. Walaupun mempunyai tanah kosong yang luas, bukan berarti disini banyak orang memelihara sapi ato kambing. Kalau di daerah transmigran seperti merauke, memang disana banyak orang transmigran a.k.a. orang Jawa yang berternak kambing dan sapi. Namun di Jayapura dan sekitarnya ? Jangan harap... Kalau tidak salah banyak kambing dan sapi disini yang impor alias mendatangkan dari daerah lain.

Kenapa banyak yang tidak mau memelihara kambing/sapi ? Berikut hasil analisa gw. Pertama dan yang paling utama, karena bagi orang papua asli, rasa kekeluargaan mereka masih kental. Begitu ada satu orang papua yang sukses, biasanya saudara mereka, baik itu saudara dekat maupun saudara jauh, pada berduyun-duyun mendekati orang itu dan meminta jatah atau sedekah. Kedua, kalau yang ingin beternak itu adalah orang pendatang, mereka takut ternak mereka dijarah atau dipalak orang asli sini. Orang pendatang juga tidak ingin cari masalah dengan orang asli karena bau ternaknya yang bisa mengganggu warga sekitar. Ketiga, daerah di jayapura yang sudah jarang ada tanah kosong yang luas. Rumput juga menjadi permasalahan disini karena agak susah mencari rumput buat pakan ternak.

Tahun ini boleh lah saya tidak nyate. Namun tahun depan,kalau umur masih ada, harus nyate, apapun keadaannya. Kalau tidak nyate, bisa-bisa gw kena darah rendah...

JAP, 5-10-14 @15.42

Funny Fact About Jayapura 3 : Dilarang Tawar di Jayapura

Semua orang tahu kalau barang-barang di Papua mahal-mahal. Ada banyak faktor kenapa barang-barang disini mahal, salah satunya sendiri adalah karena keanehan sifat orang sini. Ekonomi adalah ilmu sosial yang dipelajari dari gejala-gejala yang ada di lapangan. Teori Permintaan dan Penawaran di Ilmu Ekonomi didapatkan dari fakta yang terjadi di masyarakat. Namun teori permintaan penawaran itu terkadang tidak berlaku disini. Orang Papua biasanya menjual barang dengan harga yang jauh lebih mahal daripada harga di luar Papua. Mereka terkadang lebih memilih untuk tidak menjual barang itu dan dibiarkan membusuk daripada menjualnya dengan harga murah. Sampai-sampai ada cerita humor seperti ini. Humor-humor ini adalah kisah nyata. Begini Ceritanya.

Dulu, pernah ada salah satu Dewan Gubernur yang berkunjung ke Kantor Jayapura membawa istri. Karena suaminya ada acara di kantor, sang Istri ingin melihat kondisi pasar di Jayapura sendirian. Ditemani dengan salah satu pegawai, datanglah beliau ke pasar terbesar di Jayapura. Istri itu pun berhenti di salah satu mama-mama papua yang menjual Kelapa dan terjadilah percakapan. Istri DG “ Mace, kelapa itu berapa harganya kah ?”. Sang mama pun menjawab “ Satunya 10ribu”. Istri DG itupun kaget dan menjawab “Kelapa Kecil-kecil itu harganya 10ribu satu buahnya ? Turunin harga to !! 5ribu satu ya !”. Sang mama pun menjawab “ Apa kau bilang? Kelapa ini kecil-kecil? Kalau kecil, kau telan saja sudah !”. Sang istri pun segera meninggalkan mama papua tersebut. $%#@^&*^#

Ada humor lain juga. Seorang pemuda yang sedang punya banyak uang ingin membeli pinang dari seorang mama papua yang berjualan di pinggir jalan. Pemuda “Mace, harga ini berapa ?. Penjual “Satunya 2ribu”. Pemuda “Ini ada 20 buah, saya ambil semua saja sudah, 40ribu to?”. Penjual pinang “ Aaahh adeek, jangan kau ambil semua, nanti kalau kau ambil semua mama jual apa ?” %^$(&*&@#*

JAP, 29/9/2014, 22.30

Funny Fact About Jayapura 2

Keruwetan lalu lintas di Indonesia sudah menjadi rahasia umum. Dimulai dari jalan yang banyak lobang, fasilitas dan rambu jalan yang rusak, sampai kepada kerusakan mental para pengguna jalan. Perilaku tidak mau mengalah sudah menjadi hal yang lumrah. Penyeberang jalan yang asal menyeberang di sembarang tempat sudah menjadi hal yang biasa. Pengemudi motor dan mobil yang ugal-ugalan di tengah keramaian jalan juga sudah menjadi hal yang umum terjadi. Maka, jangan kaget kalau angka lakalantas di Indonesia cukup tinggi.

Hari pertama saya dan teman-teman seperjuangan datang ke Jayapura, saya mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Seperti di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia, kami ingin menyeberang jalan untuk makan siang. Memang jalan yang kami hendak seberangi itu adalah jalan utama di Jayapura sehingga wajar bila padat kendaraan. Ilmu yang gw dapet bertahun-tahun menyeberang jalan Margonda Depok gw terapin disini. Begitu ada dua kendaraan jarak kira-kira 20 meter, langsung maju saja tanpa ragu, begitulah ilmu menyeberang Margonda yang telah tertanam kuat di benak gw. Gw terapin ilmu itu disini. Setelah menunggu hampir 1 menit kendaraan lewat tanpa henti dan tanpa jeda, gw melihat peluang untuk menyeberang. Mobil Avanza dan angkot sepertinya berjarak 20 meter. Gw langsung maju jalan tanpa aba-aba. Begitu sudah dapat 2 langkah, gw merasa ada yang aneh, kok angkotnya nggak ada tanda-tanda ngerem. Gw udah terlanjur berada di tengah jalan, angkot sudah 3 meter di depan gw dan ga ada tanda-tanda ngerem. Karena tidak mau celaka, gw lari maju, eh ternyata di belakang angkot ada motor yang nyalip angkot dengan kecepatan cukup tinggi. Gw hampir tertabrak. Pengemudi motor ngerem mendadak. Dia tengok belakang, buka helm, dan keluar kata-kata kasar khas papua. “aseem tenan ini orang bermotor” batin gw.

Ternyata, setelah gw tanyain sama senior di kantor, di Papua terutama di Jayapura, orang kalau menyeberang itu di zebra cross.. Jadi tidak asal menyeberang saja...

Funny Fact About Papua (1)

Hampir 2 bulan sudah gw tinggal di Jayapura. Banyak pengalaman baru yang gw dapetkan disini. Dari 2 bulan disini, ada banyak sekali perbedaan antara persepsi dan kenyataan, antara budaya di tempat lain dengan budaya disini. Untuk beberapa hari ke depan gw pengen cerita beberapa fakta menarik tentang papua, khususnya jayapura.

Mungkin belum banyak yang tahu kalau orang papua itu senang sekali mengunyah pinang. Kalau di jawa, hanya nenek-nenek kita saja yang mengkonsumsi sirih pinang dengan nama “nginang”. Namun di papua, jangankan nenek-nenek, anak kelas 1 SD pun juga sudah terbiasa dengan kunyah pinang. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau buah pinang disini bisa menjadi faktor penyumbang inflasi daerah. hhaha. Ketika buah pinang susah ditemui dan harga naik, kemungkinan harga lainnya jg ikut naik.


Di pinggir-pinggir jalan di papua, akan banyak kita temui penjual buah pinang. Buah pinang yang sudah dikelupas dan dikunyah, akan menghasilkan warna merah. Gw juga bingung kok bisa berubah menjadi merah ya. Kalau sudah selesai dikunyah, seperti permen karet, buah pinang itu akan dikeluarkan dari mulut bersama dengan ludah-ludahnya yang berwarna merah pekat. Kalau pengen tau seperti apa limbah dari hasil pengunyahan pinang, bayangkan saja saos yang kamu biasa makan bersama dengan mie ayam / bakso dipinggir jalan itu kamu tumpahkan di jalanan. Merah pekat.

Jadi jangan kaget kalau di tempat-tempat umum seringkali dijumpai tulisan besar berbunyi “ DILARANG BUANG PINANG SEMBARANGAN”. Bahkan di bandara sentani, gateway of Jayapura, pertama gw datang, keluar dari pintu kedatangan langsung disambut dengan pinang di sepatu gw :lol.


Sering sekali gw ditantang sama temen-temen disini untuk  makan buah pinang, namun selalu gw tolak. Bukan karena takut sama rasanya, namun gw takut “eek” gw berubah menjadi warna hasil kunyahan buah pinang.....#kabuuuuur

JAP, 25/9/14 @06.00 WIT

KETIKA OPTIMIS BERGANTI REALISTIS


Dulu pada awal saya mengagumi Dahlan Iskan, saya berfikir kalau beliau dikasih kesempatan untuk mempimpin bangsa ini, semua persoalan akan bisa terselesaikan dengan tuntas tanpa tendensi. Dulu sebelum saya menjadi bagian dari pemerintah, saya sering mengkritik keras (walaupun cuma dalam hati, hhehe) kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah. Dulu ketika saya belum paham tentang ekonomi, saya berfikir kalau mengatur ekonomi negara itu mudah. Dulu ketika saya belum masuk ke kantor yang sekarang, saya berfikir bahwa Inflasi tinggi akibat ketidakbecusan Bank Sentral dalam mengendalikan inflasi. Dulu dengan membaca Manufacturing Hope tulisan Dahlan Iskan, saya berfikir bahwa kemajuan negara itu bisa didapat sebegitu mudahnya. Dulu saya mengira kalau memberantas korupsi itu mudah saja. Dulu saya berfikir dengan memberantas korupsi itu negara bisa langsung maju. Aiiih enaknya menjadi saya yang dulu. Pikiran-pikiran tersebut memang tidak 100% salah, namun juga tidak 100% benar juga.

Ternyata dengan berjalannya waktu, dengan ilmu yang didapat dari lingkungan dan tempat bekerja, saya menjadi semakin paham bahwa Negara ini mempunyai kesempatan untuk maju, namun kemajuan itu tidak bisa dicapai dengan mudah. Perlu kerja keras semua pihak. Sebagus apapun pemimpin negara ini, kalau mereka hanya bekerja sendirian, tentu tidak akan bisa menghasilkan negara Indonesia yang sentosa sejahtera adil dan makmur.

Pun demikian dengan fenomena Jokowi Effect. Pada awal pengusungan J-J, para pendukungnya dengan semangat 45 haqqul yakin kalo Jokowi bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa. Bahkan ada pihak-pihak yang menganggap kalau kemunculan Jokowi ini adalah kedatangan Sang Ratu Adil, satriyo piningit dari langit. Ini didukung dengan kepolosan dan kepandaian jokowi dalam positioning. Akhirnya, banyak orang yang terpikat dengan fenomena tersebut.
Jokowi pun maju menjadi capres. Pengusungnya berkoar-koar dan mengobral seribu janji, persis seperti apa yang dilakukan para calon di pemilihan-pemilihan sebelumnya. Pemilih pun terpikat oleh janji-janji yang mereka obral. Masyarakat dibuai dengan berbagai harapan.
Saya mulai khawatir harapan-harapan yang dijanjikan ini tidak bisa dipenuhi.

Setelah terpilih sebagai presiden, semakin hari saya mulai takut kekhawatiran saya perlahan-lahan terwujud. Saya mulai khawatir banyak pendukung yang dikecewakan. Pada awal terpilihnya dia, mulai muncul polling-polling online tentang kabinet jokowi. Tokoh-tokoh yang muncul pun banyak yang dikenal masyarakat dari beberapa kasus fenomenal. Wiih, keren abis kalo menyusun kabinet cuma berdasarkan opini yang terbentuk dari masyarakat. Apalagi ditambah dengan medsos-medsos yang mempublikasikan calon menteri hasil polling mereka. Wah betapa kerennya kalo kabinet itu terwujud.

Pada awalnya mereka bilang kalau koalisi yang dibentuk si merah adalah koalisi tanpa porsi, tanpa bagi-bagi jatah. Keren sekali menurutku kalau itu benar-benar bisa terwujud di sebuah negara dengan sistem politik seperti di Indonesia. Namun ternyata kenyataan tidak bisa bisa dihindarkan. Bagi-bagi porsi tetap ada.

Dari kasus tersebut saya mengajak pendukung si merah untuk berfikir lebih realistis. Kita harus terus mengawal pemerintahan 2014-2019. Kritik adalah hal biasa dalam berdemokrasi. Kritik ini perlu, tidak hanya untuk memperbaiki kebijakan yang diambil, tapi juga untuk mendewasakan masyarakat agar di 2019 tidak salah pilih.

JAP/17-9-14@06.15 WIT

*wis wis, berangkat ngantor disik lik..

SIMBIOSIS MUTUALISME BUMN


Pulang dari kerja, saya mampir warung makan dekat kosan. Baru satu suapan masuk ke mulut, tangan sudah gelisah hanya memegang sendok dan garpu. Akhirnya tangan masuk juga ke kantong celana, mengambil sebuah handphone. Memang sudah menjadi penyakit orang jaman sekarang selalu tidak bisa lepas dari gadgetnya. Bahkan ketika makan sekalipun. Seperti biasa, web pertama yang saya buka selain kaskus adalah detik.com. Di halaman pertama saya tertarik dengan judul “Djakarta Lloyd angkut batu bara, berapa ongkosnya?”.

Saya pertama kali mendengar ada BUMN bernama Djakarta Lloyd (DL) dari Manufacturing Hope 11 (30 Januari 2011). DL adalah BUMN yang bergerak pada pelayaran, terutama di logistik barang melalui laut. Pada MH itu abah menceritakan bahwa DL mempunyai utang 3,6 T, setengah dari utang yang dimiliki Merpati sekarang. Sebenarnya utang sebesar itu tidak masalah selama aset dan perputaran revenue masih sehat. Seperti Garuda yang pada semester pertama 2014 ini saja sudah rugi 2,4 T. Tapi stakeholder masih tidak begitu panik kan ? Kenapa? Karena garuda masih sehat secara rasio utang-asset, masih mempunyai alat produksi untuk mendapatkan pemasukan, reputasi yang bagus dan pasar yang masih luas. Namun DL tidak seperti itu. Pada waktu itu DL sudah kehilangan muka di depan investor maupun konsumen, aset sudah tidak ada, mau utang pun susahnya minta main. Aaahh kepanjangan kalo saya ceritakan semua. Langsung saja deh baca dari sumbernya. Lebih mantab dan mengalir ceritanya.. hhe.. MH 11 : http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/01/30/yang-tidak-akan-selesai-dengan-keluhan-dan-gerojokan dan juga MH 135 : https://dahlaniskan.wordpress.com/2014/07/07/dlloyd-setelah-lama-mati-suri/

Singkatnya, DL nyaris mati, namun muncul harapan baru setelah mendapatkan kontrak pengiriman batu bara dari PLN yang dipimpin Dahlan Iskan pada waktu itu. Dari kontrak itulah DL mulai membangun reputasinya dan sampai pada akhirnya sekarang bisa mendapatkan kepercayaan dari Adaro dan Berau Coal untuk pengiriman batu bara.

Cerita kebangkitan DL dari keterpurukan bukanlah sebuah mitos. Kesuksesan DL untuk bangkit dari kubur tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, hikmah dari cerita itu adalah ketika BUMN dipimpin oleh orang yang tepat dan berkolaborasi dengan pihak yang tepat, bisa menghasilkan hasil yang luar biasa. Masih banyak kesuksesan lain yang bisa dijadikan sebagai contoh, seperti konsorsium BUMN dalam membangun Tol Bali dan bandara-bandara baru.

aaahhh....sudahlah

(bingung meh arep nulis opo meneh, wis ngantuk.. :D)

#eeeh judul sama tulisan gak nyambung

Road to The Middle of Nowhere : Boven Digoel (1) MERAUKE, KOTA PENDATANG DI UJUNG INDONESIA

Jayapura masih pagi ketika saya sudah harus berangkat ke airport. Pagi itu saya dan Mas Riko berangkat ke Merauke untuk melakukan sebuah tugas dinas. Bedanya, Mas Riko akan stay di Merauke sampai hari Jumat, sedangkan saya hanya 1 malam di merauke karena akan gabung ke teman-teman lain yang sudah berangkat duluan untuk melakukan sebuah dinas lagi di luar Merauke. Penerbangan saya ke Merauke memakai Flight Garuda direct Jakarta-Jayapura yang lanjut Merauke. Penerbangan Jayapura-Merauke pagi itu cukup ramai, mungkin perkiraanku hampir 85% kursi terisi. Walaupun harga tiket garuda DJJ-MKQ jauh lebih mahal, sekitar 900ribu, dibandingkan dengan hharga Lion/Sriwijaya di 350-400ribu, namun masyarakat banyak yang memilih Garuda. Penerbangan ke Merauke cukup singkat, hanya 1 jam lebih 5 menit saja.

Sampai di Merauke, kami disambut tulisan “Selamat Datang di Merauke, Izakod bekai Izakod kai”. Di Papua memang banyak tulisan Izakod bekai, Izakod kai. Itu semacam tagline yang artinya satu hati satu tujuan. Setelah mengedrop tas kami langsung menuju salah satu bank terbesar disitu untuk melakukan pekerjaan.

Di sore harinya selepas pulang ke hotel, saya ingat kalau saya ada teman di Merauke. Bukan sembarang teman, namun teman akrab semasa SD dulu. Saya pun awalnya kaget ketika tahu dia sekarang tinggal dan bekerja di Merauke. Namanya Ahmad. Saya tahu dia di merauke karna sebelumya update status di FB dan Ahmad reply, suruh saya mampir ke tempatnya. Saya benar- benar tidak menyangka teman SD yang dulu sangat pintar itu bisa kesasar di kota ujung timur Indonesia itu. Aiih, hal ini mengingatkanku bahwa sekarang sudah semakin tua, teman-teman SD yang baru saya rasa kemarin sore main bareng di sawah, sekarang juga sudah besar, sudah pada menyebar kemana-mana. Ada yang di Kalimantan, Sulawesi, Papua. Begitu pula dengan teman-teman SMP, SMA, dan kuliah yang sudah pada menyebar. Sahabat-sahabat itu pada akhirnya akan mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Namun yang pasti, kita semua pernah punya kenangan masa kecil dengan mereka, dan kenangan itu akan menjadi sebuah cerita masa lalu.

Bertemu dengan Ahmad, dia saya suruh untuk jemput di depan hotel. Saya pun diajak berkeliling kota Merauke yang sangat kecil itu. Kota Merauke,kota di ujung timur Indonesia, pada awalnya dibangun oleh Belanda tahun 1900an awal. Pada zaman orde baru, Pak Harto mendorong transmigrasi besar-besaran ke kota Merauke dan sekitarnya. Pada perantau dari Jawa dikasih lahan yang luas dan fasilitas-fasilitas menarik lainnya. Hasilnya? Kota Merauke lebih didominasi oleh pendatang, terutama dari jawa, daripada penduduk asli Papua. Coba saja makan di warung-warung tenda yang ada di malam hari, hampir bisa dipastikan kalau penjualnya bisa berbahasa jawa dengan baik dan benar. hhehe. Walaupun orang itu lahir di merauke, karena orang tuanya jawa tulen, anaknya pun kebagian “medok “ e.. hhe.

Senja sudah turun ketika saya diajak berkeliling merauke sama teman saya Ahmad. Karena adzan sudah terdengar, dan kebetulan waktu itu sedang lewat di depan masjid saya, saya meminta untuk mampir sholat dulu. Mungkin ini satu-satunya kota di Papua yang mempunyai masjid raya di tengah kota, lengkap dengan halaman depannya yang luas. Masjidnya besar dan megah. Dalamnya luas. Jika dibandingkan dengan Masjid BI di Jakarta, sepertinya Masjid BI masih kalah besarnya dibandingkan masjid raya merauke ini (untuk tempat sholatnya, tidak termasuk selasar).

Selesai sholat maghrib, saya meminta untuk diantar ke tempat makan yang enak. Karena kota Merauke terkenal dengan Kota Rusa, saya minta diantar ke warung yang menjual sate rusa. Akhirnya ketemu kaki lima yang menjual sate rusa. Masuk ke tendanya, langsung ditodong pertanyaan “Mas, ajeng sate nopo bakso ? Sate rusa nopo sate ayam ? Minum e menopo mas ?”. Haduuh, orang saya belum ngomong langsung sudah diberondong pertanyaan, pake bahasa jawi lagii... emangnya mukaku sudah teridentifikasi langsung sebagai orang jowo yoo?

Daging Rusa ternyata enak. Tidak ada bedanya dengan daging kambing. Cuma, daging rusa lebih empuk dan tekstur lebih halus. Selesai makan dan mau dibayar, saya kaget, ternyata sate rusa yang isinya 10 Tusuk dengan potongan daging gedhe-gedhe itu harganya hanya 20ribu saja, itupun sudah termasuk nasi. Dan kalau tambah Gule, Cuma nambah 5ribu saja.... Waaah murah amiir... Usut punya usut, saya tanya ke penjualnya, ternyata daging rusa disini murah banget. Bahkan lebih murah daging rusa daripada daging ayam. Gilaak. Mungkin daging rusa murah disini karena didapatkan bukan dari beternak, namun dari hasil berburu, sehingga memang dihargai murah.

Merauke memang kota transmigrasi. Banyak pendatang yang datang disini. Kotanya pun sudah lumayan ramai dengan berbagai toko kebutuhan sehari-hari yang lengkap. Walaupun belum ada mall, mau cari apapun disini InsyaAllah tersedia. Percayalah, terutama bagi orang jowo, kalian tidak akan merasakan perbedaan yang signifikan tinggal di kota ini dibandingkan dengan tinggal di kota ponorogo, karna warung-warung makan banyak disini. Dan yang lebih penting, kalian tidak akan kehilangan skill bermedok ria kalian karena setiap kali mau makan selalu bisa mempraktekkan boso jowo kalian !! .


Merauke, 12-9-14@23.05 WITA

KEJUTAN DI HARI SENIN

Apel pagi di hari senin, langsung dapat kejutan dari Pimpinan, tiba-tiba gw yg awalnya cuma rencana dinas ke Merauke, disuruh untuk ikut kas keliling ke Boven digoel. Haduuuh. Terakhir aku dengar nama itu pas SMA, pelajaran sejarah, tempat pengasingan beberapa tokoh nasional seperti Syahrir dann Hatta. Dibuku sejarah itu diceritakan bagaimana mengerikannya daerah Boven Digoel, banyak orang mati terkena penyakit malaria, penyakit kencing hitam, ato mati karena strees dan gila diasingkan di tempat middle of nowhere dimana kanan kiri hanya hutan belantara. Haduuuh kok serem gitu. Semoga besok kesana tidak apa-apa, dan bisa balik ke Jayapura dengan sehat walafiat. Minta doanya yaa teman2...

BABI RABIES, ANJING NGEPET, DAN MASJID BER-AC

Kali ini gw pengen cerita tentang babi, anjing, dan masjid. Dimulai dari Babi. Di Tanah Papua, babi merupakan bahan makanan yang enak sekali. Orang asli papua senang makan babi. Walaupun begitu, harga babi disini katanya sih tergolong mahal. Itu pula yang menyebabkan kenapa di Jayapura jarang ada menu babi. Kalau di kota yang mayoritas non-muslim seperti Manado ato Toba, untuk mengidentifikasi mana warung yg menyediakan menu halal dan mana yang abu-abu,bisa dilihat dari namanya. Biasanya warung itu akan menuliskan "Warung Muslim" ato menambahkan kata Halal di bawah tulisan warungnya. Namun di Jayapura, nggak ada warung seperti itu. Kenapa ? Pertama tadi, karena harga babi mahal disini sehingga warung murahan jarang menyediakan menu babi, yang kedua adalah karena sepengetahuanku 95% ato bahkan 98% penjual warung makan di sini adalah pendatang, bisa pendatang dari jawa, dari bugis, ato suku lain. Ntar deh gw buat tulisan sendiri tentang perekonomian papua.

Nah, tadi sore, gw niatnya mau pergi ke mall. Keluar kosan, baru beberapa langkah gw kaget dengan adanya mobil pick up yang membawa dua babi besar. Bayangkan, mobil pick up yg gedhe itu cuma bisa diisi dua babi, babi ternak yg warnanya merah muda itu lo. Gilak, gedhe banget. Nggak tau itu mau dikemanain tuh babi. Jadi harus lebih hati-hati lagi nih gw untuk cari makan.

Cerita babi, gw jadi inget 2 minggu lalu ketika dinas pertama kalinya ke Manokwari. Waktu itu gw sama senior baru keluar dari bandara, pakai mobil sewaan. Belum ada 1 kilo keluar dari kawasan bandara, gw dikagetin sama supir yg ngerem mendadak. Gw lihat depan, ternyata ada 1 babi dan beberapa anak-anaknya yang nyelonong lewat di depan mobil. Hampir aja tertabrak. Kalau saja tertabrak tuh babi, bisa berabe urusan dengan penduduk asli sini, bisa nuntut hal-hal yang tidak masuk akal.

Masuk ke cerita tentang anjing. Dari kecil gw udah takut anjing. Sebagai orang islam yang memang tidak pernah punya anjing, gonggongan anjing selalu menakutkan. Selain itu gw trauma masa kecil, waktu SD pernah dikejar anjing sepulang sekolah. Beranjak dewasa, ketakutan itu sebenarnya mulai berkurang. Namun tetap saja kalo melihat anjing lewat didepan gw, gw tetep merasa takut,waspada, dan mencoba menghindar. Tapi ketakutan terhadap anjing lebih karena gw takut terkena air liurnya, bakalan rempong banget bersihin najis dari anjing.

Nah, kos gw sekarang itu walaupun kawasan pendatang, ada 2 masjid yg lumayan besar dekat kos, tapi selalu ada aja anjing berkeliaran. Hampir tiap gw berangkat ato pulang kantor selalu ada aja anjing yang lewat di depan gw. Walaupun anjingnya nggak menggonggong atopun ngejar, gw selalu takut. Dan sepertinya gw harus membiasakan diri dengan anjing, soalnya disini kemana-mana selalu aja ketemu anjing. Ada yang punya tips biar nggak takut sama anjing ?

Seperti yang udah gw ceritain sebelumnya, sebagai calon pegawai, gw dan kawan2 PCPM belum dapat rumah dinas, jadi disuruh kos dulu, tapi untung saja dibayarin kantor. Lebih beruntungnya lagi, kos gw bener-bener di depan masjid, sama kayak kos waktu kuliah dulu yang sangat dekat dengan masjid. Keluar kos, gak sampai 50 langkah udah sampai depan pintu masjid. Bahkan bila wudhu setelah mendengar iqomah, terus berangkat ke masjid, itupun masih belum ketinggalan rokaat pertama. Itu pula yang menjadikan moral hazzard punya tempat tinggal di dekat masjid. Hhhe.

Masjid di deket kosan gw ini lumayan gedhe untuk ukuran papua. Yang lebih spesial, ini masjid full AC broo. Jarang-jarang gw lihat masjid yang full AC. Jamaahnya sih standar, paling banyak 2 shaf, sekitar 15-20 orang (untuk sholat selain maghrib dan isya). Tapi imam masjidnya, luar biasa untuk ukuran papua yang mayoritas nonmuslim. Koleksi bacaan suratnnya lengkap, gw jarang denger imam baca surat-surat pendek juz amma. Kalaupun baca juz amma selalu baca surat yg ayatnya diatas 20 ayat. Selain itu bacanya lumayan merdu. Dibandingkan dengan masjid Al Furqon di Depok dulu, lebih enakan sini bacaan imam dan kondisi masjidnya. Semoga dengan kondisi kos dekat masjid dan imam masjid seperti ini, gw bisa selalu menjaga sholat jamaah.

Berapa ongkos kirim dari Jawa ke Jayapura ?

Malam ini saya berbelanja di Hypermart Mall Jayapura. Dulu waktu pertama datang ke Jayapura, saya mengira semua harga barang di kota ini mahal-mahal, seperti yang diberitakan di media-media di Jawa. Memang, minggu-minggu pertama saya datang, saya beli makanan minuman di deket rumah dinas, harganya cukup mahal. Air mineral merk abal-abal ukuran 1 liter harganya rp 5.500. Aqua 1 liter yg dijakarta dijual 3.500 ditoko itu harganya 6.500. Saya anggap wajar lah, karena air mineral berat, dan tentu saja butuh ongkos kirim dari jakarta yg mahal, karena disini Aqua ga ada pabrik lokal.

Namun, stigma mahalnya barang kebutuhan pokok di jayapura hilang ketika saya berbelanja di Hypermart. Harga-harga barang di hypermart hampir sama dengan harga Hypermart di jakarta. Cuma item tertentu saja yang harganya selisih agak besar. Usut punya usut, ternyata hypermart jayapura harganya distandarkan dengan hypermart yg ada di Sulampua (sulawesi,ambon,papua).

Sebagai contoh, karena disini nggak ada yang namanya Aqua galon, disini cuma ada Aqua abal-abal dan itupun refill sendiri di tempat refill yang sumber airnya ntah dari mana. Oleh karena itu saya dan teman-teman biasanya beli air mineral 1 literan, sekalian beli banyak. Tadi, ketika saya mau beli air mineral merk VP (Value Plus, merk buatan hypermart untuk produk2 yang disub-kontrakkan), harganya cuma rp 3.000 per botol yg seliteran. Itupun ditambah harga promo beli dua gratis satu. Saya pun langsung memborong 6 botol. hhe.

Yang saya bingungkan, itu air 1 liter kira-kira beratnya anggap saja 1 kilo, tapi hargannya dijual cuma 3ribu rupiah. Beli dua gratis satu. Jadi anggap saja harganya 2ribu. Sementara produk yang sama di jakarta pun jg dijual 2ribu.. Pertanyaannya, berapakah ongkos kirim dari jakarta ke jayapura ? Airminum VP itu asli dari jakarta, karena saya baca di bungkusnya buatan PT tirtatama Bogor. Mungkinkah biaya kargo jakarta-jayapura kalo dirata-rata sekilonya hanya 500rupiah ?

Sementara itu, kalo saya beli barang di jakarta dan dikirim pake JNE, sekilonya harus ngeluarin duit 70ribu rupiah, kalo pake PT Pos sekilo 55ribu rupiah. Hypermart, dengan ongkos kirim kargo yang kata orang-orang masih mahal aja bisa jual barang dengan harga yang mirip dengan jakarta, apalagi kalau ongkos kirimnya jadi murah ya ? bisa-bisa harga di jakarta dan jayapura nggak ada bedanya...

Minggu kemarin saya juga beli apel Washington di hypermart, harga sekilonya cuma 8ribu rupiah. Murah banget ya. Berapa ongkos kirim dari Washington ke Jakarta ? Trus dari jakarta ke Jayapura ? Aaah, logika berbisnis memang susah untuk dijelaskan kalau tidak turun langsung ke lapangan....

Jayapura, 21.00 30/08/14.
Ditengah kesendirian malam minggu.

SELAMAT TINGGAL AKA

Sore ini ketika tugas di kantor sudah selesai dikerjakan, saya pengen menyambung tulisannya @nuruz tentang motor AKA-nya. Motor AKA-nya mengingatkanku beberapa tahun silam. Lebih tepatnya ketika jaman SMA dulu.

Awalnya saya sudah kenal dengan AKA karena memang Nuruz selalu menaikinya untuk berangkat sekolah. Namun ta’aruf saya dengan AKA lebih intensif ketika kami mengadakan Tour perpisahan SMA. Waktu itu keadaan kami sudah selesai UNAS, dan kalau nggak salah sudah selesai UM UGM juga. Untuk mengisi waktu sekaligus perpisahan SMA, kami KWZ Squad memutuskan untuk Touring ke Tawangmangu, Telaga Sarangan, dan Madiun. Waktu itu kami belum pernah Touring kemanapun, jadi ini adalah touring pertama sekaligus paling jauh.

Hari itu pun tiba. Kami berkumpul di rumah simbah @gusta. Setelah semua berenam terkumpul, kami pun berangkat. Tujuan pertama adalah Tawangmangu. Sebenarnya tidak jauh jarak Jogja-Tawangmangu. Naik motor hanya 2,5 jam. Sampai sana kami berhip-hip hura-hura. Karena saking bersemangatnya, saya sebelum berangkat sempat membuat Stiker yg tulisannya “KWZ was Here”. Hhha Alay banget yaa waktu itu. Dan akhirnya stiker-stiker itu kami tempelkan dimana saja di tempat kami singgah. Bahkan di kemudian hari, beberapa bulan kemudian, ada teman yg dari Tawangmangu bilang kalau stiker itu masih ada disana dan belum hilang. hahaha.

Dari tawangmangu kami menuju ke Sarangan melewati. Waktu itu jalan dari tawangmangu ke Cemoro Sewu ada jalanan yang nanjaknya mungkin hampir mendekati 75 derajat. Waktu itu saya kebetulan kebagian jadi penumpangnya Nuruz dengan motor AKAnya. Karena jalan yang benar-benar nanjak, motor pun di gigi 1. Walaupun sudah gigi satu, motor AKAnya tetap “ngeden-ngeden” dan nggak bisa naik sama sekali. Akhirnya saya iseng lompat dari motor. Motor pun bisa melaju perlahan dan sampai di akhir tanjakan. Namun perlahan motor itu hilang bersama nuruz, sedangkan saya hanya melongo memandangi dari belakang. Akhirnya saya kejar, berlari naik tanjakan. Sampai diatas, nuruz udah agak jauh di depan, saya teriakin dianya baru noleh. Ternyata Nuruz baru sadar kalo saya nggak ada di boncengannya, hha.

Belum selesai sampai situ. Setelah cemara sewu, menuju sarangan, jalan kan turun curam. Waktu itu jalannnya masih pakai jalan yg lama, yg sempit dan aspal masih belum hot mixed. Aspal masih aspal lama, belum tebal, dan itu pun udah rusak dan banyak lubang. Ketika sampai turunan panjang nan curam, kok ya bisa bisanya Nuruz turun dengan gigi 4. Hadooh. Awalnya sih masih enak, turun dengan kecepatan 50an. Kami baru sadar ketika udah mencapai speed 60-70 dan jalanan turunan hampir habis. Itu di ujung jalan, ada jurang dan jalanan berputar 180 derajat (tau lah jalan pegunungan seperti apa). Langsung aku teriak ke nuruz buat ngerem, kita sempet offroad keluar jalur sesaat. Akhirnya dengan pertolongan Allah kami masih diberi kesempatan untuk hidup. Itu kalau benar-benar remnya AKA blong dan AKA keluar offroad tidak bisa masuk ke jalan aspal lagi, tamat lah riwayat saya dan Nuruz.

Setelah selesai touring madiun, 6 bulan kemudian kami mengadakan Tour ke Dieng lagi bersama KWZ Squad. Nuruz masih setia pakai AKAnya. Banyak cerita di setiap touring kami.

Touring bersama AKA ternyata tidak selesai sampai touring itu. Beberapa tahun setelahnya, kami bersepakat untuk touring ke Bandung. Lebih tepatnya temen-temen yang di Jogja, ada Nuruz, Fredo, Gusta, Adit, mereka naik motor dari Jogja ke Bandung. Sedangkan saya sendirian naik motor dari Jakarta ke Bandung (lewat jonggol, dan itu malam hari). Kami pun bertemu di bandung. Nuruz masih dengan motor AKAnya.

Setelah touring bandung itu, saya hanya beberapa kali berjumpa dengan AKA. Akhir kata, saya ingin ikut serta mengucapkan selamat jalan AKA. Semoga dengan terjualnya kamu, tidak menghilangkan memori kami kepadamu.

JAYAPURA KOTA METROPOLITAN


Banyak orang takut ditempatkan di Papua. Banyak orang berfikir bahwa di papua masih sangat tertinggal, sangat kuno, primitif, dst. Begitu pula dengan saya yang berpikiran bila ditempatkan di Papua akan terpinggirkan dari peradaban dunia.

Anggapan itu sirna ketika saya datang ke Jayapura. Dijemput di bandara sentani, saya diantar ke kantor yang akan menjadi tempat OJT selama 3 bulan. Selama perjalanan, jalan utama Bandara-Kota Jayapura sangat mulus. Bahkan bisa dibilang mengalahkan kemulusan jalan protokol di Jakarta yang banyak lubang-lubangnya. Selama perjalanan itu pula saya kagum, ternyata di jayapura tidak sekuno yang saya pikirkan. Jalan raya ramai dengan mobil-mobil bagus berplat DS. Banyak pula mobil baru berplat B (jakarta). Baru-baru ini saya tau kenapa mobil plat B banyak berseliweran di Jayapura. Itu karena biaya On The Road beli mobil baru di Jakarta lebih murah dibandingkan dengan beli mobil baru di Jayapura.

Setelah seminggu disini, saya lebih yakin lagi bahwa kota Jayapura lebih maju daripada kota-kota lain seperti kendari, kupang, ambon, ternate. Di Jayapura sudah franchise2 yang buka gerai. KFC, JCo, Breadtalk, matahari, hypermart, ramayana, dan lain sebagainya. Di Jayapura sudah banyak Mall-Mall berdiri, dan yang paling besar adalah Jayapura Mall. Masuk ke Jayapura Mall tidak ada bedanya dengan masuk ke Margo City, Kuningan City, Citos, PIM, dll... Mall ini sudah berkelas “Jakarta Punya”, bukan mall seperti Detos,ITC, dll. Tenant yang berdiri pun juga tenant berkelas. Ada hypermart, matahari, sport station, Inul Vista, breadtalk, dan yang paling mewah bagi sebuah kota diluar jawa adalah adanya Bioskop. Nggak tanggung-tanggung, yang masuk jayapura adalah bioskop XXI, bukan kelas 21. XXI sini pun nggak kalah update dari Jakarta. Setiap ada film baru pasti yang ngehits hari itu juga tayang di XXI Jayapura.

Setelah tahu kemodern-an Jayapura, saya menjadi lebih bersyukur mendapatkan OJT di sini, dibandingkan dengan teman-teman yang (sorry to say) mendapatkan OJT di Kupang, Ambon, Ternate, Sibolga, Loksumawe, dan kota kecil lainnya. Jarak boleh menjadi yang terjauh, namun kehidupan kota disini lebih modern daripada yang kalian pikirkan (^^)

Internet Kampret Rasa Lelet

Saya kembali merasakan jaman internet tahun 2005an. Disini jangan berharap dengan koneksi internet. Walaupun kantor saya sebelahan dengan kantor Indosat, koneksi internet time out terus. Teknologi 3g belum masuk tanah papua, kecuali 3G telkomsel yang jaringannya juga terbatas. Kalaupun dapat sinyal 3G jangan senang dulu karena bisa jadi itu sinyal boongan, kalaupun sinyal 3G beneran, jangan berharap kecepatannnya bisa kencang. Pun dengan internet di kantor. DImana-mana internet kantor selalu cepat, namun tidak berlaku di kota saya berada saat ini. Internet di kantor kalau jam kerja hanya 64kbps, buka google bisa sampai 30 detik. Saya bisa buka facebook karena sudah jam pulang kerja.

Ternyata permasalahan utama disini adalah belum adanya infrastruktur kabel fiber optik. Katanya sih pemasangan kabel optik baru sampe makassar, ntah kapan bisa sampai papua. Sebagaimana kita tahu kalau koneksi satelit mempunyai banyak keterbatasan terutama dalam masalah bandwith.

Jadi bagi orang-orang yang dulu suka mengeluh jalan-jalan di jawa suka digali pinggir-pinggirnya itu, bertobatlah. Karena dari pemasangan kabel itu lah kalian kalian semua bisa menikmati internet sampai ber MB-MBps.

And the story was started here....

Seperti yang telah diceritain sebelumnya, gw dapet penempatan di Jayapura. Memang sih judulnya baru OJT 3 bulan, tapi berdasarkan data historis 80% OJT itu ya tempat penempatan. Gw selama libur lebaran kemarin sudah mulai berusaha mengikhlaskan diri, menghibur diri kalo penempatan Jayapura itu enak, banyak dinasnya, miles garuda langsung tinggi. Tapi seberapapun gw berusaha menghibur diri, kekhawatiran terbesar itu tidak bisa dipungkiri, yaitu jauh dari keluarga.

Minggu, 3 Agustus 2014. Sore itu dianter sama teman2 kosan, gw berangkat ke bandara naik taksi bareng sama bang Swarez (FE 2004) yang juga dapet penempatan jayapura. Sampai bandara, kumpul sama 2 temen lagi. Kami berempat (Fantastic four, the chosen one) milih untuk masuk lounge setelah checkin daripada nunggu di ruang tunggu, ceritanya sih berfoya-foya dulu sebelum masuk hutan belantara). Masuk lounge citibank, karna ga ada yg punya CC platinum ya kudu bayar 75ribu. Berhubung sudah malam, makanan tinggal dikit. Flight kita jam 21.00, jadi begitu jam menunjukkan 20.30 kami langsung cabut.

Sejak awal gw menyadari kesalahan DSDM dalam membelikan tiket ke Jayapura. Kami dibeliin tiket yang jam 9 malem, artinya itu flight 2x stop walau nggak piindah pesawat, yaitu stop di makassar dan di Biak. Padahal jam 23.30 ada flight direct jakarta-jayapura. Yo wis lah ambil hikmahnya bisa mencicipi bandara biak. Karna 2x stop, yang membuat males adalah baru 2 jam udah landing lagi, jadi nggak bisa tidur nyenyak.

Pesawat gw sampe Jayapura telat 1 jam. Seharusnya di jadwal jam 7.05 pagi sudah sampai, tapi jam 8.15an baru sampai. Di bandara sentani kami sudah dijemput sama driver dari kantor, dan ternyata pagi itu ada anak PCPM 30 juga, mas Iyas dan mas Dicky, yang baru pulang dari libur lebaran. Akhirnya kami berenam diantar driver ke kantor. Sampai kantor baru kami disambut pimpinan dan berkenalan dengan seluruh pegawai kantor. Total ada 30an pegawai organik dan 30an pegawai nonorganik.

Istirahat siang, kami diajak pimpinan makan bareng di restoran dekat kantor. Selesai makan bareng, gw dan teman-teman diantar mentor kami mas Rohli cari kos-kosan Selama OJT 3 bulan kami belum bisa menempati rumah dinas karena sedang full. Cari kosan di jayapura ternyata susah juga, seharian dari siang sampe sore jam 4 kami cari belum dapet. Akhirnya diputuskan malam pertama nginep di rumah dinasnya mas Rohli.

Singkat cerita, kami hari pertama bisa tidur dengan nyenyak karena saking capeknya naik pesawat 9 jam + cari kosan seharian.

Hari pertama, gw udah kesusahan akses internet. Kartu utama gw Indosat, walaupun kantor Indosat berada di samping Bank Indonesia Jayapura, ternyata nggak ada sinyal 3G. Sepertinya sih teknologi 3G Indosat belum menjamah tanah papua. Hanya ada 3G Telkomsel. Akhirnya mau nggak mau gw pindah ke telkomsel untuk akses datanya.

Hal yang paling gw khawatirkan disini adalah menjaga kualitas keimanan. Di sini, masjid ada, tapi susah. Di kantor sih ada mushola dan kalau masuk waktu sholat biasanya ada barengannya. Namun itu hanya untuk dzuhur dan ashar. Maghrib, Isya, Shubuh gimana gw bisa sholat berjamaah. Untung saja Deden bisa diajak berjamaah, namun untuk saat ini saja. Kalau nanti kosan gw kepisah sama dia gimana bisa gw solat jamaah. Masjid nggak ada yang deket kantor, pun juga dengan rumah dinas. Selama disana gw belum pernah denger adzan.

Kabar baiknya, hari pertama kemarin langsung diberi pengarahan sama pimpinan BI Jayapura, gw minggu depan langsung dapet dinas ke manokwari. Yeah, petualangan gw di tanah papua sedang dimulai. Nantikan cerita selanjutnya.

Percaya Takdir


Sore ini adalah sore paling mengejutkan bagi saya. Bukan karna pemilihan pilpres, tapi karena pengumuman lainnya. Sore ini pengumuman yang ditunggu tunggu anak PCPM BI XXXI-2 diumumkan. Semua orang berdebar-debar. 15.30 tepat, HP saya bergetar. Saya cek HP, ada email masuk, judulnya penempatan OJT. Langsung hati saya berdebar. HP saya buka, saya download attachmentnya. Daaaaann....
Tangan saya lemaas, keringat dingin langsung mengucur disekujur tubuh.... Hati saya ingin teriaaak..
Saya baca nama saya, Enggar Estiko Handoko, H6069... Berada di urutan teratas di halaman kedua file attachment itu...
Pikiran saya langsung melayang kemana-mana. Bukan karena saya takut ditempatkan disitu, tapi lebih karena mengkhawatirkan orang tua saya. Bagaimana perasaan mereka kalo tau saya ditempatkan disitu.
Apakah saya bisa bertahan disana ? Apakah saya bisa meninggalkan kehidupan saya selama ini ?
Tapi saya masih percaya, ini semua adalah sebuah grand design, grand design dari Allah untuk kehidupan saya. Terlalu banyak takdir Allah yang awalnya tidak saya sukai akhirnya dalam perjalanannya berakhir indah. Dulu saya memilih untuk kuliah di UI, dan ternyata itu jalan saya untuk bisa berbisnis sambil kuliah dan bisa membiayai kuliah sendiri. Dulu saya sangat tidak bisa menerima kenyataan ketika saya hampir dipastikan keterima di sekolah pilot namun gagal menjadi pilot gara-gara restu orangtua. Namun ternyata Allah menakdirkan akhir yang indah, saya bisa keterima di BI. Paling akhir bulan kemarin, saya kecopetan di kopaja, namun ternyata Allah menggantinya berlipat-lipat. Tidak lama setelah kecopetan, ada promo airasia, dan dari penjualan tiket promo itu saya bisa membeli HP yang lebih baik.
Ya Allah, jika memang ini jalan terbaik yang Engkau pilihkan kepada hamba-Mu ini, saya mohon kuatkan hati saya, kuatkan hati orang tua saya, dan kalau bisa, semoga ini cuma tempat OJT saya, bukan tempat penempatan.
Akhirnya, dengan berat hati, saya akan bilang : JAYAPURAAAAA, I'm Comming !!!!

PERJUANGAN LUAR BIASA PARA ROKER

Pagi ini, seperti biasa, saya berangkat kerja setelah shubuh. Pulang dari masjid, langsung packing dan persiapan, jam 5.15 udah harus berangkat karena mengejar kereta Depok-Tanah abang. Saya suka dengan kereta ini karena belum terlalu penuh. Inilah rutinitas yang saya jalani tiap hari setidaknya 3 bulan belakangan (ditambah 2 bulan waktu di kantor lama). Banyak hal baru yang saya dapatkan dari rutinitas sebagai Roker (Rombongan Kereta).

Kehidupan di Jakarta yang keras menuntut orang-orangnya bekerja lebih keras. Siapa yang tidak mau keras, bisa terlempar. Bahasa ilmiahnya, survival of the fittest, hhe. Begitu pula dengan orang-orang yang bekerja di Jakarta namun rumahnya di pinggiran jakarta. Kebetulan sejak mulai bekerja pertama kali saya memutuskan untuk PP Depok-Jakarta.

Semakin lama jakarta makin sesak. Orang-orang yang males dengan kemacetan memilih komuter sebagai alternatif berangkat dan pulang kantor. Orang-orang Depok-Jakarta semakin pagi dalam berangkat kerja. Dulu kereta jam 6 pagi masih nyaman untuk dinaiki, sekarang kereta jam 5.30 aja udah penuh minta ampun. Dari penuhnya kereta itu banyak cerita yang saya dapatkan.

Seperti pagi ini, saya sampai stasiun jam 5.25. Di pintu, ada anak kecil bingung mau tap tiket, dibelakangnya ada ibunya  yang juga nggak tau bagaimana cara ngetapnya. Mungkin belum terbiasa. Akhirnya saya bantu. Anaknya bisa masuk, tapi ibunya ternyata nggak ikut masuk dan malah ngomong ke saya kalau nitip anaknya sampai stasiun tebet. Ya sudah, saya  berangkat bareng tuh anak. Ngobrol bareng anak itu, ternyata dia baru saja masuk SMP, baru 3 hari masuk. Saya tanya rumahnya dimana, dia jawab di cimanggis.  Weh, lumayan jauh dari stasiun UI. SMPnya di berlokasi di tebet, dekat stasiun. Ternyata SMP 115 Tebet. Saya search di  google ternyata ini SMP favorit, masuk 10 besar di jakarta. Wajar saja dia bela-belain berangkat pagi naik komuter tiap hari. Yang saya pikirkan, ini anak masih kecil, udah merasakan sesaknya kereta di pagi hari, sendirian lagi. Luar biasa menurut saya.

Cerita kedua, saya beberapa kali bertemu dengan ibu tua, mungkin umurnya 60an, yang tiap hari mengantar anaknya berangkat sekolah. Luar biasanya, itu anak mempunyai kebutuhan khusus. Anak itu anak autis.  Umurnya saya kira umur 20an. Luar biasa tiap hari ibu itu mengantar anaknya ke sekolah, kurang tau sekolahnya dimana, tapi yang jelas ibu dan anak itu selalu turun di stasiun pasar minggu. Betapa besarnya kasih ibu kepada anaknya, walaupun anak itu mengidap autis.

Kalau saya turun di gondangdia (kadang saya turun di sudirman), terdapat bapak-bapak buta yang jualan koran tiap pagi. Biasanya saya sudah sampai stasiun gondangdia jam 6.15 pagi, bapak itu sudah siap di posisinya. Kalau ada yang beli, dia biasanya meraba-raba tumpukan koran. Tingkat pertama biasanya kompas,  kedua tempo, ketiga indopos, dan seterusnya. Kadang dia mengambil koran yang tidak sesuai yang diminta. Akhirnya pembeli yg mengambil sendiri. Untuk bayarnya, kalau ada kembalian bapaknya mengambil setumpuk uang di saku lalu mengira-ngira, kalau uang kembalian tidak pas pembelinya mengambil sendiri kembaliannya. Menurutku bapak-bapak tua ini menurutku jauh lebih mulia daripada peminta-minta dan pengamen di jalan. Sering saya miris, ketika di perempatan ada dua orang, pertama penjual koran kedua pengamen. Pertama, penjual koran menawarkan koran ke mobil, biasanya tidak dibeli. Namun dibelakangnya antri pengamen, begitu memetik gitarnya 5 detik, pengemudi mobil memberinya uang setidaknya seribu rupiah. Begitu mudahnya pengamen mendapatkan uang, dan begitu keras dan sabarnya penjaja koran menawarkan koran kepada pembeli. Luar biasanya, penjaja koran itu tidak lantas berubah status menjadi pengamen, dari hari ke hari dia tetap di perempatan itu dan dengan setia menawarkan koran kepada pengendara mobil-motor.



Begitulah beberapa cerita yang saya dapatkan selama menjadi roker 3 bulan terakhir ini. Masih banyak cerita lain, namun karna ketika nulis tulisan ini udah masuk jam kerja kantor, saya sudahi dulu.

Tidak terasa sisa waktuku menikmati keruwetan di Ibukota sudah hampir selesai. Tidak sabar saya menanti pengumuman penempatan di daerah yang rencananya diumumin minggu depan. Saya siap ditempatkan dimana saja, asalkan bukan Jakarta. Yeaah, keluar dari Jakarta !!

KERETA MACET DI PAGI HARI

Selama Ramadhan ini saya sudah bisa ikut alur baru, pulang dari kantor setelah sholat tarawih, sampai kos depok jam 22.00, lanjut tidur. Bangun sahur jam 03.45, lalu dilanjutkan subuhan. Pulang subuhan langsung siap-siap berangkat kantor untuk mengejar kereta Depok-Sudirman jam 5.25. Dengan memakai kereta ini saya bisa berdiri dengan tidak terlalu berdesakan dan biasanya sampai kantor jam 06.15an kalau nggak antri lama di manggarai.  Hari ini pun sama, kecuali satu hal yang tidak sesuai rencana, yaitu kereta mengalami gangguan. Spesialnya lagi, gangguan itu bukan dari kereta lain, melainkan kereta yang saya naiki sendiri, lebih tepatnya lagi di gerbong yang saya naiki.

Kereta Depok-Sudirman berangkat agak telat sedikit, jam 05.35 baru berangkat dr UI. Saya naik bareng Deny. Kereta berjalan cepat, sampai mendekat stasiun cawang tiba-tiba terjadi percikan dari bawah gerbong. Kami segerbong kaget, tiba-tiba lampu di kereta padam semua. Haduuh, hati saya sudah nggak enak. Untung saja kereta berhenti pas di stasiun Cawang, dan pintu gerbong bisa terbuka menggunakan power cadangan yg dimiliki oleh tiap gerbong. Kereta yang penuh dengan Roker (Rombongan Kereta) Depok itu pada berhamburan keluar.

Karena kebetulan mogoknya di Cawang, banyak dari mereka yang kemudian keluar dan nyambung menggunakan busway atau kopaja. Saya masih berusaha menunggu, siapa tau kereta hanya gangguan sebentar. Ditunggu 5 menit, tidak ada tanda-tanda kereta bisa jalan lagi. Akhirnya sebelum semua orang pada keluar stasiun dan pindah busway, saya sudah keluar duluan.



Jujur, seingat saya sudah lebih dari 3 tahun saya tidak menggunakan angkutan Transjakarta. Selama kuliah 4 tahun di depok pun seingat saya hanya menggunakan Transjakarta 4x, itupun karena mengantar temen jalan-jalan dan terpaksa. Saya ingin mencoba lagi Transjakarta (TJ) setelah sekian lama tidak menggunakannya. Karena sudah bisa menggunakan Flazz, saya tidak perlu lagi membeli tiket. TJ pun datang, interval antar TJ di koridor Gatot Subroto tidak lama. Perkiraan saya, TJnya penuh sesak. Memang penuh, tapi ternyata penuh padatnya tidak ada apa-apanya dengan padatnya KRL. Masih OK lah, masih bisa gerak.

Karena belum pernah naik koridor ini, saya bingung mau transit di halte mana biar bisa sampai kantor. Tanya orang sebelah, disuruh transit di halte Polda. Saya pun turun disana, waktu sudah menunjukkan pukul 06.45, harus buru2 agar sampai kantor sebelum jam 07.10. Ternyata, dari halte polda ke halte Bendungan Hilir itu jauuh skywalknya, mungkin skywalk TJ terjauh kali ya.. Panjangnya sekitar 1 km.

Akhirnya setelah perjalanan panjang Depok-Cawang, lanjut TJ Cawang-BI, bisa sampai di depan mesin absen jam 07.05. Alhamdulillah.

InsyaAllah tinggal satu bulan lagi saya  berada di  Jakarta. Setelah lebaran InsyaAllah penempatan daerah.  Daerah manapun itu, selama masih ada bandara, saya OK saja. Sudah terlalu lama saya berada di kota metropolitan ini. Sudah terlalu lama saya menahan rindu akan ketidakmacetan. Penempatan "Daerah" adalah pelarian saya terhadap semua ini, apalagi kalau itu "Daerah Istimewa Yogyakarta", bukan "Daerah Khusus Ibukota Jakarta".


Jakarta, 3 Juli 2014.
Di tengah dinginnya AC kantor di pagi hari.

MAHALNYA HARGA SEBUAH PEMBELAJARAN

Kamis malam saya memang sampai larut malam di Kantor. Malam itu memang menjadi rekor tersendiri, saya pulang kantor jam 23.30, itupun izin duluan ke teman sekelompok yang masih sibuk mengerjakan tugas di kantor sampai jam 01.00. Itu pertama kalinya juga saya naik KRL terakhir, yang lewat stasiun gondangdia pukul 23.45. KRL terakhir tujuan Bogor itu telat, baru jam 00.00 tepat sampai Gondangdia. Sampai kos jam 1 dan langsung tidur. 

Belum  sempat bermimpi, alarm sudah berbunyi, menandakan pukul 04.15. Walaupun mata masih ¾ tertutup, saya terpaksa ambil handuk dan mandi. Selesai subuhan di masjid, langsung beres-beres bentar dan berangkat kerja. Saya memang senang mengejar kereta jam 05.25, karena itu kereta berangkat dari stasiun Depok, masih sepi.

Sampai kantor masih jam 06.15, saya sarapan  dulu.  Hari itu memang hari untuk presentasi paper 2 mingguan, itulah sebabnya saya pulang dini hari untuk menyelesaikan paper kelompok. Baru sebentar duduk, eh dapet kabar kalau presentasinya diajuin jam 10.00, bukan jam 14.00 seperti di jadwal semula. Langsung saja kita sekelompok haptic, langsung print makalah dan PPT seadanya. Pukul 10 presentasi dimulai, karena yang kerja sebenarnya Cuma Anita, Hanif, dan Pras, dan saya hanya sebagai supporting, tentu saja presentasi dan tanya jawab lebih banyak mereka yang aktif. Saya mah diam aja, berharap nggak ditanyain G5 G6. Hha.

Selesai sholat jumat, kita ngerjain revisi makalah. Tapi karena udah males, ya udah revisi dikerjakan seadanya, banyakan ngobrol, main ping pong, dan ngePES. Hhe. Kalau biasanya pulang jam 20.00 keatas, kali ini kita pulang ba’da maghrib.

Selepas maghrib pas mau pulang, ada ide buat jalan-jalan di PRJ Monas dulu bareng temen2. Masak kantor di depan monas tapi belum nengokin PRJ Monas. Disana cuma makan doang. Jam 19.00 kami memutuskan untuk pulang. Pulang jam segini memang tanggung, karena kereta masih penuh dan jalanan macet.   Benar saja, kopaja 502 menjadi ramai banget. Karena nggak kebagian tempat duduk, saya berdiri di bagian belakang. Dari depan BI sampai kolong stasiun Gondangdia Cuma berjarak 1 KM, biasanya Cuma 5 menit kopaja, eh ini sampai 15 menitan. Karena lama di kopaja, saya bengong ditengah keramaian, bayangin gimana jadinya kalo sepanjang karir kerja di Jakarta yang penuh dengan orang dan kemacetan. 

Beberapa saat kemudian saya baru sadar kalau ternyata udah mau sampai kolong stasiun. Dengan pikiran yang agak blank, saya mencoba keluar, namun karena saking ramainya, susah sekali. Permisi sana sini, tetep aja ga bisa gerak, saya . Saya coba dorong dengan tenaga, akhirnya bisa mencapai depan pintu. Di depan pintu kopaja, saya coba meraba celana, eh kok rasa-rasanya ada yang hilang.  HP SAYA HILAAANG..Langsung saya balik badan, saya merasa orang yang menghalangi saya tadilah yang mengambil HP. Orang itu saya tanyain, eh dia malah balik nanya tadi naiknya darimana, mungkin tertinggal di tas, dll. Saya makin curiga. Akhirnya saya mennggeledah jaket dan celana dia. Nggak nemu. Saya yakin HP saya udah dipindahtangankan ke gerombolan mereka  yg di sebelah. Haduuh, makin kacau. Kalau saya paksakan geledah orang2 yg disampingnya, bisa saja HP saya temukan, tapi kalau turun Bus, kemungkinan besar saya bisa habis dikeroyok rombongan pencopet itu. Ya udah lah, daripada kehilangan nyawa mending kehilangan HP. Untung saja dompet masih ada di saku celana yang satunya.

Dengan langkah gontai, saya turun bus, jalan ke stasiun. Sepanjang perjalanan pulang, saya menyesali kenapa tadi naik kopaja yang itu, kenapa tadi pulang langsung pulang nggak sholat isya di masjid BI dulu, kenapa tadi nggak pulang tenggo saja, kenapa, kenapaa. Sampai akhirnya saya sadar, mungkin itu peringatan Allah atas kesombongan  saya beberapa minggu ini. Memang, menjelang ramadhan ini saya bukannya mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci, malah sibuk dengan kerjaan, galau. Banyak perkataan saya yg mungkin terlihat agak sombong akhir2 ini, saya mohon maaf bila ada pihak yang merasa tersakiti.

Yo wis lah aku ikhlas, #akurapopo. Akhirnya, hari sabtu kemarin saya langsung beli HP lagi di Jakarta Fair, dengan merk yang sama, IMO, dan tipe yang (agak) sama. Semoga kali ini HP saya nggak hilang lagi dengan cara yang menyakitkan.
Depok, 15 Juni 2014.
Di tengah ramainya debat capres di TV.

Fase 1 PCPM : SAMAPTA

Samapta artinya siap sedia. Latihan kesamaptaan bisa diartikan sebagai latihan untuk selalu siap sedia. Entah kenapa setiap pendidikan calon pegawai di hampir semua BUMN dan instansi pemerintah selalu saja ada pendidikan kesamaptaan ini, walau mungkin dengan berbeda nama. Tidak terkecuali gw, sebagai bagian dari Program Pendidikan Calon Pegawai Muda (PCPM) BI, semua peserta wajib dan sangat wajib untuk mengikuti pendidikan kesamaptaan.



Kesamaptaan PCPM angkatan gw (XXXI-2 <= baca: tiga satu dua) dilaksanakan pada tanggal 5-16 Februari 2014 bertempat di Setukpa Polri (Sekolah Pembentukan Perwira Polri) di Sukabumi. Nyambung dari postingan gw sebelumnya, kami berangkat dari kantor Thamrin siang hari, setelah paginya diadakan pembukaan dan pelantikan PCPM 31-2. Kami satu angkatan 213 orang, berangkat menggunakan 4 bus. Busnya bukan bus abal-abal, white horse  cuy...

Berangkat sekitar jam 10.30 pagi, sampai di sukabumi jam 3 sore. Mulai lah kami menikmati menu pendidikan ala samapta. Malam harinya, langsung diadakan apel malam pertama, sekaligus malam perpisahan dengan segala HP dan gadget elektronik. Semua harus dikumpulkan. Karena kita masih cupu, nggak ada yg berani nyembunyiin HP ato paling nggak Ipod di kamar  (walo bbrp minggu lalu gw denger ada satu temen yg berani nyembunyiin Ipod dan nggak ketahuan).



Banyak yang bilang kalau samapta di Polri nggak parah-parah amat, lebih parah di Kopassus ato TNI. Tapi tetap aja banyak temen yang mengeluh dan banyak yang sakit. Kami ber-Samapta ria kurang lebih dua minggu, lebih tepatnya 12 hari. 12 hari disana udah seperti tiga bulan lamanya. Banyak yang hari kedua udah pengen pulang, udah kangen mama. hha.

Hari pertama, setelah upacara pembukaan, kami langsung digenjot lari-lari dan di tes fisik. Tesnya simpel sih, cuma disuruh lari keliling lapangan selama 12 menit, dilanjutkan dengan sit up 2 menit, terus push up 2 menit, lanjut lagi pull up, dan terakhir disuruh lari membentuk angka 8 dua kali putaran. Sebenarnya nggak berat-berat banget, tapi karena itu dilakukan di siang hari yang terik, dan kami sebagian besar jarang berolahraga, akhirnya banyak yang merasa sangat capek. Hari pertama sudah sukses membuat wajah kami semakin menghitam.

=========== bersambung, lagi males nulis, hhaha ================

Update 2 Bulan di BI

Tiga bulan lebih gw ga nulis lagi di blog ini. Padahal akhir taun lalu waktu beli domain .info, gw udah berniat bakal nulis minimal sebulan 2x. Hha, niat tinggal lah niat. Apa daya, kemalesan gw terlalu besar untuk dilawan. :D

Kali ini gw mau nulis kesibukan baru gw selama di BI. Seperti yang udah gw post sebelumnya, 31 Desember 2013 kemarin pengumuman BI keluar. Dan kebetulan nama gw ada di daftar calon peserta PCPM XXXI-2 (Dibaca : 31-2). Singkat cerita, gw memutuskan buat ngambil tuh kesempatan, walaupun sebenarnya dalam hati gw masih berharap di Garuda yg ternyata mem-PHP-in gw.

Selama bulan Januari, gw sibuk nyiapin berkas buat daftar ulang. Sebenarnya nggak sibuk juga sih. hhe. Yang dipersiapkan dikit kok, cuma legalisir ijazah SD sampai SMA. Eh legalisir S1 juga deng. Selain itu, perlu dipersiapkan SKCK, surat pernyataan belum menikah dari kelurahan, KTP, KK, dan lain lain. Hha lain-lainnya itu gw lupa. Sewaktu legalisir SD-SMP-SMA, adalah kesempatan untuk nengok mantan sekolah yg udah mengantarkan gw sampai sekarang ini. Disitulah ketemu ama guru-guru yg dulu ngajar gw. Tapi sayang, waktu gw dateng kesana minta legalisiran, anak-anak sekolah di Jogja masih dalam masa libur semesteran. Akhirnya cuma ketemu beberapa guru.

Tanggal 3 Februari, gw daftar ulang di BI. Di situlah pertama kali ketemu dengan teman-teman satu angkatan PCPM. PCPM 31 ini adalah angkatan terbesar dalam sejarah penerimaan pegawai di BI. Angkatan 31 dibagi menjadi 2, yang pertama PCPM 31-1 berisikan para orang-orang pintar dari universitas terbaik se-Indonesia, yg IPKnya aja minimal 3,5. Hhe. Bayangin dengan IPK gw yg jauh dari 3,5. Total dari angkatan 31-1 itu ada 65 orang. Ceweknya 70%, sisanya cowok. Sedangkan gw masuk PCPM angkatan 31-2. Harusnya yang diterima di angkatan ini ada 215 orang, namun ada 2 orang yg mengundurkan diri. Denger-denger sih sebenarnya yg mengundurkan diri lebih dari 2 orang, tapi diisi oleh orang yg ada di peringkat bawahnya. Akhirnya angkatan gw yg mendaftarkan ulang dan resmi jadi PCPM 31-2 ada 213 orang. Kebalikan dari 31-1, angkatan gw 70%-nya cowok. Katanya, banyakan cowok karna sebagian besar dari kami akan ditempatkan di luar Jakarta. Yeees, bisa keluar dari Jakarta, tapi Nooo kalo ditempatin di daerah terpencil semacam sibolga, papua, maluku, dll. Tapi sebagai PCPM, dalam kontrak sudah distate kalo kita harus siap ditempatkan dimana saja. Gw sih siap2 aja selama masih mbujang :D

Hari ketiga, kami dilantik resmi menjadi PCPM BI 31 setelah sebelumnya diambil sumpah dibawah Al Quran. Kemudian siangnya, kami langsung diarak pakai bus ke Sukabumi. Untuk apa ? Apalagi kalau bukan pelatihan keSAMAPTAan. Yeeeeah, masing-masing dari kami berangkat dengan gembira :lol:.

Tulisan lengkap tentang samapta gw post di postingan tersendiri (kalau nggak males nulis :D).