Rabu, 25 Januari 2017

RINDU SERINDU-RINDUNYA MEKKAH DAN MADINAH



Belum ada 24 jam aku meninggalkan mekkah, namun rasa rindu kembali ke al-haram sudah mulai tumbuh. Sekarang aku baru mulai bisa paham kenapa banyak sekali orang indonesia, terutama yang berduit, sering sekali melakukan umrah berulang-ulang. Mungkin rasa rindunya untuk dapat sujud di masjidil haram sudah membuncah. Mungkin keinginannya untuk dapat bermunajad di depan ka'bbah sudah tak tertahankan. Mungkin pula karena kecintaannya terhadap Rasulullah hingga harus terbang ribuan kilometer untuk dapat menziarahi dan mengingat perjuangan beliau menegakkan agama Allah yang sangat besar.

=====================================

24 Januari 2017, Pesawat MH 151 membawaku pulang ke Indonesia (via KL). Ini memang pengalaman umrah pertamaku. Banyak sekali cerita-cerita yang begitu menyentuh selama di sana. Alhamdulillah saya dapat memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, terutama karena rezekimu aku dapat berkunjung ke Mekkah dengan total harga tidak lebih dari 8juta rupiah (kisah lengkapnya nanti di tulisan lain).

====================================

Banyak yang bilang kalau selama di tanah Haram jangan menggerutu, jangan menggosip, jangan "ngrasani", dan jangan mengeluh karena niscaya Allah akan membayar keluhanmu itu secara TUNAI. Aku sudah mencoba untuk tidak "ngrasani" salah satunya dengan sering2 berdzikir. Tapi tetap saja fikiran itu terbang kemana-mana.

Di hari ketiga di mekkah, ketika melaksanakan tawaf sunnah selepas sholat isya, kebetulan waktu itu sedang padat sekali, aku sempet mengeluh kenapa kok padat sekali, ditambah dengan orang-orag berkursi roda tawafnya di bawah (harusnya kursi roda tawaf di atas di lantai 2). Kursi roda ini yg bikin makin macet, batinku. Tiba2 saja dari samping ada orang cacat polio yang jalannya kesusahan, sendirian tanpa kursi roda, melakukan tawaf dan mencoba masuk ke area hajar aswad. Langsung aku merasa malu dan nyesel ngrasani orang berkursi roda.

Di lain waktu, aku lg mikir kenapa banyak sekali cewek turki dan arab yang berhidung mancung, putih bersih, cantik-cantik dan masih muda umur 20an. Aku berangan-angan coba bisa dibawa pulang 1 saja kah. Sewaktu pulang dari sholat, lihat serombongan cewek berabaya hitam dan modis serta body yang aduhai. Dari belakang aku liat sepertinya bener2 cantik ini orang. Karena penasaran, aku percepat langkah demi lihat mukanya. Eh ternyata bukannya cewek cantik yg aku liat dari depan, ternyata itu rombongan mamak-mamak paruh baya :-)

Ada pula ketika sholat subuh, demi dapet shaf agak depan di depan ka'bah, aku mulai thawaf 1,5 jam sebelum adzan. Saat itu sudah padat sekali orang padahal masih jam 4an pagi. Dari belakang beberapa kali (maaf) orang negro nyodok-nyodok ingin mendahului padahal dah tau keadaan depan jg lagi padat. Ditambah lagi aku sempet ngrasani kalau ini orang ga tau diri banget, dan badannya bau lagi. Eh begitu adzan subuh pertama (1 jam sebelum adzan asli) dan orang mulai membentuk barisan shaf, ternyata aku dapat shaf diantara (maaf) dua orang negro. Anehnya dua orang ini tidak bau sama sekali. Ditambah baik hati karna melindungi kepalaku sewaktu sujud sholat sunah dari terjangan orang yang masih tawaf yg lewat di depanku.

Banyak sekali cerita dan pengalaman spiritual selama umrah. Dan akhirnya aku bersyukur akhirnya dapat melaksanakan ibadah umrah.

Sewaktu tawaf wada' saya berdoa semoga ini bukan kunjungan terakhir kali. Semoga Allah segera memanggil lagi untuk kembali ke Baitullah dengan cara memberikan tiket murah ke Jeddah. Akhir kata, sebagaimana doa saya di depan ka'bah, saya juga mendoakan teman-teman semua agar dapat diberi kelancaran rizki (dan kelancaran jodoh) agar juga dapat segera mengunjungi Baitullah.

Klik share, like dan ketik amin semoga doa terkabul :-)

Jakarta, 25 Januari 2017, sambil nungguin kereta balik ke papua dan kembali ke peradaban dengan internet yang tertinggal.


EmoticonEmoticon