MEMBAYANGKAN PAPUA TANPA FREEPORT (1)




Pertama kali mendengar ulah Freeport dengan pemerintah, saya mengucapkan Alhamdulillah. Kenapa malah bersyukur ? Bersyukur karena di kantor, per 1 Februari 2017, saya telah rotasi dari unit yang ngurusin asesmen ekonomi (PDRB, Inflasi, Indikator-indikator Pertumbuhan Ekonomi, dll) ke unit UMKM :D. Dalam setahun terakhir, pekerjaan saya di kantor memang tidak jauh dengan memantau dan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Papua. Tidak terbayangkan bagaimana saya harus membuat berbagai skenario A, Skenario B, Skenario C, Skenario D, dst dengan berbagai asumsi yang berbeda dalam keadaan seperti sekarang ini, seperti bagaimana pertumbuhan Papua jika Freeport Indonesia (PTFI) beroperasi normal? atau bagaimana jika PTFI hanya ekspor sesuai dengan kapasitas smelter eksisting yg di gresik itu ? Bagaimana kalau PTFI tidak mendapatkan izin ekspor sampai tengah tahun ?, bagaimana bagaimana…. Namun dari semua asumsi yang pernah kami proyeksikan, sama sekali kami tidak terpikirkan untuk memproyeksikan bagaimana kalau PTFI berhenti beroperasi… Why ? Coz itu sebuah nightmare bagi Papua. Semua indikator-indikator perekonomian yang telah dibangun bertahun-tahun akan langsung anjlok.

Kenapa permasalahan Freeport membuat pekerjaan memproyeksikan ekonomi Papua itu sangat memusingkan ? Mari kita lihat. Beberapa hari yang lalu mr. Jonan bilang kalau Freeport hanya berkontribusi 8 triliun per tahun ke pemerintah. Benarkah begitu ? Kalau hanya menghitung kontribusi pajak mungkin ada benarnya. Tapi kalau dilihat dari sumbangan ke perekonomian, tunggu sebentar. Secara nasional, sumbangan freeport ke PDB Indonesia hanya 0,51% (Harga Berlaku, 2016). Bila dilihat sumbangan ke PDRB Provinsi Papua, sumbangan freeport sebesar 35,4% (Harga Berlaku, 2016). Kalau dihitung pakai angka konstan lebih tinggi lagi, mencapai 42%. Bahkan bila diperhatikan dari PDRB Kabupaten Mimika (tempat Freeport berada), sumbangannya mencapai 95%. Dengan kontribusi sebesar itu terhadap perekonomian Papua, wajar lah kalau secara statistik pertumbuhan ekonomi Papua seperti roller coster, kalau naik bisa signifikan, kalau turun bisa sangat tajam. Contohnya, pada triwulan II 2016, ekonomi Papua terkontraksi (negatif) 5,45%. Biasanya kalau terjadi perlambatan ekonomi saja (misal dari tumbuh 6% ke 5%) para pengamat sudah komen banyak, apalagi ini sampai negatif 5,45%. Namun di triwulan III dan IV 2016, partumbuhan ekonomi Papua bisa tumbuh 20,65% dan 21,41%. Bila mengeluarkan tambang dari perhitungan PDRB Papua, ekonomi papua tetap tumbuh stabil di angka 4-6% pertahun. Satu-satunya yang bisa disalahkan dalam perhitungan ekonomi Papua adalah terlalu besarnya dominasi Freeport. Bila ada permasalahan izin ekspor atau operasional Freeport yang terganggu, langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Sulitnya memproyeksikan ekonomi Papua seperti menebak skor pertandingan antara PSG vs Barcelona. Di atas kertas, sepertinya Barcelona akan menang, namun justru yang terjadi sebaliknya, PSG menggunduli barca 4 – 0. Hal yang sama terjadi sewaktu saya pertama di unit asesmen ekonomi tahun lalu. Pada awal tahun, kami optimis triwulan I ekonomi papua dapat tumbuh 9% karena rilis target produksi PTFI yang meningkat signifikan. Namun realisasinya ternyata malah terjadi kontraksi, ekonomi Papua minus 0,48% karena adanya perbaikan mesin produksi. Di triwulan II saya beranggapan PTFI akan meningkatkan produksinya signifikan, jadi saya set proyeksi jadi tumbuh 3%. Lah kok BPS mengeluarkan rilis pertumbuhan ekonomi malah terkontraksi minus 5,45%. Hhaha. Hancurlah reputasi saya sebagai ekonom Papua. Wkwkwk. Sama sekali tidak ada proxy untuk menerka bagaimana Freeport akan berproduksi. Berbeda dengan daerah lain yang mungkin banyak leading indicator yang bisa dipakai untuk membuat proyeksi, satu-satunya guidance yang bisa dilihat untuk menerawang ekonomi Papua adalah rilis triwulanan FCX (Freeport McMoran, headquarter PTFI). Bagian tersulitnya adalah bagaimana menjelaskan hal ini kepada kantor pusat. Hhaha. Untung saja proyeksi akhir tahun saya hanya meleset sekitar 0,3% dari rilis yang dikeluarkan BPS sehingga saya dapat pensiun dari unit asesmen dengan sedikit lega. Hhehehe.

____ TO BE CONTINUED ___

Jogja, 25 Feb 2017

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon