KERETA MACET DI PAGI HARI

Selama Ramadhan ini saya sudah bisa ikut alur baru, pulang dari kantor setelah sholat tarawih, sampai kos depok jam 22.00, lanjut tidur. Bangun sahur jam 03.45, lalu dilanjutkan subuhan. Pulang subuhan langsung siap-siap berangkat kantor untuk mengejar kereta Depok-Sudirman jam 5.25. Dengan memakai kereta ini saya bisa berdiri dengan tidak terlalu berdesakan dan biasanya sampai kantor jam 06.15an kalau nggak antri lama di manggarai.  Hari ini pun sama, kecuali satu hal yang tidak sesuai rencana, yaitu kereta mengalami gangguan. Spesialnya lagi, gangguan itu bukan dari kereta lain, melainkan kereta yang saya naiki sendiri, lebih tepatnya lagi di gerbong yang saya naiki.

Kereta Depok-Sudirman berangkat agak telat sedikit, jam 05.35 baru berangkat dr UI. Saya naik bareng Deny. Kereta berjalan cepat, sampai mendekat stasiun cawang tiba-tiba terjadi percikan dari bawah gerbong. Kami segerbong kaget, tiba-tiba lampu di kereta padam semua. Haduuh, hati saya sudah nggak enak. Untung saja kereta berhenti pas di stasiun Cawang, dan pintu gerbong bisa terbuka menggunakan power cadangan yg dimiliki oleh tiap gerbong. Kereta yang penuh dengan Roker (Rombongan Kereta) Depok itu pada berhamburan keluar.

Karena kebetulan mogoknya di Cawang, banyak dari mereka yang kemudian keluar dan nyambung menggunakan busway atau kopaja. Saya masih berusaha menunggu, siapa tau kereta hanya gangguan sebentar. Ditunggu 5 menit, tidak ada tanda-tanda kereta bisa jalan lagi. Akhirnya sebelum semua orang pada keluar stasiun dan pindah busway, saya sudah keluar duluan.



Jujur, seingat saya sudah lebih dari 3 tahun saya tidak menggunakan angkutan Transjakarta. Selama kuliah 4 tahun di depok pun seingat saya hanya menggunakan Transjakarta 4x, itupun karena mengantar temen jalan-jalan dan terpaksa. Saya ingin mencoba lagi Transjakarta (TJ) setelah sekian lama tidak menggunakannya. Karena sudah bisa menggunakan Flazz, saya tidak perlu lagi membeli tiket. TJ pun datang, interval antar TJ di koridor Gatot Subroto tidak lama. Perkiraan saya, TJnya penuh sesak. Memang penuh, tapi ternyata penuh padatnya tidak ada apa-apanya dengan padatnya KRL. Masih OK lah, masih bisa gerak.

Karena belum pernah naik koridor ini, saya bingung mau transit di halte mana biar bisa sampai kantor. Tanya orang sebelah, disuruh transit di halte Polda. Saya pun turun disana, waktu sudah menunjukkan pukul 06.45, harus buru2 agar sampai kantor sebelum jam 07.10. Ternyata, dari halte polda ke halte Bendungan Hilir itu jauuh skywalknya, mungkin skywalk TJ terjauh kali ya.. Panjangnya sekitar 1 km.

Akhirnya setelah perjalanan panjang Depok-Cawang, lanjut TJ Cawang-BI, bisa sampai di depan mesin absen jam 07.05. Alhamdulillah.

InsyaAllah tinggal satu bulan lagi saya  berada di  Jakarta. Setelah lebaran InsyaAllah penempatan daerah.  Daerah manapun itu, selama masih ada bandara, saya OK saja. Sudah terlalu lama saya berada di kota metropolitan ini. Sudah terlalu lama saya menahan rindu akan ketidakmacetan. Penempatan "Daerah" adalah pelarian saya terhadap semua ini, apalagi kalau itu "Daerah Istimewa Yogyakarta", bukan "Daerah Khusus Ibukota Jakarta".


Jakarta, 3 Juli 2014.
Di tengah dinginnya AC kantor di pagi hari.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon