2 TAHUN LALU....


Dalam 3 bulan terakhir alhamdulillah saya diberi kesempatan 5x untuk pulang ke Jogja, baik dalam rangka tugas kantor atau karna tugas pribadi. Biasanya pulang ke Jogja pas ada dinas ke Jakarta. Namun kali ini saya pulang ke Jogja pakai tiket sendiri, dan alhamdulillah dapat tiket dengan hanya membayar 50ribu rupiah saja. Bukan tiket error, tapi karena redeem point. Hanya 10.000 poin saja, ditambah uang 50ribu rupiah. Thanks for FlyingBlue..

Karena kalau redeem tiket langsung ke Jogja membutuhkan poin 2x lipat, saya pilih hanya sampai surabaya saja, lalu lanjut naik bus malam 8 jam. Capek ? tentu saja, tapi demi menghemat pengeluaran ya dengan senang hati saya jalani.

Sambil menunggu di lounge, saya jadi ingat, hari ini, 2 tahun lalu, 24 Maret 2015 adalah hari dimana teman seperjuangan saya, Aperiden Akbar, a.k.a Deden, meninggal dunia karena kecelakaan. Saya pernah menulis betapa luar biasanya pribadi Alm. Deden ini satu bulan yang lalu, silakan buka timeline FB saya jika belum membacanya. Namun saya belum pernah menceritakan kronologis lengkapnya kecuali kepada beberapa teman dekat. Bila membaca di surat kematian yang dikeluarkan polisi, Alm. Deden mengalami kecelakaan tunggal. Bila membaca keterangan official yang dikeluarkan oleh DSDM BI, beliau meninggal dalam tugas kedinasan. Tapi mungkin saya yang paling tahu behind the scene pra dan pasca kejadian tersebut. Cerita ini saya tulis agar dapat menjadi pengingat bagi saya bahwa lahir, mati, jodoh, dan rezeki itu di tangan Allah azza wa jalla. Saya tidak akan pernah melupakan hari itu.
~~~~~~~~~
Sore itu saya masih berkutat pada pekerjaan. Adanya tugas kantor untuk berangkat ke Wamena keesokan harinya dalam rangka kajian pembukaan Kas Titipan yang membuat saya bersemangat. Itulah kesempatan pertama saya untuk mengunjungi Wamena, kota eksotis di pegunungan tengah. Kata orang, belum lah sah mengklaim pernah mengunjungi Papua kalau belum pergi ke Wamena. Di kota ini lah setiap tahun diselenggarakan festival internasional Lembah Baliyem, yang menarik banyak sekali wisatawan terutama wisatawan mancanegara. Sayangnya saya ke Wamena bukan pas waktu festival lembah baliyem berlangsung. Karena mendadak, saya harus mempersiapkan semua hal, sendirian. Saat itu baru 4 bulan diangkat pegawai sehingga semua masih terasa baru bagi saya dan belum bisa bekerja cepat.

Siang sebelumnya, Deden bercerita kalau mau ke bandara keesokan harinya untuk menjemput konsultan UMKM. Namun karena semua driver kantor sudah dipakai kegiatan lain, Deden tidak mendapatkan mobil dan driver. Sudah diingkatkan oleh pimpinan bahwa tidak perlu dijemput karena sudah ada penjemputan dari pihak hotel, namun seperti biasa, Deden ngeyel. Akhirnya Deden disepakati akan ikut jemput ke bandara dengan numpang mobil yang akan mengantar saya ke bandara.

Walaupun masih disibukkan dengan persiapan dinas, saya punya ide untuk nonton bioskop. Kalau tidak salah filmnya adalah Insurgent. Saya hubungi 4 kawan lainnya. Mereka mau. Tapi karena ternyata sampai menjelang maghrib pekerjaan belum selesai, saya bilang ke yang lain kalau malam itu batal nonton. Yang lain setuju karna kerjaan jg banyak yg belum selesai. Namun Deden, yang biasanya kerja sampai larut malam, ngotot untuk tetap nonton malam itu dan menghasut yang lain. Saya menolak dengan alasan besok saya akan dinas ke Wamena flight pagi jam 7 dimana harus berangkat dari rumah maksimal jam 5.30. Namun akhirnya dengan hasutan Deden kami berlima jadi nonton film juga tapi ambil jam tayang paling malam, jam 21.30. Sebelum nonton, Deden mengajak kami makan malam dulu di Solaria. Karena pekerjaan belum selesai, saya skip makan malam dan janjian langsung ketemu di dalam bioskop. Malam itu kami baru selesai nonton film pukul 23.30 dan langsung pulang ke rumah karena tiga orang diantara kami harus pergi ke bandara pukul 05.30.
~~~~~~
Alarm berbunyi pukul 5.00. Saya mau pergi ke masjid tapi sudah kesiangan. Biasanya, saya membangunkan rekan bila mau pergi dinas pagi hari untuk memastikan dia sudah bangun. Maklum, sebagai teman seperjuangan yang sama-sama masih single, biasanya tidur malam bangun siang. Tapi entah kenapa pagi itu saya tidak membangunkan Deden, karena dia biasanya bangun pagi agar subuhnya tidak kesiangan. Selesai subuh dan mandi pukul 5.30, driver kantor sudah membunyikan klaksonnya di depan rumah. Pagi itu saya berangkat dinas bersama dengan Nadhil yang hendak ke Makassar, Mas Yudi ke Jakarta, dan juga Deden yang mau jemput tamunya.
Saya ketok rumah Deden untuk mengajak segera masuk ke mobil karena waktu sudah mepet. Diketok beberapa kali baru dia keluar dengan muka kucel, “Riel, kalian duluan saja, aku baru bangun ini, belum sholat dan belum mandi”. Deden memang sering panggil saya dengan nama Ariel, mungkin karena dulu pernah saya ceritain sewaktu kecil ada orang yg bilang aku mirip ariel peterpan. Wkwkwkwk. Saya balas jawaban deden “Nggak papa den, kita tungguin kok, tapi cepet ya mandi dan solatnya”. “Enggak riel, kalian duluan saja entar telat pesawatnya, aku gampang lah nanti”.

Akhirnya saya dan nadhil ke rumah sebelah dulu untuk jemput mas Yudi. Setelah itu balik lagi ke rumah Deden. Saya panggil dan ketok lagi rumahnya, tapi dia tidak balas. Saya masuk, Deden sedang mandi. “Den, ayo aku tunggu yoo, santai saja bro ni masih jam 5.45”. Deden bales “Enggaaak riel, kalian duluan, serius, aku marah lo kalo kalian nunggu, nanti kalian telat Cuma karna nunggu aku, aku nanti gampang lah ke bandaranya”. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat duluan.

Sampai di bandara kami memang sudah last minutes, pintu check in sudah mau ditutup. Setelah menunggu di ruang keberangkatan selama beberapa menit, panggilan boarding terdengar. Saya yang paling pertama naik pesawat menuju ke Wamena, sementara nadhil dan mas yudi masih nunggu pesawat ke biak. Pintu pesawat sudah hampir ditutup dan saya pegang HP untuk di airplane-mode kan. Hampir jari saya tekan tombol off ketika tiba-tiba mas Sandy protokol telepon saya, “Mas Enggar posisi dimana ?”. Saya jawab “Saya sudah di pesawat mas, ini dah mau pushback pesawatnya”. Mas sandy langsung bilang “Mas, jangan berangkat, langsung balik ke kantor mas, hari ini semua dinas dibatalkan”. “Kenapa mas?”tanya saya yang masih belum tahu alasannya. “Deden kecelakaan mas tadi menuju ke bandara”. Saya belum paham, dan dikira Cuma kecelakaan jatuh biasa. Dengan terpaksa saya balik kanan dan bilang ke mugari kalau nggak jadi terbang.

Sampai di pintu kedatangan, saya disambut mas Yudi dan nadhil dengan wajah muram. Saya bertanya ke nadhil “Deden kenapa ? Kecelakaan dimana ? Nggak apa-apa kan?”. Mas Sandy tanpa ditanyapun menjawab “Mas, deden meninggal”. Saya masih menganggap itu guyon “Meninggal gimana ? kan Cuma kecelakaan kecil, to?”. “Iya mas, Deden tadi jatuh dari motor pas mau ke bandara”. Pikiranku melayang entah kemana, bingung, dan dengan sendirinya air mata ini keluar dengan deras. Bagaimana bisa tadi, 1 jam sebelumnya, saya baru saja ngomong dan bertemu dengan deden, tiba-tiba mendenger Deden meninggalkan kami selamanya. Dengan setengah tidak percaya saya buka HP ternyata di grup angkatan PCPM sudah ramai info menyebar. Saya ditelepon mas bedur ketua angkatan, semakin menjadi-jadi lah tangis saya. Saya, nadhil dan mas yudi langsung menuju ke rumah sakit tempat almarhum Deden coba diselamatkan. Sesampainya beberapa teman kantor sudah berada di sana. Kami diperlihatkan jenazah beliau. Ahh benar, akhirnya saya percaya kalau teman seperjuangan di Papua itu, teman yang selalu menghibur saya ketika bersedih karena ditempatkan di Papua, teman yang selalu semangat diajak jalan-jalan keliling Papua itu telah tiada.

Mungkin kalau pagi itu saya lebih bersabar menungu Deden selesai mandi, ceritanya akan lain. Mungkin Deden masih dengan semangat menemaniku jalan-jalan keliling Papua kalau saja saya lebih keras kepala tidak mengiyakan permintaannya untuk berangkat duluan. Terkadang saya menyalahkan diri sendiri kenapa waktu itu tidak membangunkan Deden dulu ketika bangun tidur pagi itu. Namun, pada akhirnya saya harus percaya pada takdir Allah, karena kematian tidak akan datang lebih cepat atau lebih lambat, karena telah ditulis sebelum kita dilahirkan. Selamat jalan kawanku...

Jayapura, 24 Maret 2017

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "2 TAHUN LALU...."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel