SELAMAT TINGGAL AKA

Sore ini ketika tugas di kantor sudah selesai dikerjakan, saya pengen menyambung tulisannya @nuruz tentang motor AKA-nya. Motor AKA-nya mengingatkanku beberapa tahun silam. Lebih tepatnya ketika jaman SMA dulu.

Awalnya saya sudah kenal dengan AKA karena memang Nuruz selalu menaikinya untuk berangkat sekolah. Namun ta’aruf saya dengan AKA lebih intensif ketika kami mengadakan Tour perpisahan SMA. Waktu itu keadaan kami sudah selesai UNAS, dan kalau nggak salah sudah selesai UM UGM juga. Untuk mengisi waktu sekaligus perpisahan SMA, kami KWZ Squad memutuskan untuk Touring ke Tawangmangu, Telaga Sarangan, dan Madiun. Waktu itu kami belum pernah Touring kemanapun, jadi ini adalah touring pertama sekaligus paling jauh.

Hari itu pun tiba. Kami berkumpul di rumah simbah @gusta. Setelah semua berenam terkumpul, kami pun berangkat. Tujuan pertama adalah Tawangmangu. Sebenarnya tidak jauh jarak Jogja-Tawangmangu. Naik motor hanya 2,5 jam. Sampai sana kami berhip-hip hura-hura. Karena saking bersemangatnya, saya sebelum berangkat sempat membuat Stiker yg tulisannya “KWZ was Here”. Hhha Alay banget yaa waktu itu. Dan akhirnya stiker-stiker itu kami tempelkan dimana saja di tempat kami singgah. Bahkan di kemudian hari, beberapa bulan kemudian, ada teman yg dari Tawangmangu bilang kalau stiker itu masih ada disana dan belum hilang. hahaha.

Dari tawangmangu kami menuju ke Sarangan melewati. Waktu itu jalan dari tawangmangu ke Cemoro Sewu ada jalanan yang nanjaknya mungkin hampir mendekati 75 derajat. Waktu itu saya kebetulan kebagian jadi penumpangnya Nuruz dengan motor AKAnya. Karena jalan yang benar-benar nanjak, motor pun di gigi 1. Walaupun sudah gigi satu, motor AKAnya tetap “ngeden-ngeden” dan nggak bisa naik sama sekali. Akhirnya saya iseng lompat dari motor. Motor pun bisa melaju perlahan dan sampai di akhir tanjakan. Namun perlahan motor itu hilang bersama nuruz, sedangkan saya hanya melongo memandangi dari belakang. Akhirnya saya kejar, berlari naik tanjakan. Sampai diatas, nuruz udah agak jauh di depan, saya teriakin dianya baru noleh. Ternyata Nuruz baru sadar kalo saya nggak ada di boncengannya, hha.

Belum selesai sampai situ. Setelah cemara sewu, menuju sarangan, jalan kan turun curam. Waktu itu jalannnya masih pakai jalan yg lama, yg sempit dan aspal masih belum hot mixed. Aspal masih aspal lama, belum tebal, dan itu pun udah rusak dan banyak lubang. Ketika sampai turunan panjang nan curam, kok ya bisa bisanya Nuruz turun dengan gigi 4. Hadooh. Awalnya sih masih enak, turun dengan kecepatan 50an. Kami baru sadar ketika udah mencapai speed 60-70 dan jalanan turunan hampir habis. Itu di ujung jalan, ada jurang dan jalanan berputar 180 derajat (tau lah jalan pegunungan seperti apa). Langsung aku teriak ke nuruz buat ngerem, kita sempet offroad keluar jalur sesaat. Akhirnya dengan pertolongan Allah kami masih diberi kesempatan untuk hidup. Itu kalau benar-benar remnya AKA blong dan AKA keluar offroad tidak bisa masuk ke jalan aspal lagi, tamat lah riwayat saya dan Nuruz.

Setelah selesai touring madiun, 6 bulan kemudian kami mengadakan Tour ke Dieng lagi bersama KWZ Squad. Nuruz masih setia pakai AKAnya. Banyak cerita di setiap touring kami.

Touring bersama AKA ternyata tidak selesai sampai touring itu. Beberapa tahun setelahnya, kami bersepakat untuk touring ke Bandung. Lebih tepatnya temen-temen yang di Jogja, ada Nuruz, Fredo, Gusta, Adit, mereka naik motor dari Jogja ke Bandung. Sedangkan saya sendirian naik motor dari Jakarta ke Bandung (lewat jonggol, dan itu malam hari). Kami pun bertemu di bandung. Nuruz masih dengan motor AKAnya.

Setelah touring bandung itu, saya hanya beberapa kali berjumpa dengan AKA. Akhir kata, saya ingin ikut serta mengucapkan selamat jalan AKA. Semoga dengan terjualnya kamu, tidak menghilangkan memori kami kepadamu.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon