Funny Fact About Jayapura 3 : Dilarang Tawar di Jayapura

Semua orang tahu kalau barang-barang di Papua mahal-mahal. Ada banyak faktor kenapa barang-barang disini mahal, salah satunya sendiri adalah karena keanehan sifat orang sini. Ekonomi adalah ilmu sosial yang dipelajari dari gejala-gejala yang ada di lapangan. Teori Permintaan dan Penawaran di Ilmu Ekonomi didapatkan dari fakta yang terjadi di masyarakat. Namun teori permintaan penawaran itu terkadang tidak berlaku disini. Orang Papua biasanya menjual barang dengan harga yang jauh lebih mahal daripada harga di luar Papua. Mereka terkadang lebih memilih untuk tidak menjual barang itu dan dibiarkan membusuk daripada menjualnya dengan harga murah. Sampai-sampai ada cerita humor seperti ini. Humor-humor ini adalah kisah nyata. Begini Ceritanya.

Dulu, pernah ada salah satu Dewan Gubernur yang berkunjung ke Kantor Jayapura membawa istri. Karena suaminya ada acara di kantor, sang Istri ingin melihat kondisi pasar di Jayapura sendirian. Ditemani dengan salah satu pegawai, datanglah beliau ke pasar terbesar di Jayapura. Istri itu pun berhenti di salah satu mama-mama papua yang menjual Kelapa dan terjadilah percakapan. Istri DG “ Mace, kelapa itu berapa harganya kah ?”. Sang mama pun menjawab “ Satunya 10ribu”. Istri DG itupun kaget dan menjawab “Kelapa Kecil-kecil itu harganya 10ribu satu buahnya ? Turunin harga to !! 5ribu satu ya !”. Sang mama pun menjawab “ Apa kau bilang? Kelapa ini kecil-kecil? Kalau kecil, kau telan saja sudah !”. Sang istri pun segera meninggalkan mama papua tersebut. $%#@^&*^#

Ada humor lain juga. Seorang pemuda yang sedang punya banyak uang ingin membeli pinang dari seorang mama papua yang berjualan di pinggir jalan. Pemuda “Mace, harga ini berapa ?. Penjual “Satunya 2ribu”. Pemuda “Ini ada 20 buah, saya ambil semua saja sudah, 40ribu to?”. Penjual pinang “ Aaahh adeek, jangan kau ambil semua, nanti kalau kau ambil semua mama jual apa ?” %^$(&*&@#*

JAP, 29/9/2014, 22.30

Funny Fact About Jayapura 2

Keruwetan lalu lintas di Indonesia sudah menjadi rahasia umum. Dimulai dari jalan yang banyak lobang, fasilitas dan rambu jalan yang rusak, sampai kepada kerusakan mental para pengguna jalan. Perilaku tidak mau mengalah sudah menjadi hal yang lumrah. Penyeberang jalan yang asal menyeberang di sembarang tempat sudah menjadi hal yang biasa. Pengemudi motor dan mobil yang ugal-ugalan di tengah keramaian jalan juga sudah menjadi hal yang umum terjadi. Maka, jangan kaget kalau angka lakalantas di Indonesia cukup tinggi.

Hari pertama saya dan teman-teman seperjuangan datang ke Jayapura, saya mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Seperti di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia, kami ingin menyeberang jalan untuk makan siang. Memang jalan yang kami hendak seberangi itu adalah jalan utama di Jayapura sehingga wajar bila padat kendaraan. Ilmu yang gw dapet bertahun-tahun menyeberang jalan Margonda Depok gw terapin disini. Begitu ada dua kendaraan jarak kira-kira 20 meter, langsung maju saja tanpa ragu, begitulah ilmu menyeberang Margonda yang telah tertanam kuat di benak gw. Gw terapin ilmu itu disini. Setelah menunggu hampir 1 menit kendaraan lewat tanpa henti dan tanpa jeda, gw melihat peluang untuk menyeberang. Mobil Avanza dan angkot sepertinya berjarak 20 meter. Gw langsung maju jalan tanpa aba-aba. Begitu sudah dapat 2 langkah, gw merasa ada yang aneh, kok angkotnya nggak ada tanda-tanda ngerem. Gw udah terlanjur berada di tengah jalan, angkot sudah 3 meter di depan gw dan ga ada tanda-tanda ngerem. Karena tidak mau celaka, gw lari maju, eh ternyata di belakang angkot ada motor yang nyalip angkot dengan kecepatan cukup tinggi. Gw hampir tertabrak. Pengemudi motor ngerem mendadak. Dia tengok belakang, buka helm, dan keluar kata-kata kasar khas papua. “aseem tenan ini orang bermotor” batin gw.

Ternyata, setelah gw tanyain sama senior di kantor, di Papua terutama di Jayapura, orang kalau menyeberang itu di zebra cross.. Jadi tidak asal menyeberang saja...

Funny Fact About Papua (1)

Hampir 2 bulan sudah gw tinggal di Jayapura. Banyak pengalaman baru yang gw dapetkan disini. Dari 2 bulan disini, ada banyak sekali perbedaan antara persepsi dan kenyataan, antara budaya di tempat lain dengan budaya disini. Untuk beberapa hari ke depan gw pengen cerita beberapa fakta menarik tentang papua, khususnya jayapura.

Mungkin belum banyak yang tahu kalau orang papua itu senang sekali mengunyah pinang. Kalau di jawa, hanya nenek-nenek kita saja yang mengkonsumsi sirih pinang dengan nama “nginang”. Namun di papua, jangankan nenek-nenek, anak kelas 1 SD pun juga sudah terbiasa dengan kunyah pinang. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau buah pinang disini bisa menjadi faktor penyumbang inflasi daerah. hhaha. Ketika buah pinang susah ditemui dan harga naik, kemungkinan harga lainnya jg ikut naik.


Di pinggir-pinggir jalan di papua, akan banyak kita temui penjual buah pinang. Buah pinang yang sudah dikelupas dan dikunyah, akan menghasilkan warna merah. Gw juga bingung kok bisa berubah menjadi merah ya. Kalau sudah selesai dikunyah, seperti permen karet, buah pinang itu akan dikeluarkan dari mulut bersama dengan ludah-ludahnya yang berwarna merah pekat. Kalau pengen tau seperti apa limbah dari hasil pengunyahan pinang, bayangkan saja saos yang kamu biasa makan bersama dengan mie ayam / bakso dipinggir jalan itu kamu tumpahkan di jalanan. Merah pekat.

Jadi jangan kaget kalau di tempat-tempat umum seringkali dijumpai tulisan besar berbunyi “ DILARANG BUANG PINANG SEMBARANGAN”. Bahkan di bandara sentani, gateway of Jayapura, pertama gw datang, keluar dari pintu kedatangan langsung disambut dengan pinang di sepatu gw :lol.


Sering sekali gw ditantang sama temen-temen disini untuk  makan buah pinang, namun selalu gw tolak. Bukan karena takut sama rasanya, namun gw takut “eek” gw berubah menjadi warna hasil kunyahan buah pinang.....#kabuuuuur

JAP, 25/9/14 @06.00 WIT

KETIKA OPTIMIS BERGANTI REALISTIS


Dulu pada awal saya mengagumi Dahlan Iskan, saya berfikir kalau beliau dikasih kesempatan untuk mempimpin bangsa ini, semua persoalan akan bisa terselesaikan dengan tuntas tanpa tendensi. Dulu sebelum saya menjadi bagian dari pemerintah, saya sering mengkritik keras (walaupun cuma dalam hati, hhehe) kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah. Dulu ketika saya belum paham tentang ekonomi, saya berfikir kalau mengatur ekonomi negara itu mudah. Dulu ketika saya belum masuk ke kantor yang sekarang, saya berfikir bahwa Inflasi tinggi akibat ketidakbecusan Bank Sentral dalam mengendalikan inflasi. Dulu dengan membaca Manufacturing Hope tulisan Dahlan Iskan, saya berfikir bahwa kemajuan negara itu bisa didapat sebegitu mudahnya. Dulu saya mengira kalau memberantas korupsi itu mudah saja. Dulu saya berfikir dengan memberantas korupsi itu negara bisa langsung maju. Aiiih enaknya menjadi saya yang dulu. Pikiran-pikiran tersebut memang tidak 100% salah, namun juga tidak 100% benar juga.

Ternyata dengan berjalannya waktu, dengan ilmu yang didapat dari lingkungan dan tempat bekerja, saya menjadi semakin paham bahwa Negara ini mempunyai kesempatan untuk maju, namun kemajuan itu tidak bisa dicapai dengan mudah. Perlu kerja keras semua pihak. Sebagus apapun pemimpin negara ini, kalau mereka hanya bekerja sendirian, tentu tidak akan bisa menghasilkan negara Indonesia yang sentosa sejahtera adil dan makmur.

Pun demikian dengan fenomena Jokowi Effect. Pada awal pengusungan J-J, para pendukungnya dengan semangat 45 haqqul yakin kalo Jokowi bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa. Bahkan ada pihak-pihak yang menganggap kalau kemunculan Jokowi ini adalah kedatangan Sang Ratu Adil, satriyo piningit dari langit. Ini didukung dengan kepolosan dan kepandaian jokowi dalam positioning. Akhirnya, banyak orang yang terpikat dengan fenomena tersebut.
Jokowi pun maju menjadi capres. Pengusungnya berkoar-koar dan mengobral seribu janji, persis seperti apa yang dilakukan para calon di pemilihan-pemilihan sebelumnya. Pemilih pun terpikat oleh janji-janji yang mereka obral. Masyarakat dibuai dengan berbagai harapan.
Saya mulai khawatir harapan-harapan yang dijanjikan ini tidak bisa dipenuhi.

Setelah terpilih sebagai presiden, semakin hari saya mulai takut kekhawatiran saya perlahan-lahan terwujud. Saya mulai khawatir banyak pendukung yang dikecewakan. Pada awal terpilihnya dia, mulai muncul polling-polling online tentang kabinet jokowi. Tokoh-tokoh yang muncul pun banyak yang dikenal masyarakat dari beberapa kasus fenomenal. Wiih, keren abis kalo menyusun kabinet cuma berdasarkan opini yang terbentuk dari masyarakat. Apalagi ditambah dengan medsos-medsos yang mempublikasikan calon menteri hasil polling mereka. Wah betapa kerennya kalo kabinet itu terwujud.

Pada awalnya mereka bilang kalau koalisi yang dibentuk si merah adalah koalisi tanpa porsi, tanpa bagi-bagi jatah. Keren sekali menurutku kalau itu benar-benar bisa terwujud di sebuah negara dengan sistem politik seperti di Indonesia. Namun ternyata kenyataan tidak bisa bisa dihindarkan. Bagi-bagi porsi tetap ada.

Dari kasus tersebut saya mengajak pendukung si merah untuk berfikir lebih realistis. Kita harus terus mengawal pemerintahan 2014-2019. Kritik adalah hal biasa dalam berdemokrasi. Kritik ini perlu, tidak hanya untuk memperbaiki kebijakan yang diambil, tapi juga untuk mendewasakan masyarakat agar di 2019 tidak salah pilih.

JAP/17-9-14@06.15 WIT

*wis wis, berangkat ngantor disik lik..

SIMBIOSIS MUTUALISME BUMN


Pulang dari kerja, saya mampir warung makan dekat kosan. Baru satu suapan masuk ke mulut, tangan sudah gelisah hanya memegang sendok dan garpu. Akhirnya tangan masuk juga ke kantong celana, mengambil sebuah handphone. Memang sudah menjadi penyakit orang jaman sekarang selalu tidak bisa lepas dari gadgetnya. Bahkan ketika makan sekalipun. Seperti biasa, web pertama yang saya buka selain kaskus adalah detik.com. Di halaman pertama saya tertarik dengan judul “Djakarta Lloyd angkut batu bara, berapa ongkosnya?”.

Saya pertama kali mendengar ada BUMN bernama Djakarta Lloyd (DL) dari Manufacturing Hope 11 (30 Januari 2011). DL adalah BUMN yang bergerak pada pelayaran, terutama di logistik barang melalui laut. Pada MH itu abah menceritakan bahwa DL mempunyai utang 3,6 T, setengah dari utang yang dimiliki Merpati sekarang. Sebenarnya utang sebesar itu tidak masalah selama aset dan perputaran revenue masih sehat. Seperti Garuda yang pada semester pertama 2014 ini saja sudah rugi 2,4 T. Tapi stakeholder masih tidak begitu panik kan ? Kenapa? Karena garuda masih sehat secara rasio utang-asset, masih mempunyai alat produksi untuk mendapatkan pemasukan, reputasi yang bagus dan pasar yang masih luas. Namun DL tidak seperti itu. Pada waktu itu DL sudah kehilangan muka di depan investor maupun konsumen, aset sudah tidak ada, mau utang pun susahnya minta main. Aaahh kepanjangan kalo saya ceritakan semua. Langsung saja deh baca dari sumbernya. Lebih mantab dan mengalir ceritanya.. hhe.. MH 11 : http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/01/30/yang-tidak-akan-selesai-dengan-keluhan-dan-gerojokan dan juga MH 135 : https://dahlaniskan.wordpress.com/2014/07/07/dlloyd-setelah-lama-mati-suri/

Singkatnya, DL nyaris mati, namun muncul harapan baru setelah mendapatkan kontrak pengiriman batu bara dari PLN yang dipimpin Dahlan Iskan pada waktu itu. Dari kontrak itulah DL mulai membangun reputasinya dan sampai pada akhirnya sekarang bisa mendapatkan kepercayaan dari Adaro dan Berau Coal untuk pengiriman batu bara.

Cerita kebangkitan DL dari keterpurukan bukanlah sebuah mitos. Kesuksesan DL untuk bangkit dari kubur tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, hikmah dari cerita itu adalah ketika BUMN dipimpin oleh orang yang tepat dan berkolaborasi dengan pihak yang tepat, bisa menghasilkan hasil yang luar biasa. Masih banyak kesuksesan lain yang bisa dijadikan sebagai contoh, seperti konsorsium BUMN dalam membangun Tol Bali dan bandara-bandara baru.

aaahhh....sudahlah

(bingung meh arep nulis opo meneh, wis ngantuk.. :D)

#eeeh judul sama tulisan gak nyambung

Road to The Middle of Nowhere : Boven Digoel (1) MERAUKE, KOTA PENDATANG DI UJUNG INDONESIA

Jayapura masih pagi ketika saya sudah harus berangkat ke airport. Pagi itu saya dan Mas Riko berangkat ke Merauke untuk melakukan sebuah tugas dinas. Bedanya, Mas Riko akan stay di Merauke sampai hari Jumat, sedangkan saya hanya 1 malam di merauke karena akan gabung ke teman-teman lain yang sudah berangkat duluan untuk melakukan sebuah dinas lagi di luar Merauke. Penerbangan saya ke Merauke memakai Flight Garuda direct Jakarta-Jayapura yang lanjut Merauke. Penerbangan Jayapura-Merauke pagi itu cukup ramai, mungkin perkiraanku hampir 85% kursi terisi. Walaupun harga tiket garuda DJJ-MKQ jauh lebih mahal, sekitar 900ribu, dibandingkan dengan hharga Lion/Sriwijaya di 350-400ribu, namun masyarakat banyak yang memilih Garuda. Penerbangan ke Merauke cukup singkat, hanya 1 jam lebih 5 menit saja.

Sampai di Merauke, kami disambut tulisan “Selamat Datang di Merauke, Izakod bekai Izakod kai”. Di Papua memang banyak tulisan Izakod bekai, Izakod kai. Itu semacam tagline yang artinya satu hati satu tujuan. Setelah mengedrop tas kami langsung menuju salah satu bank terbesar disitu untuk melakukan pekerjaan.

Di sore harinya selepas pulang ke hotel, saya ingat kalau saya ada teman di Merauke. Bukan sembarang teman, namun teman akrab semasa SD dulu. Saya pun awalnya kaget ketika tahu dia sekarang tinggal dan bekerja di Merauke. Namanya Ahmad. Saya tahu dia di merauke karna sebelumya update status di FB dan Ahmad reply, suruh saya mampir ke tempatnya. Saya benar- benar tidak menyangka teman SD yang dulu sangat pintar itu bisa kesasar di kota ujung timur Indonesia itu. Aiih, hal ini mengingatkanku bahwa sekarang sudah semakin tua, teman-teman SD yang baru saya rasa kemarin sore main bareng di sawah, sekarang juga sudah besar, sudah pada menyebar kemana-mana. Ada yang di Kalimantan, Sulawesi, Papua. Begitu pula dengan teman-teman SMP, SMA, dan kuliah yang sudah pada menyebar. Sahabat-sahabat itu pada akhirnya akan mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Namun yang pasti, kita semua pernah punya kenangan masa kecil dengan mereka, dan kenangan itu akan menjadi sebuah cerita masa lalu.

Bertemu dengan Ahmad, dia saya suruh untuk jemput di depan hotel. Saya pun diajak berkeliling kota Merauke yang sangat kecil itu. Kota Merauke,kota di ujung timur Indonesia, pada awalnya dibangun oleh Belanda tahun 1900an awal. Pada zaman orde baru, Pak Harto mendorong transmigrasi besar-besaran ke kota Merauke dan sekitarnya. Pada perantau dari Jawa dikasih lahan yang luas dan fasilitas-fasilitas menarik lainnya. Hasilnya? Kota Merauke lebih didominasi oleh pendatang, terutama dari jawa, daripada penduduk asli Papua. Coba saja makan di warung-warung tenda yang ada di malam hari, hampir bisa dipastikan kalau penjualnya bisa berbahasa jawa dengan baik dan benar. hhehe. Walaupun orang itu lahir di merauke, karena orang tuanya jawa tulen, anaknya pun kebagian “medok “ e.. hhe.

Senja sudah turun ketika saya diajak berkeliling merauke sama teman saya Ahmad. Karena adzan sudah terdengar, dan kebetulan waktu itu sedang lewat di depan masjid saya, saya meminta untuk mampir sholat dulu. Mungkin ini satu-satunya kota di Papua yang mempunyai masjid raya di tengah kota, lengkap dengan halaman depannya yang luas. Masjidnya besar dan megah. Dalamnya luas. Jika dibandingkan dengan Masjid BI di Jakarta, sepertinya Masjid BI masih kalah besarnya dibandingkan masjid raya merauke ini (untuk tempat sholatnya, tidak termasuk selasar).

Selesai sholat maghrib, saya meminta untuk diantar ke tempat makan yang enak. Karena kota Merauke terkenal dengan Kota Rusa, saya minta diantar ke warung yang menjual sate rusa. Akhirnya ketemu kaki lima yang menjual sate rusa. Masuk ke tendanya, langsung ditodong pertanyaan “Mas, ajeng sate nopo bakso ? Sate rusa nopo sate ayam ? Minum e menopo mas ?”. Haduuh, orang saya belum ngomong langsung sudah diberondong pertanyaan, pake bahasa jawi lagii... emangnya mukaku sudah teridentifikasi langsung sebagai orang jowo yoo?

Daging Rusa ternyata enak. Tidak ada bedanya dengan daging kambing. Cuma, daging rusa lebih empuk dan tekstur lebih halus. Selesai makan dan mau dibayar, saya kaget, ternyata sate rusa yang isinya 10 Tusuk dengan potongan daging gedhe-gedhe itu harganya hanya 20ribu saja, itupun sudah termasuk nasi. Dan kalau tambah Gule, Cuma nambah 5ribu saja.... Waaah murah amiir... Usut punya usut, saya tanya ke penjualnya, ternyata daging rusa disini murah banget. Bahkan lebih murah daging rusa daripada daging ayam. Gilaak. Mungkin daging rusa murah disini karena didapatkan bukan dari beternak, namun dari hasil berburu, sehingga memang dihargai murah.

Merauke memang kota transmigrasi. Banyak pendatang yang datang disini. Kotanya pun sudah lumayan ramai dengan berbagai toko kebutuhan sehari-hari yang lengkap. Walaupun belum ada mall, mau cari apapun disini InsyaAllah tersedia. Percayalah, terutama bagi orang jowo, kalian tidak akan merasakan perbedaan yang signifikan tinggal di kota ini dibandingkan dengan tinggal di kota ponorogo, karna warung-warung makan banyak disini. Dan yang lebih penting, kalian tidak akan kehilangan skill bermedok ria kalian karena setiap kali mau makan selalu bisa mempraktekkan boso jowo kalian !! .


Merauke, 12-9-14@23.05 WITA

KEJUTAN DI HARI SENIN

Apel pagi di hari senin, langsung dapat kejutan dari Pimpinan, tiba-tiba gw yg awalnya cuma rencana dinas ke Merauke, disuruh untuk ikut kas keliling ke Boven digoel. Haduuuh. Terakhir aku dengar nama itu pas SMA, pelajaran sejarah, tempat pengasingan beberapa tokoh nasional seperti Syahrir dann Hatta. Dibuku sejarah itu diceritakan bagaimana mengerikannya daerah Boven Digoel, banyak orang mati terkena penyakit malaria, penyakit kencing hitam, ato mati karena strees dan gila diasingkan di tempat middle of nowhere dimana kanan kiri hanya hutan belantara. Haduuuh kok serem gitu. Semoga besok kesana tidak apa-apa, dan bisa balik ke Jayapura dengan sehat walafiat. Minta doanya yaa teman2...