Road to The Middle of Nowhere : Boven Digoel (1) MERAUKE, KOTA PENDATANG DI UJUNG INDONESIA

Jayapura masih pagi ketika saya sudah harus berangkat ke airport. Pagi itu saya dan Mas Riko berangkat ke Merauke untuk melakukan sebuah tugas dinas. Bedanya, Mas Riko akan stay di Merauke sampai hari Jumat, sedangkan saya hanya 1 malam di merauke karena akan gabung ke teman-teman lain yang sudah berangkat duluan untuk melakukan sebuah dinas lagi di luar Merauke. Penerbangan saya ke Merauke memakai Flight Garuda direct Jakarta-Jayapura yang lanjut Merauke. Penerbangan Jayapura-Merauke pagi itu cukup ramai, mungkin perkiraanku hampir 85% kursi terisi. Walaupun harga tiket garuda DJJ-MKQ jauh lebih mahal, sekitar 900ribu, dibandingkan dengan hharga Lion/Sriwijaya di 350-400ribu, namun masyarakat banyak yang memilih Garuda. Penerbangan ke Merauke cukup singkat, hanya 1 jam lebih 5 menit saja.

Sampai di Merauke, kami disambut tulisan “Selamat Datang di Merauke, Izakod bekai Izakod kai”. Di Papua memang banyak tulisan Izakod bekai, Izakod kai. Itu semacam tagline yang artinya satu hati satu tujuan. Setelah mengedrop tas kami langsung menuju salah satu bank terbesar disitu untuk melakukan pekerjaan.

Di sore harinya selepas pulang ke hotel, saya ingat kalau saya ada teman di Merauke. Bukan sembarang teman, namun teman akrab semasa SD dulu. Saya pun awalnya kaget ketika tahu dia sekarang tinggal dan bekerja di Merauke. Namanya Ahmad. Saya tahu dia di merauke karna sebelumya update status di FB dan Ahmad reply, suruh saya mampir ke tempatnya. Saya benar- benar tidak menyangka teman SD yang dulu sangat pintar itu bisa kesasar di kota ujung timur Indonesia itu. Aiih, hal ini mengingatkanku bahwa sekarang sudah semakin tua, teman-teman SD yang baru saya rasa kemarin sore main bareng di sawah, sekarang juga sudah besar, sudah pada menyebar kemana-mana. Ada yang di Kalimantan, Sulawesi, Papua. Begitu pula dengan teman-teman SMP, SMA, dan kuliah yang sudah pada menyebar. Sahabat-sahabat itu pada akhirnya akan mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Namun yang pasti, kita semua pernah punya kenangan masa kecil dengan mereka, dan kenangan itu akan menjadi sebuah cerita masa lalu.

Bertemu dengan Ahmad, dia saya suruh untuk jemput di depan hotel. Saya pun diajak berkeliling kota Merauke yang sangat kecil itu. Kota Merauke,kota di ujung timur Indonesia, pada awalnya dibangun oleh Belanda tahun 1900an awal. Pada zaman orde baru, Pak Harto mendorong transmigrasi besar-besaran ke kota Merauke dan sekitarnya. Pada perantau dari Jawa dikasih lahan yang luas dan fasilitas-fasilitas menarik lainnya. Hasilnya? Kota Merauke lebih didominasi oleh pendatang, terutama dari jawa, daripada penduduk asli Papua. Coba saja makan di warung-warung tenda yang ada di malam hari, hampir bisa dipastikan kalau penjualnya bisa berbahasa jawa dengan baik dan benar. hhehe. Walaupun orang itu lahir di merauke, karena orang tuanya jawa tulen, anaknya pun kebagian “medok “ e.. hhe.

Senja sudah turun ketika saya diajak berkeliling merauke sama teman saya Ahmad. Karena adzan sudah terdengar, dan kebetulan waktu itu sedang lewat di depan masjid saya, saya meminta untuk mampir sholat dulu. Mungkin ini satu-satunya kota di Papua yang mempunyai masjid raya di tengah kota, lengkap dengan halaman depannya yang luas. Masjidnya besar dan megah. Dalamnya luas. Jika dibandingkan dengan Masjid BI di Jakarta, sepertinya Masjid BI masih kalah besarnya dibandingkan masjid raya merauke ini (untuk tempat sholatnya, tidak termasuk selasar).

Selesai sholat maghrib, saya meminta untuk diantar ke tempat makan yang enak. Karena kota Merauke terkenal dengan Kota Rusa, saya minta diantar ke warung yang menjual sate rusa. Akhirnya ketemu kaki lima yang menjual sate rusa. Masuk ke tendanya, langsung ditodong pertanyaan “Mas, ajeng sate nopo bakso ? Sate rusa nopo sate ayam ? Minum e menopo mas ?”. Haduuh, orang saya belum ngomong langsung sudah diberondong pertanyaan, pake bahasa jawi lagii... emangnya mukaku sudah teridentifikasi langsung sebagai orang jowo yoo?

Daging Rusa ternyata enak. Tidak ada bedanya dengan daging kambing. Cuma, daging rusa lebih empuk dan tekstur lebih halus. Selesai makan dan mau dibayar, saya kaget, ternyata sate rusa yang isinya 10 Tusuk dengan potongan daging gedhe-gedhe itu harganya hanya 20ribu saja, itupun sudah termasuk nasi. Dan kalau tambah Gule, Cuma nambah 5ribu saja.... Waaah murah amiir... Usut punya usut, saya tanya ke penjualnya, ternyata daging rusa disini murah banget. Bahkan lebih murah daging rusa daripada daging ayam. Gilaak. Mungkin daging rusa murah disini karena didapatkan bukan dari beternak, namun dari hasil berburu, sehingga memang dihargai murah.

Merauke memang kota transmigrasi. Banyak pendatang yang datang disini. Kotanya pun sudah lumayan ramai dengan berbagai toko kebutuhan sehari-hari yang lengkap. Walaupun belum ada mall, mau cari apapun disini InsyaAllah tersedia. Percayalah, terutama bagi orang jowo, kalian tidak akan merasakan perbedaan yang signifikan tinggal di kota ini dibandingkan dengan tinggal di kota ponorogo, karna warung-warung makan banyak disini. Dan yang lebih penting, kalian tidak akan kehilangan skill bermedok ria kalian karena setiap kali mau makan selalu bisa mempraktekkan boso jowo kalian !! .


Merauke, 12-9-14@23.05 WITA

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Road to The Middle of Nowhere : Boven Digoel (1) MERAUKE, KOTA PENDATANG DI UJUNG INDONESIA "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel