KETIKA OPTIMIS BERGANTI REALISTIS


Dulu pada awal saya mengagumi Dahlan Iskan, saya berfikir kalau beliau dikasih kesempatan untuk mempimpin bangsa ini, semua persoalan akan bisa terselesaikan dengan tuntas tanpa tendensi. Dulu sebelum saya menjadi bagian dari pemerintah, saya sering mengkritik keras (walaupun cuma dalam hati, hhehe) kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah. Dulu ketika saya belum paham tentang ekonomi, saya berfikir kalau mengatur ekonomi negara itu mudah. Dulu ketika saya belum masuk ke kantor yang sekarang, saya berfikir bahwa Inflasi tinggi akibat ketidakbecusan Bank Sentral dalam mengendalikan inflasi. Dulu dengan membaca Manufacturing Hope tulisan Dahlan Iskan, saya berfikir bahwa kemajuan negara itu bisa didapat sebegitu mudahnya. Dulu saya mengira kalau memberantas korupsi itu mudah saja. Dulu saya berfikir dengan memberantas korupsi itu negara bisa langsung maju. Aiiih enaknya menjadi saya yang dulu. Pikiran-pikiran tersebut memang tidak 100% salah, namun juga tidak 100% benar juga.

Ternyata dengan berjalannya waktu, dengan ilmu yang didapat dari lingkungan dan tempat bekerja, saya menjadi semakin paham bahwa Negara ini mempunyai kesempatan untuk maju, namun kemajuan itu tidak bisa dicapai dengan mudah. Perlu kerja keras semua pihak. Sebagus apapun pemimpin negara ini, kalau mereka hanya bekerja sendirian, tentu tidak akan bisa menghasilkan negara Indonesia yang sentosa sejahtera adil dan makmur.

Pun demikian dengan fenomena Jokowi Effect. Pada awal pengusungan J-J, para pendukungnya dengan semangat 45 haqqul yakin kalo Jokowi bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa. Bahkan ada pihak-pihak yang menganggap kalau kemunculan Jokowi ini adalah kedatangan Sang Ratu Adil, satriyo piningit dari langit. Ini didukung dengan kepolosan dan kepandaian jokowi dalam positioning. Akhirnya, banyak orang yang terpikat dengan fenomena tersebut.
Jokowi pun maju menjadi capres. Pengusungnya berkoar-koar dan mengobral seribu janji, persis seperti apa yang dilakukan para calon di pemilihan-pemilihan sebelumnya. Pemilih pun terpikat oleh janji-janji yang mereka obral. Masyarakat dibuai dengan berbagai harapan.
Saya mulai khawatir harapan-harapan yang dijanjikan ini tidak bisa dipenuhi.

Setelah terpilih sebagai presiden, semakin hari saya mulai takut kekhawatiran saya perlahan-lahan terwujud. Saya mulai khawatir banyak pendukung yang dikecewakan. Pada awal terpilihnya dia, mulai muncul polling-polling online tentang kabinet jokowi. Tokoh-tokoh yang muncul pun banyak yang dikenal masyarakat dari beberapa kasus fenomenal. Wiih, keren abis kalo menyusun kabinet cuma berdasarkan opini yang terbentuk dari masyarakat. Apalagi ditambah dengan medsos-medsos yang mempublikasikan calon menteri hasil polling mereka. Wah betapa kerennya kalo kabinet itu terwujud.

Pada awalnya mereka bilang kalau koalisi yang dibentuk si merah adalah koalisi tanpa porsi, tanpa bagi-bagi jatah. Keren sekali menurutku kalau itu benar-benar bisa terwujud di sebuah negara dengan sistem politik seperti di Indonesia. Namun ternyata kenyataan tidak bisa bisa dihindarkan. Bagi-bagi porsi tetap ada.

Dari kasus tersebut saya mengajak pendukung si merah untuk berfikir lebih realistis. Kita harus terus mengawal pemerintahan 2014-2019. Kritik adalah hal biasa dalam berdemokrasi. Kritik ini perlu, tidak hanya untuk memperbaiki kebijakan yang diambil, tapi juga untuk mendewasakan masyarakat agar di 2019 tidak salah pilih.

JAP/17-9-14@06.15 WIT

*wis wis, berangkat ngantor disik lik..

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon