SAYONARA DI PAPUA NEW GUINEA

Hanya ada 5 provinsi di Indonesia yang berbatasan darat langsung dengan negara tetangga, Kalbar, Kaltim, Kaltara, NTT, dan Papua. Kebetulan Jayapura berada sangat dekat dengan perbatasan, hanya 1,5 jam naik mobil dari kota. Dalam 3 tahun di Jayapura, setidaknya saya sudah 5x ke batas di Skow. Kebanyakan tugas kantor, selain juga karna mengantar teman yang penasaran menginjakkan kaki di Papua New Guinea (PNG).

Menyambut minggu terakhir di Jayapura, saya pengen untuk pergi masuk ke PNG. Selama ini saya secara de jure sudah pernah pergi ke PNG, yaitu masuk beberapa langkah ke tanah perbatasan milik PNG. Namun secara de facto belum, karena belum ke kota terdekat. Istilahnya baru memegang kulit duren, belum belah durennya.




Di PNG, terdapat kota bernama Vanimo yang berjarak 1,5 jam dari batas Skow. Ketika rencana saya untuk pergi sana saya sampaikan ke teman-teman di kantor, ternyata mereka juga pengen ikutan. Saya tahu untuk pergi ke PNG kemungkinan besar adalah Once in a lifetime. Kalau tidak sekarang, kapan lagi.





Akhirnya sabtu 17 Juni kemarin saya bersama dengan 13 teman pergi ke Vanimo. Harus berbanyak biar sharing biayanya murah karena sesampai di wilayah PNG harus sewa minibus seharga 500 kina untuk pulang pergi. FYI 1 kina PNG harganya 4.300-an rupiah.



Untuk dapat masuk ke wilayah PNG seharusnya kita urus visa dulu ke konjen PNG di Jayapura yang berlokasi di Entrop. Gratis. Tapi ya harus ngurus. Sementara kami baru punya rencana pergi ke PNG di hari jumatnya untuk berangkat sabtu. Karena kami punya kenalan di badan perbatasan, kami tidak perlu ngurus visa. Bahkan tidak perlu paspor karena perbatasan skow masih menganut 2 sistem, sistem paspor dan sistem tradisional. Bila menggunakan paspor, untuk masuk PNG ya harus punya visa valid, nantinya akan dapat stempel seperti kalau kita ke luar negeri biasanya. Sementara bila pakai cara tradisional kita hanya diberikan semacam surat jalan. Aku lupa namanya, SUPL atau SPLU atau apa lah itu. Di batas Skow, ada pasar perbatasan yang buka pada hari senin, kamis, dan sabtu. 99% pengunjung pasar adalah warga negara PNG yang beli, bahkan kulakan, barang-barang produk Indonesia. Pedagangnya orang Indonesia. Warga PNG tersebut biasanya masuk hanya berbekal kertas saja yang diotorisasi imigrasi PNG, dan diperbolehkan masuk ke wilayah Indonesia khususnya di pasar itu saja. Masuk Jayapura juga sepertinya bisa.



Setelah dapat surat jalan dari imigrasi, kami masuk ke wilayah PNG tanpa paspor. Di situ ada terminal mini, dimana banyak minibus kapasitas 15 orang (setipe mobil2 travel di Indonesia) yang ngetem menunggu penumpang. Disini kita bisa pilih, mau naik ketengan dengan bayar 10 kina one way, atau sewa semobil seharga 250 kina oneway. Karena pas ber15 (ditambah guide kenalan dari kantor), kami berangkat.

Berbeda dengan jalan dari Jayapura ke batas skow yang lebar dan mulus, jalan ke Vanimo lebih kecil dengan aspal setengah hot mixed. Kami melewati beberapa sungai kecil yang kebanyakan jembatannya hanya berupa jembatan darurat. Bahkan ada beberapa sungai yang tidak ada jempatannya, sehingga mobil harus melewati arus sungai.


 

Dikanan-kiri jalan, saya juga melihat lapak khas papua, yaitu penjual pinang. Sambil lihat sekitar saya berfikir, ini negara PNG jauh lebih miskin dari Indonesia, atau Provinsi Papua pada khuusnya. Sumber utama pendapatan negara PNG adalah minyak dan emas, yang saat ini sudah mulai menurun. Sektor lain ? Tak ada yang bisa diandalkan. Saya berandai-andai bagaimana jika Papua merdeka, apa bisa makmur ? Mungkin kemakmuran PNG akan bisa jadi cerminan Papua bila memutuskan pisah dari Indonesia.


Perlu waktu 1 jam untuk sampai ke Vanimo. Menjelang Vanimo kami melewati perusahaan kayu dengan kayu gelondongan yang besar sekali. Kayu-kayu ini yang akan diekspor ke luar, mentah, tanpa di olah. Banyak orang indonesia yang bekerja di perusahaan2 kayu di PNG.
Kota Vanimo jauuh lebih kecil dibandingkan yang ada di bayangan saya sebelumnya. Kotanya tidak ada apa-apanya bila dibanding Jayapura. Sangat kecil. Terlihat infrastruktur kota yang sejalan dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.



Kami sebenarnya sudah tahu kalau di Vanimo tidak ada tempat wisata yang bagus.Kami kesini hanya mengobati rasa penasaran saja, dan untuk pengalaman once in a lifetime. Tujuan wisata pertama adalah ke Supermarket. Sayangnya kami datang hari sabtu, dimana seluruh supermarket di PNG hanya buka setengah hari di hari sabtu dan minggu. Sementara kami sampai Vanimo jam 12.00 siang. Untungnya masih ada 1 supermarket yang masih buka. Kami segera masuk.
Jangan bayangkan supermarket disini mirip dengan hypermart, atau indomaret. Supermarket disini lebih mirip gedung gudang. Pertama masuk langsung melihat banyak sekali sekuriti. Wajar, tingkat kriminalitas PNG masih relatif tinggi dengan jaminan keamanan yang rendah. Kepemilikan senjata api sangat gampang, bahkan banyak senjata ilegal bertebaran. Sementara pemilik supermarket kebanyakan adalah orang Malaysia atau China. Ada sih orang indonesia, salah satunya kenalan saya Pak Husni yang punya supermarket di Vanimo.


Barang-barang yang dijual di supermarket kebanyakan adalah impor dari malaysia, indonesia, china, sedikit australia, dan lebih sedikit lagi dari produk nasional mereka sendiri. Harganya? Mahal bos. Harga indomie 1 kina, which is 4.300 rupiah. Saya lihat harga-harga lainnya juga relatif lebih tinggi dibandingkan harga di Jayapura. Padahal harga jayapura masih lebih tinggi dibandingkan harga di Jawa. Wajar saja kalau pasar perbatasan di Skow ramai pembeli dari PNG, karna harga murah.
Selesai melihat-lihat supermarket, kami pergi ke pantai. Pantainya tidak begitu bagus, kotor. Padahal katanya ini pantai andalan Vanimo. Masih lebih bagus pantai2 di Jayapura. Kami hanya berfoto sekitar 15 menit di situ. Lalu lanjut ke sebuah bukit yang tidak begitu tinggi untuk melihat view kota Vanimo keseluruhan. Betul dugaanku, Vanimo sangat keciiil. Selesai poto-poto, kami kira masih ada tempat wisata lain, ternyata sudah habis. Ya mau tidak mau kami pulang. Total kami berada di Vanimo hanya 1 jam saja.





Kesimpulan akhir, kalau bertujuan untuk berwisata dan berharap banyak spot wisata yang ditemukan di Vanimo, maka kamu akan kecewa. Tapi kalau tujuannya hanya untuk punya pengalaman sekali seumur hidup pernah pergi ke PNG, tidak ada salahnya mencoba berkunjung ke Vanimo, kota kecil di dekat perbatasan RI-PNG.


Jayapura, 22 Juni 2017
h-2 sebelum pindah

FROM GARUDA PLATINUM TO KAI PLATINUM

Tak terasa 3 tahun telah berlalu. Dulu saya sama sekali tidak menyangka akan sebetah ini tinggal di Jayapura. Kalau teman-teman membaca tulisanku di FB dalam beberapa bulan ini, saya selalu menyiratkan keinginan untuk pindah. Sekarang keinginan itu sudah dikabulkan, saya mendapat SK mutasi. Tapi sungguh saya merasa terlalu cepat meninggalkan Papua. Dari 4 orang PCPM seangkatan, saya yang harus mengangkat kaki paling cepat dari Jayapura. Sementara yang lain masih dapat kesempatan sampai Oktober.
Setidaknya ada 3 alasan kenapa saya harus bersedih. Pertama, berpisah dengan teman-teman di kantor yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Mungkin perasaan sebagai pendatang yang jauh dari rumah membuat rasa kekeluargaan di kantor sangat erat. Saya paham cara kerja si A, tahu kekurangan si B, mengerti kemauan si C, dst.
Alasan kedua, karena saya pindah ke Tegal yang tidak mempunyai bandara. Sebagai penyuka aviation dan pilot wannabe, bekerja di Jayapura merupakan sebuah anugerah tersendiri. Tugas yang mengharuskan pergi ke kota lain baik di Papua maupun luar Papua menyebabkan saya sering bepergian menggunakan pesawat. Kemanapun pakai pesawat. Hanya 3 kabupaten yang bisa dijangkau menggunakan mobil dari Jayapura. Sisanya tentu saja pesawat.

Seringnya naik pesawat membuat saya mendapatkan miles lumayan banyak. Alhamdulillah 3 tahun ini, garuda miles saya bisalah untuk redeem poin untuk liburan ke Jepang, Berdua, pakai First Class. Saat ini belum tak pake, karna nggak seru naik first class hanya sendirian hhe


 

Sayangnya, perolehan miles ku sepertinya akan berhenti disini. Tegal tidak punya bandara. Bandara terdekat, Semarang, harus ditempuh darat dulu. 5 jam naik bus atau 2,5 jam naik kereta. Kalaupun saya nantinya harus melakukan perjalanan dinas atau mudik, semua harus naik darat. Ke Jakarta ? naik kereta pun hanya 6 jam. Ke Jogja ? Tak ada kereta, hanya bisa naik bus. Sebagai KPw kelas dua, BI Tegal tidak punya wilayah kerja yang seluas Papua. Nanti saya tugas luar kota kemana-mana pasti naiknya kereta. Sepertinya tahun ini saya tidak bisa mempertahankan gelar sebagai Elite Plus member.

Alasan terakhir kenapa saya harus bersedih adalah, karena gaji turun. Huhuhu. Walaupun apa-apa di Jayapura mahal, masih lumayan terkompensasi dengan tunjangan kota dan seringnya tugas luar kota. Namun dengan pindah ke Tegal, gaji saya pasti turun, dan sepertinya turunnya lumayan signifikan.

Tapi dari semua kesedihan itu saya patut bersyukur. Walaupun masih 9 jam perjalanan naik bus ke Jogja, bagaimanapun Tegal sudah berada di Jawa. Mohon maaf kepada para penduduk pulau Jawa, saya numpang untuk menyesaki pulau Jawa yang sudah sangat padat. Kemanapun nanti akan melangkahkan kaki, saya cinta Jawa karena saya orang jawa, berbahasa jawa, besar di jawa, keluarga jawa, berbudaya jawa, berlogat jawa, dan maunya beristri orang jawa :D.

Jayapura, 21 Juni 2017
~menghitung hari kepindahan~

SELAMAT JALAN PAPUA, SAMPAI JUMPA DI LAIN KESEMPATAN

Terimakasih atas kebersamaannya dalam 3 tahun terakhir ini. Sangat senang sekali diberi kesempatan menjadi bagian dari keluarga besar KPw BI Provinsi Papua. Dulu saya masuk Jayapura dengan tangisan, sekarang tidak menyangka keluar Papua juga dengan tangisan. Mohon maaf bila ada kawan yang pernah tersakiti atau tersinggung selama saya di Jayapura. Mohon doa restu untuk menempuh hidup baru di Tegal.

Aiiih, Jayapura memang akan indah pada waktunya....










DAN JAYAPURA ITU AKHIRNYA MENAMPAKKAN KEINDAHANNYA.....



Tidak terasa sudah 2 Tahun 10 Bulan saya telah tinggal di kota Jayapura. Walaupun di medsos sering mengeluh dan tersirat ingin pindah dari kota ini, sebenarnya saya enjoy disini. Awalnya saya memang merasa tidak ada yang spesial di Ibukota Provinsi Papua ini, namun dalam minggu-minggu ini baru saya sadari bahwa Jayapura, dan Papua sangat spesial di hati saya. Senja di Jayapura yang biasanya terlihat mendung, akhir-akhir ini terasa sangat indah luar biasa.

Banyak hal yang tidak saya sadari bahwa Papua adalah gift dari Tuhan. Waktu pertama datang saya sering mengeluh dan menanyakan nasib. Kenapa ditempatkan di Papua. Apa salah saya. Tapi ternyata memang Allah menyimpan kado buat saya. Petaka di awal, gembira di akhir. Seiring berjalannya waktu saya merasa bersyukur ditempatkan disini. Setidaknya karena kerja di Jayapura, saya pernah ke sebagian besar daerah di Papua, walaupun belum pernah ke daerah pegunungan kecuali Wamena dan Yahukimo. Mungkin saya tidak akan pernah lagi mendapat kesempatan untuk berkunjung kesana lagi bila bukan karena tugas kantor.

Semua yang berawal pasti akan ada akhirnya. Saya telah mengalami awal di kota yang pernah bernama Sukarnopura ini. Dan saya harus menerima kenyataan bahwa masa berakhir telah tiba. Rumor-rumor di grup angkatan bahwa akan ada mutasi besar-besaran akhirnya terwujud.

Dua hari yang lalu kepastian itu datang kepadaku. Aku dapat SK mutasi. Ya, harus hijrah dari Jayapura. Menuju tempat tujuan baru. Menuju hidup baru. Secepat-cepatnya, karena SK saya bilang bahwa harus pindah paling cepat 1 Juni, hari ini, dan paling lambat awal Juli. Arrhhgg...

Akhirnya perkataan orang-orang dapat saya buktikan, bahwa Jayapura itu akan indah pada waktunya. Tiba-tiba saya merasa sedih. Walaupun memang saya pengen pindah,tapi saya harus mengakui bahwa sebagian hati ini masih tertinggal di Jayapura......





Jayapura, 1 Juni 2017