MEMBAYANGKAN PAPUA TANPA FREEPORT (2)



Ada gula ada semut. Adanya Freeport telah memberikan pengaruh ekonomi yang “luar biasa” bagi Papua, terutama Timika. Kota kecil di selatan pegunungan tengah Papua tersebut menjelma menjadi kota maju. Formulasi perhitungan Dana Bagi Hasil menjadikan kabupaten Mimika mempunyai banyak uang untuk melakukan pembangunan. Banyaknya jadwal penerbangan dari dalam ataupun luar papua ke kota ini menandakan banyaknya pendatang yang beraktivitas di Timika. Bahkan saking manisnya kue dari Timika yang disebabkan oleh Freeport ini, para politisi mempunyai ide untuk mendirikan Provinsi Papua Tengah dengan Timika sebagai ibukotanya. Wacana ini sudah lama bergulir namun sampai saat ini masih belum digolkan oleh pemerintah pusat. Saking seriusnya aksi pro-pemekaran, bila kita berkunjung ke Timika, kita sudah dapat menemui gedung kantor gubernur Papua Tengah, atau gedung DPRD Papua Tengah seperti gambar diatas, hhehe.

Freeport (PTFI) selama ini berkontribusi bukan hanya pada perekonomian Papua secara makro, namun juga banyak melakukan CSR-CSR ke masyarakat sekitar. Sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan, PTFI juga menyediakan beasiswa untuk masyarakat asli Papua, juga merekrut tenaga2 kerja asli Papua walaupun kebanyakan hanya di level bawah. Konon katanya (belum tentu benar), sebagai kompensasi hak ulayat, PTFI juga membayar miliaran rupiah per tahun ke suku-suku di sekitar lokasi tambang. Kalau ada perang adat, biasanya PTFI juga sebagai sponsor utama untuk hidangan utamanya yaitu bakar batu babi yang bisa membutuhkan puluhan atau ratusan babi. Masalahnya, harga babi di Papua luar biasa mahal.

Namun yang paling terkena dampak bila PTFI berhenti beroperasi, atau bahkan angkat kaki dari Papua, adalah Persipura FC. Sebagai sponsor utama, tentu Persipura akan kehilangan belasan miliar rupiah per musim dari Freeport. Walaupun masih ada sponsor Bank Papua, namun sepertinya Persipura akan kelimpungan jika kehilangan PTFI sebagai sponsor utama.

Apapun dampak yang akan ditimbulkan oleh berhentinya operasi PTFI, saya tetap mendukung langkah pemerintah untuk merevisi kontrak karya menjadi IUPK serta secara bertahap melakukan divestasi sampai 51% sehingga operasi PTFI berada di tangan Indonesia, bukan di FCX Amerika. Kalaupun dalam perjalanannya PTFI keberatan dan mengancam akan berhenti beroperasi, biarkanlah itu terjadi. Worst case Freeport angkat kaki dari Indonesia, tidak perlu dipermasalahkan kalau nantinya produksi bekas tambang PTFI akan menurun. Prinsip saya, lebih baik kekayaan alam Indonesia dibiarkan as it is daripada ditambang oleh bangsa lain dan kita hanya mendapatkan ampasnya.

Jogja, 26 Februari 2017

MEMBAYANGKAN PAPUA TANPA FREEPORT (1)




Pertama kali mendengar ulah Freeport dengan pemerintah, saya mengucapkan Alhamdulillah. Kenapa malah bersyukur ? Bersyukur karena di kantor, per 1 Februari 2017, saya telah rotasi dari unit yang ngurusin asesmen ekonomi (PDRB, Inflasi, Indikator-indikator Pertumbuhan Ekonomi, dll) ke unit UMKM :D. Dalam setahun terakhir, pekerjaan saya di kantor memang tidak jauh dengan memantau dan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Papua. Tidak terbayangkan bagaimana saya harus membuat berbagai skenario A, Skenario B, Skenario C, Skenario D, dst dengan berbagai asumsi yang berbeda dalam keadaan seperti sekarang ini, seperti bagaimana pertumbuhan Papua jika Freeport Indonesia (PTFI) beroperasi normal? atau bagaimana jika PTFI hanya ekspor sesuai dengan kapasitas smelter eksisting yg di gresik itu ? Bagaimana kalau PTFI tidak mendapatkan izin ekspor sampai tengah tahun ?, bagaimana bagaimana…. Namun dari semua asumsi yang pernah kami proyeksikan, sama sekali kami tidak terpikirkan untuk memproyeksikan bagaimana kalau PTFI berhenti beroperasi… Why ? Coz itu sebuah nightmare bagi Papua. Semua indikator-indikator perekonomian yang telah dibangun bertahun-tahun akan langsung anjlok.

Kenapa permasalahan Freeport membuat pekerjaan memproyeksikan ekonomi Papua itu sangat memusingkan ? Mari kita lihat. Beberapa hari yang lalu mr. Jonan bilang kalau Freeport hanya berkontribusi 8 triliun per tahun ke pemerintah. Benarkah begitu ? Kalau hanya menghitung kontribusi pajak mungkin ada benarnya. Tapi kalau dilihat dari sumbangan ke perekonomian, tunggu sebentar. Secara nasional, sumbangan freeport ke PDB Indonesia hanya 0,51% (Harga Berlaku, 2016). Bila dilihat sumbangan ke PDRB Provinsi Papua, sumbangan freeport sebesar 35,4% (Harga Berlaku, 2016). Kalau dihitung pakai angka konstan lebih tinggi lagi, mencapai 42%. Bahkan bila diperhatikan dari PDRB Kabupaten Mimika (tempat Freeport berada), sumbangannya mencapai 95%. Dengan kontribusi sebesar itu terhadap perekonomian Papua, wajar lah kalau secara statistik pertumbuhan ekonomi Papua seperti roller coster, kalau naik bisa signifikan, kalau turun bisa sangat tajam. Contohnya, pada triwulan II 2016, ekonomi Papua terkontraksi (negatif) 5,45%. Biasanya kalau terjadi perlambatan ekonomi saja (misal dari tumbuh 6% ke 5%) para pengamat sudah komen banyak, apalagi ini sampai negatif 5,45%. Namun di triwulan III dan IV 2016, partumbuhan ekonomi Papua bisa tumbuh 20,65% dan 21,41%. Bila mengeluarkan tambang dari perhitungan PDRB Papua, ekonomi papua tetap tumbuh stabil di angka 4-6% pertahun. Satu-satunya yang bisa disalahkan dalam perhitungan ekonomi Papua adalah terlalu besarnya dominasi Freeport. Bila ada permasalahan izin ekspor atau operasional Freeport yang terganggu, langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Sulitnya memproyeksikan ekonomi Papua seperti menebak skor pertandingan antara PSG vs Barcelona. Di atas kertas, sepertinya Barcelona akan menang, namun justru yang terjadi sebaliknya, PSG menggunduli barca 4 – 0. Hal yang sama terjadi sewaktu saya pertama di unit asesmen ekonomi tahun lalu. Pada awal tahun, kami optimis triwulan I ekonomi papua dapat tumbuh 9% karena rilis target produksi PTFI yang meningkat signifikan. Namun realisasinya ternyata malah terjadi kontraksi, ekonomi Papua minus 0,48% karena adanya perbaikan mesin produksi. Di triwulan II saya beranggapan PTFI akan meningkatkan produksinya signifikan, jadi saya set proyeksi jadi tumbuh 3%. Lah kok BPS mengeluarkan rilis pertumbuhan ekonomi malah terkontraksi minus 5,45%. Hhaha. Hancurlah reputasi saya sebagai ekonom Papua. Wkwkwk. Sama sekali tidak ada proxy untuk menerka bagaimana Freeport akan berproduksi. Berbeda dengan daerah lain yang mungkin banyak leading indicator yang bisa dipakai untuk membuat proyeksi, satu-satunya guidance yang bisa dilihat untuk menerawang ekonomi Papua adalah rilis triwulanan FCX (Freeport McMoran, headquarter PTFI). Bagian tersulitnya adalah bagaimana menjelaskan hal ini kepada kantor pusat. Hhaha. Untung saja proyeksi akhir tahun saya hanya meleset sekitar 0,3% dari rilis yang dikeluarkan BPS sehingga saya dapat pensiun dari unit asesmen dengan sedikit lega. Hhehehe.

____ TO BE CONTINUED ___

Jogja, 25 Feb 2017

BELAJAR MEMUPUK AMALAN RAHASIA



Seringkali kita bersedekah, berzakat, beribadah, atau melakukan amalan baik lainnya dengan niatan ingin dilihat oleh orang lain. Padahal ada sebuah hadist riyawat Muslim menyatakan “Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang takwa, kaya, lagipula suka merahasiakannya”. Artinya bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang senang berbuat baik dengan sembunyi-sembunyi, tanpa mengharap pujian dari orang lain.

Amal rahasia juga dapat menjadi ukuran keikhlasan seseorang. Sangat sulit sekali untuk menyembunyikan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Biasanya setelah melakukan kebaikan, kita sering mengungkit-ungkitnya. Atau ketika kepepet dan tidak punya alasan lain, kita sering mengumbar amalan-amalan baik yang telah kita perbuat.

Untuk hal ini sepertinya saya masih harus banyak belajar dengan teman saya. Dulu saya pernah punya teman, namanya @Aperiden Akbar, dipanggil Deden. Kami kenal sejak awal-awal masa pendidikan PCPM dulu. Banyak hal unik dari dia. Orangnya baik, pengertian, gampang berteman, dan rendah hati. Dia lah yang menguatkan hati saya ketika saya bersedih mendapatkan penempatan di Papua. Kami dulu bersama dengan 3 orang lainnya ditempatkan di Jayapura. Dibandingkan dengan 3 teman senasib sepenanggungan lainnya, Deden lah yang paling dekat dengan saya. Hobby kami sama, yaitu sama-sama senang bertualang ke daerah baru. Bedanya, dia workaholic sementara saya prinsipnya sebisa mungkin nggak dapet kerjaan banyak dan pulang tenggo.

Kalau sedang load kerjaan banyak, setiap hari Deden bisa pulang sampai jam 1 malam. Pulang naik motor. Sendirian. Di Papua. Padahal rumah kami di pucuk gunung dengan jalan pulang yang sepi dan relatif gelap. Mungkin karena sifat workaholicnya itu kami berempat jarang sekali pulang bareng. Selalu dia jadi yang terakhir.

Namun dimasa-masa dia sibuk di kantor, tetap saja setiap senin-kamis tidak pernah absen dari puasa sunah. Seringkali mengajak untuk sholat bila sudah hampir selesai waktu sholat kami masih berkutat di pekerjaan. Sering sekali dia “memanusiakan” pegawai lain bahkan di level cleaning service pun. Disaat kami memilih untuk makan siang bareng karyawan yang lain, dia sering beli beberapa nasi bungkus untuk dimakan bareng dengan cleaning service dan satpam. Ketika kami tidak pernah menyapa satpam, dia lah yang pertama kali menyapa ke siapa saja yang dia temui di kantor. Namun hanya sebatas itu saya tahu tentang kepribadiannya. Dia tidak pernah bercerita tentang kebaikan-kebaikan itu kecuali saya secara tidak sengaja melihatnya langsung atau mendengar dari teman lain.

Singkat cerita, pada suatu pagi di akhir Maret 2015, Deden mendapatkan kecelakaan lalu lintas ketika hendak pergi ke bandara. Waktu itu dia ngotot pergi ke bandara Sentani(Jarak 40km dari rumah) walaupun hanya menggunakan sepeda motor, hanya untuk menjemput seorang tamu dari Jakarta (yang secara jabatan mungkin lebih rendah dari kami). Ya, begitulah dia dalam menghormati seseorang. Namun ternyata Allah mempunyai rencana sendiri. Sebelum Deden bertemu dengan tamunya di Bandara Sentani, Allah memanggilnya. Deden jatuh dari motor di sebuah tikungan di pinggir Danau Sentani.

Sebagai seorang sahabat dekatnya, tentu saya sangat bersedih. Mungkin karna melihat kedekatan kami, Alhamdulullah bos mengizinkan saya untuk mengantar Jenazahnya sampai liang lahat di Surabaya. Dari situ saya melihat betapa banyak teman-teman masa kecil, SMP, SMA, dan teman kuliahnya yang mengantar sampai pemakaman terakhir. Saya menyimpulkan bahwa betapa baiknya kepribadian Deden sehingga banyak temannya merasa kehilangan.

Sepulang dari Surabaya, satu per satu saya mendengar banyak cerita dari teman-teman kantor tentang kebaikan-kebaikannya. Banyak sekali, tidak perlu saya sebut satu per satu. Namun salah satu yang paling membuat saya menangis adalah ternyata selama ini diantara kesibukannya, seringkali dia mengantarkan pulang seorang satpam outsourcing ke rumahnya naik motor. Hal ini karena satpam tersebut tidak bisa naik motor dan selalu pulang naik angkot. Padahal jarak kantor ke rumah satpam tersebut jauh, sekitar 25 km, dengan arah yang berlawanan dengan rumah kami. Cerita ini saya dapatkan secara langsung dari satpam tersebut setelah beberapa minggu Deden meninggal. Subhanallah. Kamu menang telak den! Kamu memang pintar sekali menyembunyikan amalan-amalan kebaikanmu !

Hari ini, 14 Februari 2017, seharusnya Deden berumur 27 tahun. Namun Allah ternyata lebih menyayangimu den. Walaupun aku hanya pernah menjadi temanmu selama 1 tahun, tapi ternyata itu cukup memberiku contoh bagaimana melakukan amalan-amalan kebaikan dengan ikhlas dan tersembunyi, sehingga suatu saat ketika Allah memanggil maka akan banyak orang merasa kehilangan. Semoga engkau tenang di alam sana dan Allah menerima segala amal ibadahmu. Amin.

Jayapura, 14 Feb 2017

*PS: Foto Alm Deden yang paling kiri

UMROH MURAH RASA BINTANG LIMA




“Habis berapa mas kemarin umrohnya ?”” demikian banyak teman yang bertanya japri ke saya. Begitu saya jawab saya hanya perlu mengeluarkan uang 8 juta, semua pasti kaget dan banyak yang ingin diajak kalau ada umroh murah gituan lagi. Bagaimana cara umroh hanya habis Rp 8 juta sementara rata-rata agen umrah menawarkan harga paling murah 18-20 jutaan ? Apa umrohnya ngemper di masjid ? Gak makan selama seminggu ya ? Di sana pasti ditelantarin ? hmm… Alhamdulillah saya tidak seperti itu sama sekali. Walaupun hanya butuh 8 juta, saya tetap dapat hotel bintang 4 dan hanya berjarak 100 meter dari pintu utama di madinah dan jarak 300 meteran selama mekkah. Selain itu saya juga dapat mutawif sendiri, dan juga bisa merasakan city tour kedua kota suci tersebut.

Apa yang membuat umroh regular begitu mahalnya ? Tentu saja komponen biaya terbesar adalah tiket pesawat terbang. Normalnya, tiket Jakarta – Jeddah berharga 10-12 juta untuk kelas ekonomi. Alhamdulillah saya kemarin dapat tiket promo Malaysia Airlines Kuala lumpur – Jeddah hanya 1,3juta dan Jakarta – Kuala Lumpur promo 1,1 juta. Total Jakarta – Jeddah hanya perlu keluar uang 2,4 juta rupiah. Sementara tiket Jayapura – Jakarta saya memakai jatah homebase kantor, jadi gratis. Hhe. Jangan tanya ya kapan lagi bisa dapat tiket promo KL-Jeddah 1,3juta, karena ini kemarin promo sangat-sangat langka dan Alhamdulillah saya bisa kebagian. Namun kalau mau tiket ke Jeddah seharga 5jutaan PP lumayan banyak kok promo nya, bahkan kadang bisa dapat plus plus semisal umroh + turki atau umroh + kairo.

Langkah selanjutnya kalau sudah punya tiket di tangan adalah cari provider land arrangement (LA). Hal ini karena visa umroh yang hanya bisa dikeluarkan oleh operator2 umroh gitu dan harus dalam grup. LA ini jugalah yang akan mengatur dari penjemputan di airport Jeddah, mutowif (pembimbing), sampai penginapan selama di mekkah dan madinah, serta mungkin ditambah ada city tour. Jadi demi kenyamanan ketika beribadah, pilihlah LA yang sesuai. Di grupku, 17-25 Januari 2017, ada 18 orang. Alhamdulillah kemarin dapat tawaran LA seharga USD $425 sudah termasuk visa, dengan hotel bintang empat.

Setelah menunggu 4 bulan sejak issued tiket MH, hari itu datang juga. Saya bersama rombongan (yang mayoritas juga belum pernah ketemu) berangkat ke Jeddah. Disana sudah menunggu agen LA yang juga orang Indonesia. Ternyata rombongan kami walau hanya 18 orang dijemput menggunakan bus gedhe nan bagus berkapasitas 45 orang. Dari Jeddah kami menuju madinah dulu. Hotel tempat kami menginap ternyata sangat sangat dekat dengan pintu utama masjid (pintu 22). Setelah 3 hari di madinah, kami menuju mekkah. Hotel di mekkah juga gak begitu jauh, tak sampai 300 meter dari pintu masjid. Selama di sana kami juga dapat city tour mengunjungi tempat yang biasa dikunjungi jamaah umroh regular.

Intinya, umroh yang kami lakukan tidak ada bedanya dengan umroh regular yang berbayar puluhan juta itu. Bedanya mungkin karena kami yang harus aktif membeli tiket pesawat, mencari rombongan biar pesawatnya sama, dan mencari LA dengan harga murah. Selain itu, semuanya sama dengan umroh regular. Jadi, siapa bilang bertamu ke rumah Allah di Mekkah dan Madinah itu mahal ? Yuk ah yang belum umroh berdoa semoga diberi rizki dan kesempatan untuk mengunjungi Baitullah…