BELAJAR MEMUPUK AMALAN RAHASIA



Seringkali kita bersedekah, berzakat, beribadah, atau melakukan amalan baik lainnya dengan niatan ingin dilihat oleh orang lain. Padahal ada sebuah hadist riyawat Muslim menyatakan “Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang takwa, kaya, lagipula suka merahasiakannya”. Artinya bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang senang berbuat baik dengan sembunyi-sembunyi, tanpa mengharap pujian dari orang lain.

Amal rahasia juga dapat menjadi ukuran keikhlasan seseorang. Sangat sulit sekali untuk menyembunyikan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Biasanya setelah melakukan kebaikan, kita sering mengungkit-ungkitnya. Atau ketika kepepet dan tidak punya alasan lain, kita sering mengumbar amalan-amalan baik yang telah kita perbuat.

Untuk hal ini sepertinya saya masih harus banyak belajar dengan teman saya. Dulu saya pernah punya teman, namanya @Aperiden Akbar, dipanggil Deden. Kami kenal sejak awal-awal masa pendidikan PCPM dulu. Banyak hal unik dari dia. Orangnya baik, pengertian, gampang berteman, dan rendah hati. Dia lah yang menguatkan hati saya ketika saya bersedih mendapatkan penempatan di Papua. Kami dulu bersama dengan 3 orang lainnya ditempatkan di Jayapura. Dibandingkan dengan 3 teman senasib sepenanggungan lainnya, Deden lah yang paling dekat dengan saya. Hobby kami sama, yaitu sama-sama senang bertualang ke daerah baru. Bedanya, dia workaholic sementara saya prinsipnya sebisa mungkin nggak dapet kerjaan banyak dan pulang tenggo.

Kalau sedang load kerjaan banyak, setiap hari Deden bisa pulang sampai jam 1 malam. Pulang naik motor. Sendirian. Di Papua. Padahal rumah kami di pucuk gunung dengan jalan pulang yang sepi dan relatif gelap. Mungkin karena sifat workaholicnya itu kami berempat jarang sekali pulang bareng. Selalu dia jadi yang terakhir.

Namun dimasa-masa dia sibuk di kantor, tetap saja setiap senin-kamis tidak pernah absen dari puasa sunah. Seringkali mengajak untuk sholat bila sudah hampir selesai waktu sholat kami masih berkutat di pekerjaan. Sering sekali dia “memanusiakan” pegawai lain bahkan di level cleaning service pun. Disaat kami memilih untuk makan siang bareng karyawan yang lain, dia sering beli beberapa nasi bungkus untuk dimakan bareng dengan cleaning service dan satpam. Ketika kami tidak pernah menyapa satpam, dia lah yang pertama kali menyapa ke siapa saja yang dia temui di kantor. Namun hanya sebatas itu saya tahu tentang kepribadiannya. Dia tidak pernah bercerita tentang kebaikan-kebaikan itu kecuali saya secara tidak sengaja melihatnya langsung atau mendengar dari teman lain.

Singkat cerita, pada suatu pagi di akhir Maret 2015, Deden mendapatkan kecelakaan lalu lintas ketika hendak pergi ke bandara. Waktu itu dia ngotot pergi ke bandara Sentani(Jarak 40km dari rumah) walaupun hanya menggunakan sepeda motor, hanya untuk menjemput seorang tamu dari Jakarta (yang secara jabatan mungkin lebih rendah dari kami). Ya, begitulah dia dalam menghormati seseorang. Namun ternyata Allah mempunyai rencana sendiri. Sebelum Deden bertemu dengan tamunya di Bandara Sentani, Allah memanggilnya. Deden jatuh dari motor di sebuah tikungan di pinggir Danau Sentani.

Sebagai seorang sahabat dekatnya, tentu saya sangat bersedih. Mungkin karna melihat kedekatan kami, Alhamdulullah bos mengizinkan saya untuk mengantar Jenazahnya sampai liang lahat di Surabaya. Dari situ saya melihat betapa banyak teman-teman masa kecil, SMP, SMA, dan teman kuliahnya yang mengantar sampai pemakaman terakhir. Saya menyimpulkan bahwa betapa baiknya kepribadian Deden sehingga banyak temannya merasa kehilangan.

Sepulang dari Surabaya, satu per satu saya mendengar banyak cerita dari teman-teman kantor tentang kebaikan-kebaikannya. Banyak sekali, tidak perlu saya sebut satu per satu. Namun salah satu yang paling membuat saya menangis adalah ternyata selama ini diantara kesibukannya, seringkali dia mengantarkan pulang seorang satpam outsourcing ke rumahnya naik motor. Hal ini karena satpam tersebut tidak bisa naik motor dan selalu pulang naik angkot. Padahal jarak kantor ke rumah satpam tersebut jauh, sekitar 25 km, dengan arah yang berlawanan dengan rumah kami. Cerita ini saya dapatkan secara langsung dari satpam tersebut setelah beberapa minggu Deden meninggal. Subhanallah. Kamu menang telak den! Kamu memang pintar sekali menyembunyikan amalan-amalan kebaikanmu !

Hari ini, 14 Februari 2017, seharusnya Deden berumur 27 tahun. Namun Allah ternyata lebih menyayangimu den. Walaupun aku hanya pernah menjadi temanmu selama 1 tahun, tapi ternyata itu cukup memberiku contoh bagaimana melakukan amalan-amalan kebaikan dengan ikhlas dan tersembunyi, sehingga suatu saat ketika Allah memanggil maka akan banyak orang merasa kehilangan. Semoga engkau tenang di alam sana dan Allah menerima segala amal ibadahmu. Amin.

Jayapura, 14 Feb 2017

*PS: Foto Alm Deden yang paling kiri

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon