Jumat, 18 Juli 2014

PERJUANGAN LUAR BIASA PARA ROKER

Pagi ini, seperti biasa, saya berangkat kerja setelah shubuh. Pulang dari masjid, langsung packing dan persiapan, jam 5.15 udah harus berangkat karena mengejar kereta Depok-Tanah abang. Saya suka dengan kereta ini karena belum terlalu penuh. Inilah rutinitas yang saya jalani tiap hari setidaknya 3 bulan belakangan (ditambah 2 bulan waktu di kantor lama). Banyak hal baru yang saya dapatkan dari rutinitas sebagai Roker (Rombongan Kereta).

Kehidupan di Jakarta yang keras menuntut orang-orangnya bekerja lebih keras. Siapa yang tidak mau keras, bisa terlempar. Bahasa ilmiahnya, survival of the fittest, hhe. Begitu pula dengan orang-orang yang bekerja di Jakarta namun rumahnya di pinggiran jakarta. Kebetulan sejak mulai bekerja pertama kali saya memutuskan untuk PP Depok-Jakarta.

Semakin lama jakarta makin sesak. Orang-orang yang males dengan kemacetan memilih komuter sebagai alternatif berangkat dan pulang kantor. Orang-orang Depok-Jakarta semakin pagi dalam berangkat kerja. Dulu kereta jam 6 pagi masih nyaman untuk dinaiki, sekarang kereta jam 5.30 aja udah penuh minta ampun. Dari penuhnya kereta itu banyak cerita yang saya dapatkan.

Seperti pagi ini, saya sampai stasiun jam 5.25. Di pintu, ada anak kecil bingung mau tap tiket, dibelakangnya ada ibunya  yang juga nggak tau bagaimana cara ngetapnya. Mungkin belum terbiasa. Akhirnya saya bantu. Anaknya bisa masuk, tapi ibunya ternyata nggak ikut masuk dan malah ngomong ke saya kalau nitip anaknya sampai stasiun tebet. Ya sudah, saya  berangkat bareng tuh anak. Ngobrol bareng anak itu, ternyata dia baru saja masuk SMP, baru 3 hari masuk. Saya tanya rumahnya dimana, dia jawab di cimanggis.  Weh, lumayan jauh dari stasiun UI. SMPnya di berlokasi di tebet, dekat stasiun. Ternyata SMP 115 Tebet. Saya search di  google ternyata ini SMP favorit, masuk 10 besar di jakarta. Wajar saja dia bela-belain berangkat pagi naik komuter tiap hari. Yang saya pikirkan, ini anak masih kecil, udah merasakan sesaknya kereta di pagi hari, sendirian lagi. Luar biasa menurut saya.

Cerita kedua, saya beberapa kali bertemu dengan ibu tua, mungkin umurnya 60an, yang tiap hari mengantar anaknya berangkat sekolah. Luar biasanya, itu anak mempunyai kebutuhan khusus. Anak itu anak autis.  Umurnya saya kira umur 20an. Luar biasa tiap hari ibu itu mengantar anaknya ke sekolah, kurang tau sekolahnya dimana, tapi yang jelas ibu dan anak itu selalu turun di stasiun pasar minggu. Betapa besarnya kasih ibu kepada anaknya, walaupun anak itu mengidap autis.

Kalau saya turun di gondangdia (kadang saya turun di sudirman), terdapat bapak-bapak buta yang jualan koran tiap pagi. Biasanya saya sudah sampai stasiun gondangdia jam 6.15 pagi, bapak itu sudah siap di posisinya. Kalau ada yang beli, dia biasanya meraba-raba tumpukan koran. Tingkat pertama biasanya kompas,  kedua tempo, ketiga indopos, dan seterusnya. Kadang dia mengambil koran yang tidak sesuai yang diminta. Akhirnya pembeli yg mengambil sendiri. Untuk bayarnya, kalau ada kembalian bapaknya mengambil setumpuk uang di saku lalu mengira-ngira, kalau uang kembalian tidak pas pembelinya mengambil sendiri kembaliannya. Menurutku bapak-bapak tua ini menurutku jauh lebih mulia daripada peminta-minta dan pengamen di jalan. Sering saya miris, ketika di perempatan ada dua orang, pertama penjual koran kedua pengamen. Pertama, penjual koran menawarkan koran ke mobil, biasanya tidak dibeli. Namun dibelakangnya antri pengamen, begitu memetik gitarnya 5 detik, pengemudi mobil memberinya uang setidaknya seribu rupiah. Begitu mudahnya pengamen mendapatkan uang, dan begitu keras dan sabarnya penjaja koran menawarkan koran kepada pembeli. Luar biasanya, penjaja koran itu tidak lantas berubah status menjadi pengamen, dari hari ke hari dia tetap di perempatan itu dan dengan setia menawarkan koran kepada pengendara mobil-motor.



Begitulah beberapa cerita yang saya dapatkan selama menjadi roker 3 bulan terakhir ini. Masih banyak cerita lain, namun karna ketika nulis tulisan ini udah masuk jam kerja kantor, saya sudahi dulu.

Tidak terasa sisa waktuku menikmati keruwetan di Ibukota sudah hampir selesai. Tidak sabar saya menanti pengumuman penempatan di daerah yang rencananya diumumin minggu depan. Saya siap ditempatkan dimana saja, asalkan bukan Jakarta. Yeaah, keluar dari Jakarta !!


EmoticonEmoticon