Kamis, 22 Juni 2017

SAYONARA DI PAPUA NEW GUINEA

Hanya ada 5 provinsi di Indonesia yang berbatasan darat langsung dengan negara tetangga, Kalbar, Kaltim, Kaltara, NTT, dan Papua. Kebetulan Jayapura berada sangat dekat dengan perbatasan, hanya 1,5 jam naik mobil dari kota. Dalam 3 tahun di Jayapura, setidaknya saya sudah 5x ke batas di Skow. Kebanyakan tugas kantor, selain juga karna mengantar teman yang penasaran menginjakkan kaki di Papua New Guinea (PNG).

Menyambut minggu terakhir di Jayapura, saya pengen untuk pergi masuk ke PNG. Selama ini saya secara de jure sudah pernah pergi ke PNG, yaitu masuk beberapa langkah ke tanah perbatasan milik PNG. Namun secara de facto belum, karena belum ke kota terdekat. Istilahnya baru memegang kulit duren, belum belah durennya.




Di PNG, terdapat kota bernama Vanimo yang berjarak 1,5 jam dari batas Skow. Ketika rencana saya untuk pergi sana saya sampaikan ke teman-teman di kantor, ternyata mereka juga pengen ikutan. Saya tahu untuk pergi ke PNG kemungkinan besar adalah Once in a lifetime. Kalau tidak sekarang, kapan lagi.





Akhirnya sabtu 17 Juni kemarin saya bersama dengan 13 teman pergi ke Vanimo. Harus berbanyak biar sharing biayanya murah karena sesampai di wilayah PNG harus sewa minibus seharga 500 kina untuk pulang pergi. FYI 1 kina PNG harganya 4.300-an rupiah.



Untuk dapat masuk ke wilayah PNG seharusnya kita urus visa dulu ke konjen PNG di Jayapura yang berlokasi di Entrop. Gratis. Tapi ya harus ngurus. Sementara kami baru punya rencana pergi ke PNG di hari jumatnya untuk berangkat sabtu. Karena kami punya kenalan di badan perbatasan, kami tidak perlu ngurus visa. Bahkan tidak perlu paspor karena perbatasan skow masih menganut 2 sistem, sistem paspor dan sistem tradisional. Bila menggunakan paspor, untuk masuk PNG ya harus punya visa valid, nantinya akan dapat stempel seperti kalau kita ke luar negeri biasanya. Sementara bila pakai cara tradisional kita hanya diberikan semacam surat jalan. Aku lupa namanya, SUPL atau SPLU atau apa lah itu. Di batas Skow, ada pasar perbatasan yang buka pada hari senin, kamis, dan sabtu. 99% pengunjung pasar adalah warga negara PNG yang beli, bahkan kulakan, barang-barang produk Indonesia. Pedagangnya orang Indonesia. Warga PNG tersebut biasanya masuk hanya berbekal kertas saja yang diotorisasi imigrasi PNG, dan diperbolehkan masuk ke wilayah Indonesia khususnya di pasar itu saja. Masuk Jayapura juga sepertinya bisa.



Setelah dapat surat jalan dari imigrasi, kami masuk ke wilayah PNG tanpa paspor. Di situ ada terminal mini, dimana banyak minibus kapasitas 15 orang (setipe mobil2 travel di Indonesia) yang ngetem menunggu penumpang. Disini kita bisa pilih, mau naik ketengan dengan bayar 10 kina one way, atau sewa semobil seharga 250 kina oneway. Karena pas ber15 (ditambah guide kenalan dari kantor), kami berangkat.

Berbeda dengan jalan dari Jayapura ke batas skow yang lebar dan mulus, jalan ke Vanimo lebih kecil dengan aspal setengah hot mixed. Kami melewati beberapa sungai kecil yang kebanyakan jembatannya hanya berupa jembatan darurat. Bahkan ada beberapa sungai yang tidak ada jempatannya, sehingga mobil harus melewati arus sungai.


 

Dikanan-kiri jalan, saya juga melihat lapak khas papua, yaitu penjual pinang. Sambil lihat sekitar saya berfikir, ini negara PNG jauh lebih miskin dari Indonesia, atau Provinsi Papua pada khuusnya. Sumber utama pendapatan negara PNG adalah minyak dan emas, yang saat ini sudah mulai menurun. Sektor lain ? Tak ada yang bisa diandalkan. Saya berandai-andai bagaimana jika Papua merdeka, apa bisa makmur ? Mungkin kemakmuran PNG akan bisa jadi cerminan Papua bila memutuskan pisah dari Indonesia.


Perlu waktu 1 jam untuk sampai ke Vanimo. Menjelang Vanimo kami melewati perusahaan kayu dengan kayu gelondongan yang besar sekali. Kayu-kayu ini yang akan diekspor ke luar, mentah, tanpa di olah. Banyak orang indonesia yang bekerja di perusahaan2 kayu di PNG.
Kota Vanimo jauuh lebih kecil dibandingkan yang ada di bayangan saya sebelumnya. Kotanya tidak ada apa-apanya bila dibanding Jayapura. Sangat kecil. Terlihat infrastruktur kota yang sejalan dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.



Kami sebenarnya sudah tahu kalau di Vanimo tidak ada tempat wisata yang bagus.Kami kesini hanya mengobati rasa penasaran saja, dan untuk pengalaman once in a lifetime. Tujuan wisata pertama adalah ke Supermarket. Sayangnya kami datang hari sabtu, dimana seluruh supermarket di PNG hanya buka setengah hari di hari sabtu dan minggu. Sementara kami sampai Vanimo jam 12.00 siang. Untungnya masih ada 1 supermarket yang masih buka. Kami segera masuk.
Jangan bayangkan supermarket disini mirip dengan hypermart, atau indomaret. Supermarket disini lebih mirip gedung gudang. Pertama masuk langsung melihat banyak sekali sekuriti. Wajar, tingkat kriminalitas PNG masih relatif tinggi dengan jaminan keamanan yang rendah. Kepemilikan senjata api sangat gampang, bahkan banyak senjata ilegal bertebaran. Sementara pemilik supermarket kebanyakan adalah orang Malaysia atau China. Ada sih orang indonesia, salah satunya kenalan saya Pak Husni yang punya supermarket di Vanimo.


Barang-barang yang dijual di supermarket kebanyakan adalah impor dari malaysia, indonesia, china, sedikit australia, dan lebih sedikit lagi dari produk nasional mereka sendiri. Harganya? Mahal bos. Harga indomie 1 kina, which is 4.300 rupiah. Saya lihat harga-harga lainnya juga relatif lebih tinggi dibandingkan harga di Jayapura. Padahal harga jayapura masih lebih tinggi dibandingkan harga di Jawa. Wajar saja kalau pasar perbatasan di Skow ramai pembeli dari PNG, karna harga murah.
Selesai melihat-lihat supermarket, kami pergi ke pantai. Pantainya tidak begitu bagus, kotor. Padahal katanya ini pantai andalan Vanimo. Masih lebih bagus pantai2 di Jayapura. Kami hanya berfoto sekitar 15 menit di situ. Lalu lanjut ke sebuah bukit yang tidak begitu tinggi untuk melihat view kota Vanimo keseluruhan. Betul dugaanku, Vanimo sangat keciiil. Selesai poto-poto, kami kira masih ada tempat wisata lain, ternyata sudah habis. Ya mau tidak mau kami pulang. Total kami berada di Vanimo hanya 1 jam saja.





Kesimpulan akhir, kalau bertujuan untuk berwisata dan berharap banyak spot wisata yang ditemukan di Vanimo, maka kamu akan kecewa. Tapi kalau tujuannya hanya untuk punya pengalaman sekali seumur hidup pernah pergi ke PNG, tidak ada salahnya mencoba berkunjung ke Vanimo, kota kecil di dekat perbatasan RI-PNG.


Jayapura, 22 Juni 2017
h-2 sebelum pindah


EmoticonEmoticon