BABI RABIES, ANJING NGEPET, DAN MASJID BER-AC

Kali ini gw pengen cerita tentang babi, anjing, dan masjid. Dimulai dari Babi. Di Tanah Papua, babi merupakan bahan makanan yang enak sekali. Orang asli papua senang makan babi. Walaupun begitu, harga babi disini katanya sih tergolong mahal. Itu pula yang menyebabkan kenapa di Jayapura jarang ada menu babi. Kalau di kota yang mayoritas non-muslim seperti Manado ato Toba, untuk mengidentifikasi mana warung yg menyediakan menu halal dan mana yang abu-abu,bisa dilihat dari namanya. Biasanya warung itu akan menuliskan "Warung Muslim" ato menambahkan kata Halal di bawah tulisan warungnya. Namun di Jayapura, nggak ada warung seperti itu. Kenapa ? Pertama tadi, karena harga babi mahal disini sehingga warung murahan jarang menyediakan menu babi, yang kedua adalah karena sepengetahuanku 95% ato bahkan 98% penjual warung makan di sini adalah pendatang, bisa pendatang dari jawa, dari bugis, ato suku lain. Ntar deh gw buat tulisan sendiri tentang perekonomian papua.

Nah, tadi sore, gw niatnya mau pergi ke mall. Keluar kosan, baru beberapa langkah gw kaget dengan adanya mobil pick up yang membawa dua babi besar. Bayangkan, mobil pick up yg gedhe itu cuma bisa diisi dua babi, babi ternak yg warnanya merah muda itu lo. Gilak, gedhe banget. Nggak tau itu mau dikemanain tuh babi. Jadi harus lebih hati-hati lagi nih gw untuk cari makan.

Cerita babi, gw jadi inget 2 minggu lalu ketika dinas pertama kalinya ke Manokwari. Waktu itu gw sama senior baru keluar dari bandara, pakai mobil sewaan. Belum ada 1 kilo keluar dari kawasan bandara, gw dikagetin sama supir yg ngerem mendadak. Gw lihat depan, ternyata ada 1 babi dan beberapa anak-anaknya yang nyelonong lewat di depan mobil. Hampir aja tertabrak. Kalau saja tertabrak tuh babi, bisa berabe urusan dengan penduduk asli sini, bisa nuntut hal-hal yang tidak masuk akal.

Masuk ke cerita tentang anjing. Dari kecil gw udah takut anjing. Sebagai orang islam yang memang tidak pernah punya anjing, gonggongan anjing selalu menakutkan. Selain itu gw trauma masa kecil, waktu SD pernah dikejar anjing sepulang sekolah. Beranjak dewasa, ketakutan itu sebenarnya mulai berkurang. Namun tetap saja kalo melihat anjing lewat didepan gw, gw tetep merasa takut,waspada, dan mencoba menghindar. Tapi ketakutan terhadap anjing lebih karena gw takut terkena air liurnya, bakalan rempong banget bersihin najis dari anjing.

Nah, kos gw sekarang itu walaupun kawasan pendatang, ada 2 masjid yg lumayan besar dekat kos, tapi selalu ada aja anjing berkeliaran. Hampir tiap gw berangkat ato pulang kantor selalu ada aja anjing yang lewat di depan gw. Walaupun anjingnya nggak menggonggong atopun ngejar, gw selalu takut. Dan sepertinya gw harus membiasakan diri dengan anjing, soalnya disini kemana-mana selalu aja ketemu anjing. Ada yang punya tips biar nggak takut sama anjing ?

Seperti yang udah gw ceritain sebelumnya, sebagai calon pegawai, gw dan kawan2 PCPM belum dapat rumah dinas, jadi disuruh kos dulu, tapi untung saja dibayarin kantor. Lebih beruntungnya lagi, kos gw bener-bener di depan masjid, sama kayak kos waktu kuliah dulu yang sangat dekat dengan masjid. Keluar kos, gak sampai 50 langkah udah sampai depan pintu masjid. Bahkan bila wudhu setelah mendengar iqomah, terus berangkat ke masjid, itupun masih belum ketinggalan rokaat pertama. Itu pula yang menjadikan moral hazzard punya tempat tinggal di dekat masjid. Hhhe.

Masjid di deket kosan gw ini lumayan gedhe untuk ukuran papua. Yang lebih spesial, ini masjid full AC broo. Jarang-jarang gw lihat masjid yang full AC. Jamaahnya sih standar, paling banyak 2 shaf, sekitar 15-20 orang (untuk sholat selain maghrib dan isya). Tapi imam masjidnya, luar biasa untuk ukuran papua yang mayoritas nonmuslim. Koleksi bacaan suratnnya lengkap, gw jarang denger imam baca surat-surat pendek juz amma. Kalaupun baca juz amma selalu baca surat yg ayatnya diatas 20 ayat. Selain itu bacanya lumayan merdu. Dibandingkan dengan masjid Al Furqon di Depok dulu, lebih enakan sini bacaan imam dan kondisi masjidnya. Semoga dengan kondisi kos dekat masjid dan imam masjid seperti ini, gw bisa selalu menjaga sholat jamaah.

Berapa ongkos kirim dari Jawa ke Jayapura ?

Malam ini saya berbelanja di Hypermart Mall Jayapura. Dulu waktu pertama datang ke Jayapura, saya mengira semua harga barang di kota ini mahal-mahal, seperti yang diberitakan di media-media di Jawa. Memang, minggu-minggu pertama saya datang, saya beli makanan minuman di deket rumah dinas, harganya cukup mahal. Air mineral merk abal-abal ukuran 1 liter harganya rp 5.500. Aqua 1 liter yg dijakarta dijual 3.500 ditoko itu harganya 6.500. Saya anggap wajar lah, karena air mineral berat, dan tentu saja butuh ongkos kirim dari jakarta yg mahal, karena disini Aqua ga ada pabrik lokal.

Namun, stigma mahalnya barang kebutuhan pokok di jayapura hilang ketika saya berbelanja di Hypermart. Harga-harga barang di hypermart hampir sama dengan harga Hypermart di jakarta. Cuma item tertentu saja yang harganya selisih agak besar. Usut punya usut, ternyata hypermart jayapura harganya distandarkan dengan hypermart yg ada di Sulampua (sulawesi,ambon,papua).

Sebagai contoh, karena disini nggak ada yang namanya Aqua galon, disini cuma ada Aqua abal-abal dan itupun refill sendiri di tempat refill yang sumber airnya ntah dari mana. Oleh karena itu saya dan teman-teman biasanya beli air mineral 1 literan, sekalian beli banyak. Tadi, ketika saya mau beli air mineral merk VP (Value Plus, merk buatan hypermart untuk produk2 yang disub-kontrakkan), harganya cuma rp 3.000 per botol yg seliteran. Itupun ditambah harga promo beli dua gratis satu. Saya pun langsung memborong 6 botol. hhe.

Yang saya bingungkan, itu air 1 liter kira-kira beratnya anggap saja 1 kilo, tapi hargannya dijual cuma 3ribu rupiah. Beli dua gratis satu. Jadi anggap saja harganya 2ribu. Sementara produk yang sama di jakarta pun jg dijual 2ribu.. Pertanyaannya, berapakah ongkos kirim dari jakarta ke jayapura ? Airminum VP itu asli dari jakarta, karena saya baca di bungkusnya buatan PT tirtatama Bogor. Mungkinkah biaya kargo jakarta-jayapura kalo dirata-rata sekilonya hanya 500rupiah ?

Sementara itu, kalo saya beli barang di jakarta dan dikirim pake JNE, sekilonya harus ngeluarin duit 70ribu rupiah, kalo pake PT Pos sekilo 55ribu rupiah. Hypermart, dengan ongkos kirim kargo yang kata orang-orang masih mahal aja bisa jual barang dengan harga yang mirip dengan jakarta, apalagi kalau ongkos kirimnya jadi murah ya ? bisa-bisa harga di jakarta dan jayapura nggak ada bedanya...

Minggu kemarin saya juga beli apel Washington di hypermart, harga sekilonya cuma 8ribu rupiah. Murah banget ya. Berapa ongkos kirim dari Washington ke Jakarta ? Trus dari jakarta ke Jayapura ? Aaah, logika berbisnis memang susah untuk dijelaskan kalau tidak turun langsung ke lapangan....

Jayapura, 21.00 30/08/14.
Ditengah kesendirian malam minggu.

SELAMAT TINGGAL AKA

Sore ini ketika tugas di kantor sudah selesai dikerjakan, saya pengen menyambung tulisannya @nuruz tentang motor AKA-nya. Motor AKA-nya mengingatkanku beberapa tahun silam. Lebih tepatnya ketika jaman SMA dulu.

Awalnya saya sudah kenal dengan AKA karena memang Nuruz selalu menaikinya untuk berangkat sekolah. Namun ta’aruf saya dengan AKA lebih intensif ketika kami mengadakan Tour perpisahan SMA. Waktu itu keadaan kami sudah selesai UNAS, dan kalau nggak salah sudah selesai UM UGM juga. Untuk mengisi waktu sekaligus perpisahan SMA, kami KWZ Squad memutuskan untuk Touring ke Tawangmangu, Telaga Sarangan, dan Madiun. Waktu itu kami belum pernah Touring kemanapun, jadi ini adalah touring pertama sekaligus paling jauh.

Hari itu pun tiba. Kami berkumpul di rumah simbah @gusta. Setelah semua berenam terkumpul, kami pun berangkat. Tujuan pertama adalah Tawangmangu. Sebenarnya tidak jauh jarak Jogja-Tawangmangu. Naik motor hanya 2,5 jam. Sampai sana kami berhip-hip hura-hura. Karena saking bersemangatnya, saya sebelum berangkat sempat membuat Stiker yg tulisannya “KWZ was Here”. Hhha Alay banget yaa waktu itu. Dan akhirnya stiker-stiker itu kami tempelkan dimana saja di tempat kami singgah. Bahkan di kemudian hari, beberapa bulan kemudian, ada teman yg dari Tawangmangu bilang kalau stiker itu masih ada disana dan belum hilang. hahaha.

Dari tawangmangu kami menuju ke Sarangan melewati. Waktu itu jalan dari tawangmangu ke Cemoro Sewu ada jalanan yang nanjaknya mungkin hampir mendekati 75 derajat. Waktu itu saya kebetulan kebagian jadi penumpangnya Nuruz dengan motor AKAnya. Karena jalan yang benar-benar nanjak, motor pun di gigi 1. Walaupun sudah gigi satu, motor AKAnya tetap “ngeden-ngeden” dan nggak bisa naik sama sekali. Akhirnya saya iseng lompat dari motor. Motor pun bisa melaju perlahan dan sampai di akhir tanjakan. Namun perlahan motor itu hilang bersama nuruz, sedangkan saya hanya melongo memandangi dari belakang. Akhirnya saya kejar, berlari naik tanjakan. Sampai diatas, nuruz udah agak jauh di depan, saya teriakin dianya baru noleh. Ternyata Nuruz baru sadar kalo saya nggak ada di boncengannya, hha.

Belum selesai sampai situ. Setelah cemara sewu, menuju sarangan, jalan kan turun curam. Waktu itu jalannnya masih pakai jalan yg lama, yg sempit dan aspal masih belum hot mixed. Aspal masih aspal lama, belum tebal, dan itu pun udah rusak dan banyak lubang. Ketika sampai turunan panjang nan curam, kok ya bisa bisanya Nuruz turun dengan gigi 4. Hadooh. Awalnya sih masih enak, turun dengan kecepatan 50an. Kami baru sadar ketika udah mencapai speed 60-70 dan jalanan turunan hampir habis. Itu di ujung jalan, ada jurang dan jalanan berputar 180 derajat (tau lah jalan pegunungan seperti apa). Langsung aku teriak ke nuruz buat ngerem, kita sempet offroad keluar jalur sesaat. Akhirnya dengan pertolongan Allah kami masih diberi kesempatan untuk hidup. Itu kalau benar-benar remnya AKA blong dan AKA keluar offroad tidak bisa masuk ke jalan aspal lagi, tamat lah riwayat saya dan Nuruz.

Setelah selesai touring madiun, 6 bulan kemudian kami mengadakan Tour ke Dieng lagi bersama KWZ Squad. Nuruz masih setia pakai AKAnya. Banyak cerita di setiap touring kami.

Touring bersama AKA ternyata tidak selesai sampai touring itu. Beberapa tahun setelahnya, kami bersepakat untuk touring ke Bandung. Lebih tepatnya temen-temen yang di Jogja, ada Nuruz, Fredo, Gusta, Adit, mereka naik motor dari Jogja ke Bandung. Sedangkan saya sendirian naik motor dari Jakarta ke Bandung (lewat jonggol, dan itu malam hari). Kami pun bertemu di bandung. Nuruz masih dengan motor AKAnya.

Setelah touring bandung itu, saya hanya beberapa kali berjumpa dengan AKA. Akhir kata, saya ingin ikut serta mengucapkan selamat jalan AKA. Semoga dengan terjualnya kamu, tidak menghilangkan memori kami kepadamu.

JAYAPURA KOTA METROPOLITAN


Banyak orang takut ditempatkan di Papua. Banyak orang berfikir bahwa di papua masih sangat tertinggal, sangat kuno, primitif, dst. Begitu pula dengan saya yang berpikiran bila ditempatkan di Papua akan terpinggirkan dari peradaban dunia.

Anggapan itu sirna ketika saya datang ke Jayapura. Dijemput di bandara sentani, saya diantar ke kantor yang akan menjadi tempat OJT selama 3 bulan. Selama perjalanan, jalan utama Bandara-Kota Jayapura sangat mulus. Bahkan bisa dibilang mengalahkan kemulusan jalan protokol di Jakarta yang banyak lubang-lubangnya. Selama perjalanan itu pula saya kagum, ternyata di jayapura tidak sekuno yang saya pikirkan. Jalan raya ramai dengan mobil-mobil bagus berplat DS. Banyak pula mobil baru berplat B (jakarta). Baru-baru ini saya tau kenapa mobil plat B banyak berseliweran di Jayapura. Itu karena biaya On The Road beli mobil baru di Jakarta lebih murah dibandingkan dengan beli mobil baru di Jayapura.

Setelah seminggu disini, saya lebih yakin lagi bahwa kota Jayapura lebih maju daripada kota-kota lain seperti kendari, kupang, ambon, ternate. Di Jayapura sudah franchise2 yang buka gerai. KFC, JCo, Breadtalk, matahari, hypermart, ramayana, dan lain sebagainya. Di Jayapura sudah banyak Mall-Mall berdiri, dan yang paling besar adalah Jayapura Mall. Masuk ke Jayapura Mall tidak ada bedanya dengan masuk ke Margo City, Kuningan City, Citos, PIM, dll... Mall ini sudah berkelas “Jakarta Punya”, bukan mall seperti Detos,ITC, dll. Tenant yang berdiri pun juga tenant berkelas. Ada hypermart, matahari, sport station, Inul Vista, breadtalk, dan yang paling mewah bagi sebuah kota diluar jawa adalah adanya Bioskop. Nggak tanggung-tanggung, yang masuk jayapura adalah bioskop XXI, bukan kelas 21. XXI sini pun nggak kalah update dari Jakarta. Setiap ada film baru pasti yang ngehits hari itu juga tayang di XXI Jayapura.

Setelah tahu kemodern-an Jayapura, saya menjadi lebih bersyukur mendapatkan OJT di sini, dibandingkan dengan teman-teman yang (sorry to say) mendapatkan OJT di Kupang, Ambon, Ternate, Sibolga, Loksumawe, dan kota kecil lainnya. Jarak boleh menjadi yang terjauh, namun kehidupan kota disini lebih modern daripada yang kalian pikirkan (^^)

Internet Kampret Rasa Lelet

Saya kembali merasakan jaman internet tahun 2005an. Disini jangan berharap dengan koneksi internet. Walaupun kantor saya sebelahan dengan kantor Indosat, koneksi internet time out terus. Teknologi 3g belum masuk tanah papua, kecuali 3G telkomsel yang jaringannya juga terbatas. Kalaupun dapat sinyal 3G jangan senang dulu karena bisa jadi itu sinyal boongan, kalaupun sinyal 3G beneran, jangan berharap kecepatannnya bisa kencang. Pun dengan internet di kantor. DImana-mana internet kantor selalu cepat, namun tidak berlaku di kota saya berada saat ini. Internet di kantor kalau jam kerja hanya 64kbps, buka google bisa sampai 30 detik. Saya bisa buka facebook karena sudah jam pulang kerja.

Ternyata permasalahan utama disini adalah belum adanya infrastruktur kabel fiber optik. Katanya sih pemasangan kabel optik baru sampe makassar, ntah kapan bisa sampai papua. Sebagaimana kita tahu kalau koneksi satelit mempunyai banyak keterbatasan terutama dalam masalah bandwith.

Jadi bagi orang-orang yang dulu suka mengeluh jalan-jalan di jawa suka digali pinggir-pinggirnya itu, bertobatlah. Karena dari pemasangan kabel itu lah kalian kalian semua bisa menikmati internet sampai ber MB-MBps.

And the story was started here....

Seperti yang telah diceritain sebelumnya, gw dapet penempatan di Jayapura. Memang sih judulnya baru OJT 3 bulan, tapi berdasarkan data historis 80% OJT itu ya tempat penempatan. Gw selama libur lebaran kemarin sudah mulai berusaha mengikhlaskan diri, menghibur diri kalo penempatan Jayapura itu enak, banyak dinasnya, miles garuda langsung tinggi. Tapi seberapapun gw berusaha menghibur diri, kekhawatiran terbesar itu tidak bisa dipungkiri, yaitu jauh dari keluarga.

Minggu, 3 Agustus 2014. Sore itu dianter sama teman2 kosan, gw berangkat ke bandara naik taksi bareng sama bang Swarez (FE 2004) yang juga dapet penempatan jayapura. Sampai bandara, kumpul sama 2 temen lagi. Kami berempat (Fantastic four, the chosen one) milih untuk masuk lounge setelah checkin daripada nunggu di ruang tunggu, ceritanya sih berfoya-foya dulu sebelum masuk hutan belantara). Masuk lounge citibank, karna ga ada yg punya CC platinum ya kudu bayar 75ribu. Berhubung sudah malam, makanan tinggal dikit. Flight kita jam 21.00, jadi begitu jam menunjukkan 20.30 kami langsung cabut.

Sejak awal gw menyadari kesalahan DSDM dalam membelikan tiket ke Jayapura. Kami dibeliin tiket yang jam 9 malem, artinya itu flight 2x stop walau nggak piindah pesawat, yaitu stop di makassar dan di Biak. Padahal jam 23.30 ada flight direct jakarta-jayapura. Yo wis lah ambil hikmahnya bisa mencicipi bandara biak. Karna 2x stop, yang membuat males adalah baru 2 jam udah landing lagi, jadi nggak bisa tidur nyenyak.

Pesawat gw sampe Jayapura telat 1 jam. Seharusnya di jadwal jam 7.05 pagi sudah sampai, tapi jam 8.15an baru sampai. Di bandara sentani kami sudah dijemput sama driver dari kantor, dan ternyata pagi itu ada anak PCPM 30 juga, mas Iyas dan mas Dicky, yang baru pulang dari libur lebaran. Akhirnya kami berenam diantar driver ke kantor. Sampai kantor baru kami disambut pimpinan dan berkenalan dengan seluruh pegawai kantor. Total ada 30an pegawai organik dan 30an pegawai nonorganik.

Istirahat siang, kami diajak pimpinan makan bareng di restoran dekat kantor. Selesai makan bareng, gw dan teman-teman diantar mentor kami mas Rohli cari kos-kosan Selama OJT 3 bulan kami belum bisa menempati rumah dinas karena sedang full. Cari kosan di jayapura ternyata susah juga, seharian dari siang sampe sore jam 4 kami cari belum dapet. Akhirnya diputuskan malam pertama nginep di rumah dinasnya mas Rohli.

Singkat cerita, kami hari pertama bisa tidur dengan nyenyak karena saking capeknya naik pesawat 9 jam + cari kosan seharian.

Hari pertama, gw udah kesusahan akses internet. Kartu utama gw Indosat, walaupun kantor Indosat berada di samping Bank Indonesia Jayapura, ternyata nggak ada sinyal 3G. Sepertinya sih teknologi 3G Indosat belum menjamah tanah papua. Hanya ada 3G Telkomsel. Akhirnya mau nggak mau gw pindah ke telkomsel untuk akses datanya.

Hal yang paling gw khawatirkan disini adalah menjaga kualitas keimanan. Di sini, masjid ada, tapi susah. Di kantor sih ada mushola dan kalau masuk waktu sholat biasanya ada barengannya. Namun itu hanya untuk dzuhur dan ashar. Maghrib, Isya, Shubuh gimana gw bisa sholat berjamaah. Untung saja Deden bisa diajak berjamaah, namun untuk saat ini saja. Kalau nanti kosan gw kepisah sama dia gimana bisa gw solat jamaah. Masjid nggak ada yang deket kantor, pun juga dengan rumah dinas. Selama disana gw belum pernah denger adzan.

Kabar baiknya, hari pertama kemarin langsung diberi pengarahan sama pimpinan BI Jayapura, gw minggu depan langsung dapet dinas ke manokwari. Yeah, petualangan gw di tanah papua sedang dimulai. Nantikan cerita selanjutnya.